Freeport wins Indonesia ministry nod to resume concentrate sale

Photo by Freeport

JAKARTA (TheInsiderStories) Indonesia ’s Energy and Mineral Resources Ministry issued a recommendation for Freeport-McMoRan Inc. to renew its export permit that will pave the way for the company to resume shipments from Grasberg, one of the world’s largest copper and gold mines quoted by Bloomberg Newswire.

The recommendation was issued on Tuesday, Bambang Gatot Ariyono, director-general of coal and minerals at the ministry, said without giving further details. The Trade Ministry, which will issue the export license, has yet to receive the recommendation, Didi Sumedi, export director for mining and industry products, said in a text message on Tuesday.

The endorsement bolsters the Phoenix-based producer as it struggles with a collapse in metals prices and after Moody’s Investors Service cut its credit rating four levels to junk last month. The company’s shares have sunk 72 percent in the past year. The Grasberg mine in Papua is the world’s largest in terms of copper capacity, according to the International Copper Study Group. The company says it has the single biggest gold reserves.

PT Freeport Indonesia, the local unit, expects to get the export permit soon, spokesman Riza Pratama said in a text message. The company had to seek the renewal of the permit, which expired Jan. 28, to export 1 million metric tons of concentrates over the next six months.

The producer has said the mining and milling operations continued normally during the talks for a fresh permit. The country is seeking to renegotiate mining contracts with foreign companies, arguing that too much mineral wealth is disappearing overseas. The government has banned the ore exports to encourage domestic processing.

Freeport, which mined $1.7 billion of copper and $1.4 billion of gold in 2015 from Grasberg, also wants to extend its contract to operate in Indonesia. That expires in 2021, and the company has agreed to sell shares as part of the negotiation. An Indonesian official said last month that Freeport had offered the government an 11 percent stake in its local unit for $1.7 billion. Freeport has confirmed an offer was made though it didn’t give details.

Freeport has agreed to pay 5 percent tax on exports of concentrates, Ariyono said in the parliament on Tuesday. The government and Freeport are still discussing a $530 million deposit for a new smelter, he said.

Operations at Grasberg, in the mountains of Papua, have been plagued by labor strife in recent years. Workers seeking higher wages took strike action in 2011 and the mine was closed for months following a tunnel collapse in 2013 that killed 28 people. Exports were disrupted in 2014 after a dispute with the Indonesian government over export duties.

 

The post Freeport wins Indonesia ministry nod to resume concentrate sale appeared first on The Insider Stories.

Source: The Insiderstories
Freeport wins Indonesia ministry nod to resume concentrate sale

Suka(0)Ndak Suka(0)

10-2-16

Salam Winner,

IHSG ditutup pada level 4

Berikut Tabel Market Detailnya:

Sektor yang naik/turun:

50 Saham top value yang naik/turun:

Saham-saham Kompas-100 yang naik/turun :

Saham-saham yang asing net buy :

Saham-saham yang asing net sell :

Berikut tabel entry, stop dan target harga :
Keterangan :
Warna Hijau : adalah saham-saham yang break out (Buat trader Buy High Sell Higher).
Warna biru : adalah saham-saham yang bullish dan berpeluang untuk break out.
Warna putih : adalah saham-saham yang masih bearish namun berpotensi naik.
Trade Signal : Ini sinyal2 yang dihasilkan pada saat explorasi.
Strenght : Berhubungan dengan kondisi trend. Semakin besar posisinya artinya semakin bullish. (Max 100 minimal -100), Penulis kadang tidak menimbulkan kolom strenght, bila saham pilihannya terlalu banyak, karena Penulis sudah pilihkan dengan saham yang berwarna hijau, biru dan putih.
VChg : adalah perubahan volume terhadap hari sebelumnya, semakin besar perubahan volume’nya, berarti semakin bagus.
Chg : adalah perubahan harga close terhadap harga close sebelumnya.:
W/B : White and Black. Ini menghitung body candle. Bila -4 artinya 4 hari berturut-turut candlenya hitam (Close < Open).
G/R : Green / Red. Bila positif artinya Close hari ini lebih tinggi dibanding close sebelumnya (Close>Close-1).
Entry : Bila sinyal buy maka entry ini harga beli,bila sinyal jual entry ini harga jual (Saat ini Penulis hanya menerbitkan yang berisi signal beli saja).
Confirm price : adalah level harga tsb, maka confirm naik.
Stop : Bila telah membeli, namun harga turun maka ini adalah stoploss
Target : adalah Target harga bila melakukan pembelian / penjualan. Mudah-mudahan tabel ini bermanfaat, namun jangan lupa untuk tetap disiplin.

Tips trading buat hari ini Rabu ,  tanggal 10 February 2016  :

IHSG :

Foto wajah ini saya tampilkan disini, karena barangkali ada yang melihat/menemukan orang ini bernama YADI (Asli orang Cianjur, berdomisilie (kerja) di Palumbon, Maniis, Tegaldatar, Purwakarta (Pinggir danau Cirata), diduga kabur ke arah subang atau ke arah Sukabumi/Cisaat. Kabur bersama istri mudanya membawa 1 orang anak berumur 2 tahun, sedangkan istri aslinya ditinggalkan bersama 2 putranya di Palumbon.), agar memberikan kabar kepada saya di email angguntrader@yahoo.com, atau kantor polisi terdekat, dikarenakan ybs melarikan uang perusahaan tunai lebih dari 180 juta :

Dibutuhkan kenaikan berapa tick agar tidak rugi dalam sistem baru ini :

Berikut kami lampirkan kumpulan gambar pola candlestick berikut istilah-istilahnya, semoga bermanfaat :

Perubahan Lot Size dan Fraksi harga yang baru (Berlaku effectif 6 Januari 2014) :

3 Kunci menuju Investasi saham yang sukses yaitu Pertumbuhan, Kualitas, dan Resiko Rendah, maka perhatikan hal-hal berikut :

  1. Pertumbuhan omzet yang tinggi.
  2. Pertumbuhan keuntungan yang tinggi.
  3. Peningkatan harga saham yang konsisten.
  4. Sebuah rencana bisnis yang menarik dengan visi yang diterapkan oleh manajemen.
  5. Kepemilikan saham pribadi yang kuat oleh direktur-direktur dan manajemen’nya.
  6. Tingkat pinjaman dan bunga yang rendah.
  7. Konsisten membagikan devidennya.
  8.  Termasuk salah satu dari perusahaan yang masuk dalam LQ-45.

Tidaklah baik membeli saham ketika harganya sedang turun karena Anda mengira harganya murah. Banyak orang-orang bangkrut melakukan hal ini karena harga saham-sahamnya turun terus menerus.
Dan jika Anda akan menjualnya, jangan menunggu hingga semua orang sudah habis menjualannya, juallah bila Anda merasa puas dengan mendapat keuntungan ! Jika harga sahamnya terus naik, lupakanlah tentang saham tsb begitu Anda sudah menjualnya.

Sebelum Anda berinvestasi di pasar saham, Anda terlebih dahulu harus memahami hasil yang Anda inginkan. Anda perlu memutuskan apakah Anda membeli saham untuk “penghasilan” atau untuk  “investasi”, karena keduanya mempunyai strategi-strategi yang berbeda.

Impian-impian dapat terwujud jika Anda mempunyai keberanian untuk membuatnya benar-benar terjadi.

Menyadari bahwa sesuatu pasti akan berubah, maka….
Kau akan selalu berbahagia menghadapi setiap perubahan.
Sekalipun Perubahan itu…..
Sesuatu yang tidak diingini.

Bunga mekar pada waktunya….
Buah matang pada waktunya….
Matahari terbit pada waktunya…..

Semuanya akan “Indah” pada waktunya…..

Semua juga akan “Pergi” pada waktunya…

Source: Anggun Trader
10-2-16

Suka(3)Ndak Suka(0)

15.45*

Selamat sore…

Benar-bener susah ini.  Market di Asia banyak sekali yang masih libur Imlek.  Hampir tidak ada yang buka.  Nikkei turun tajam.. tapi.. emang Nikkei prediktor yang baik buat Dow Jones Industrial? Sudah barang tentu tidak.

Harga minyak naik diatas 1 persen.  Tapi… minyak kan gitu… sore dan pagi hari bisa tidak ada hubungannya.  Gak bisa diandalin.

So… hari ini saya hanya bisa hold posisi.   Mau jualan juga IHSG masih diatas suport.  Beberapa saham berada dibawah suport pertamanya.  Tapi… saya kok lebih senang ambil posisi contrarian untuk saham yang sore ini ada signal jual.  Untuk yang signal beli? hmm…. posisi saya sih sedang full power.  Saya gak bisa banyak bergerak.

Setidaknya.. hingga sore hari ini sepertinya belum ada signal negatif.  Target jangka pendek masih tetap di 4.850 – 5.000.  Belum ada perubahan.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

 

Suka(5)Ndak Suka(0)

Indonesia pushes to realize Bontang refinery project

Kilang+Minyak (3)

JAKARTA (TheInsiderStories) – The Indonesian government pushes to realize the mega Bontang refinery project as only half of the current domestic fuel consumption is still imported. On Tuesday (Feb. 9), the government decides in order to accelerate the project realization, the Bontang refinery will be developed through Public and Business Entity Partnership or government and business entity,  in which state owned energy company PT Pertamina acting as project leader.

The government made the decision following a coordinating meeting of cabinet ministers led by Coordinating Minister for the Economy Darmin Nasution. Other ministers who attended the coordinating meeting were Minister for Energy and Mineral Resources Sudirman Said, top officials from the Coordinating Ministry for Maritime Affairs, Finance Ministry, State Owned Companies (SOEs), Ministry for Spatial Planning and PT Pertamina.

The investment to develop the Bontang refinery is estimated to reach Rp75-140 trillion. The project  construction is expected to kick off in 2018.

An Outline Business Case (OBC) of the project has been completed.

The other decision that was made during the cabinet meeting is the approval of Spatial Planning (RDTR) of Bontang town. The decision is needed to finalize the land clearing and compensation of around 300 hectares of land.

The transaction advisor of the Bontang project is the Finance Ministry.

Bontang Refinery project is a greenfield project with potential designed capacity of 235,000 barrels per day.

Earlier, President Joko Widodo signed new Presidential Decree (Perpres) on oil refineries, which will become basis for the development of oil refineries in the country.

Under the ruling, the government offers four options in developing the refineries; namely first cooperation between the government and a business entity; secondly, mandatory of the government funded by the State Budget; thirdly, special duties given to Pertamina; and fourth development of refineries by private sector entity. (*)

 

The post Indonesia pushes to realize Bontang refinery project appeared first on The Insider Stories.

Source: The Insiderstories
Indonesia pushes to realize Bontang refinery project

Suka(0)Ndak Suka(1)

Melompat-lompat di Tahun Monyet*

160209 Three Monkeys

Melompat-lompat di Tahun Monyet

 

Selamat pagi…

Pertama-tama… saya ingi sampaikan bahwa saya bukanlah pakar Feng Shui. Pengetahuan saya tentang kebudayaan Tiongkok juga dikatakan minim, hanya sebatas ‘penggemar cerita Sam Kok’. Itu yang membuat saya sebenarnya tidak tertarik untuk membahas tentang Tahun Kera Emas yang perayaan kedatangan atau dimulainya dilakukan pada hari Senin kemarin. Akan tetapi, pergerakan angka indeks pada bursa global dan Bursa Efek Indonesia yang melompat-lompat selama bulan Januari kemarin, benar-benar mengingatkan saya akan perilaku monyet yang suka sekali melompat-lompat. Melompat ke atas, melompat ke bawah, melompat naik, melompat turun.

Dari bursa global, pergerakan yang melompat-lompat ini, sangat terasa pada pergerakan indeks Dow Jones Industrial (DJI). Indeks Dow Jones Industrial terlihat sering bergerak naik atau turun lebih dari 1 persen per hari, karena lonjakan naik turun dari harga minyak West Texas Intermediate (WTI). Harga minyak WTI yang saat ini sedang berada di sekitar level US$ 30 per barrel, rata-rata pergerakan hariannya bisa mencapai US$1,26 per hari atau lebih dari 4 persen untuk setiap harinya. Padahal, ditahun 2014 lalu, ketika harga minyak masih berada pada level US$90 per barrel, rata-rata pergerakan harian dari minyak WTI hanya sebesar US$0,96 per hari atau hanya sebesar 1,02 persen untuk setiap harinya. Harga minyak WTI yang murah, ternyata membuat volatilitas harga harian menjadi semakin tinggi. Indeks Dow Jones Industrial sehari melompat naik, sehari kemudian melompat turun, melompat naik lagi, melompat turun lagi. Melompat dan melompat.

Kondisi ‘melompat-lompat’ ini juga dirasakan pada IHSG meski dengan penyebab yang berbeda. IHSG sebenarnya memiliki korelasi yang rendah terhadap pergerakan indeks Dow Jones Industrial. Adalah wajar apabila IHSG tidak mengikuti pergerakan indeks Dow Jones Industrial karena hubungan ekonomi antara dua negara boleh dikatakan sangat kecil. Melompat-lompat pada IHSG bukan disebabkan sepenuhnya oleh melompat-lompat pada indeks Dow Jones Industrial, tapi lebih karena aksi melompat-lompat pada pada saham-saham utama sektor konsumer. IHSG saat ini kapitalisasinya mencapai Rp 5.094 trilyun. Dari kapitalisasi sebesar itu, Rp 932 trilyun atau 18,3 persen diantaranya, berasal dari tiga saham konsumer : PT. HM. Sampoerna (HMSP), PT. Unilever (UNVR), dan PT. Gudang Garam (GGRM). Tiga saham yang harga sahamnya terendah Rp 40.000 per lembar sahamnya. Tiga saham yang pelaku pasarnya jelas bukan investor kecil, bukan investor retail lokal. Tiga saham yang bid offer pada order booknya volumenya kecil-kecil (sering dibawah 100 lot untuk setiap harga) sehingga harga sahamnya bisa dengan mudah digerakkan ke atas atau ke bawah, baik pada pergerakan harga saham harian, maupun pada pergerakan sesi penutupan (closing session). Ketiga saham tersebut, terlihat ‘dengan seenaknya’ mengendalikan pergerakan IHSG. Saham HMSP terutama. Dengan freefloat yang masih sedikit lebih besar dari batas minimal 7,5 persen, kapitasisasi pasar HMSP pada penutupan hari Jumat kemarin sudah mencapai 9,96 persen dari total kapitalisasi IHSG. Dengan posisi bid offer yang sering kali hanya double digit atau bahkan hanya single digit, HMSP benar-benar ‘mengendalikan’ pergerakan dari setiap indeks dimana saham ini menjadi anggotanya: IHSG, LQ45, Kompas 100, dan beberapa indeks sektoral lainnya.

Pergerakan IHSG jadi terasa ‘janggal’. Pada beberapa hari lalu, setidaknya terdapat dua kali kesempatan, yaitu pada tanggal 29 Januari dan 1 Februari 2016, dimana IHSG yang ‘hampir’ ditutup dengan signal negatif, dibawah suport pertamanya, tapi pada akhirnya malah ditutup dengan signal positif, diatas resisten pertamanya, hanya karena kenaikan tajam saham HMSP di sesi penutupan.

IHSG serasa menjadi mainan bagi 3 saham utama sektor konsumsi, terutama HMSP.

Solusi Bagi Ketimpangan IHSG

IHSG adalah barometer dari pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia. Kalau pergerakan IHSG kemudian dirasakan janggal, karena kemudian dipaksa mengikuti pergerakan harga saham HMSP, UNVR, dan GGRM, apakah kemudian BEI bakal melakukan langkah untuk memperbaiki keadaan? Hm.. terus terang, saya sih ragu. Barometer yang timpang, itu tidak mengganggu perdagangan. Artinya: kalau BEI kemudian tidak melakukan langkah apa-apa terkait dengan hal ini, terus terang saya tidak heran. Tidak seperti Pemerintah yang tanggap dalam mengatasi semua permasalah ekonomi dengan membuat setidaknya satu pake kebijakan untuk setiap bulannya, lembaga self-regulated-organization (SRO) yang ada di bursa, sepertinya akan berlaku wajar. Dalam kondisi terbaiknya, bisa saja mereka melakukan pemotongan bobot penghitungan seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Itupun kalau para fund manager yang menggunakan IHSG atau LQ-45 sebagai benchmark, kemudian bereaksi keras terhadap hal ini. Kemungkinan lain yang bisa dilakukan hanyalah mengalihkan benchmark pergerakan pasar kepada indeks lain yang belum tercemar oleh pergerakan HMSP, seperti indeks IDX30 atau Bisnis-27. Akan tetapi, minimnya data historis dari kedua indeks tersebut, ditambah dengan tetap adanya kemungkinan HMSP dimasukkan ke dalam indeks tersebut, sepertinya membuat langkah kedua ini juga bukan merupakan alternatif.

Pilihan lainnya? Menggunakan indeks Syariah, seperti Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) maupun Jakarta Islamic Index (JII) sebagai benchmark. Indeks-indeks ini sudah pasti tidak akan tercemar dengan HMSP yang merupakan perusahaan non-syariah. Akan tetapi, nanti akan terasa lucu jika seorang fund manager menggunakan indeks syariah sebagai benchmark, padahal investasinya adalah investasi reguler yang didalam portfolionya ada saham perbankannya.

Pilihan terakhir? Menggunakan indeks ‘buatan asing’ seperti MSCI Index Indonesia. Hingga penghitungannya terakhir, indeks MSCI masih belum memperhitungkan bobot HMSP secara penuh. Tidak seperti IHSG yang bobot HMSP-nya mencapai hampir 10 persen, bobot HMSP pada MSCI hanya sekitar 3 persen – 4 persen. Pergerakan indeks MSCI bakal dirasakan lebih rasional sebagai barometer jika dibandingkan dengan pergerakan IHSG. Tapi masalahnya: menggunakan MSCI sebagai benchmark itu tidak gratis. Data harian dari posisi pergerakan MSCI Index Indonesia juga tidak mudah untuk didapat bagi masyarakat luas. Tidak mungkin dan tidak nasionalis untuk menggunakan MSCI Index Indonesia sebagai benchmark atau barometer pergerakan harga.

Korban terbesar: Futures Indeks LQ-45

Minggu lalu, Bursa Efek Indonesia melakukan relauncing atas produk lama mereka, Futures Indeks LQ-45. Produk derivative yang pada awalnya merupakan produk dari Bursa Efek Surabaya ini, kembali diperkenalkan kepada masyarakat setelah perdagangannya dihentikan pasca kejatuhan harga saham saat krisis 2008. Ketika itu, aturan perdagangan yang buruk, membuat peraturan perdagangan Future Indeks LQ45 menjadi kacau. Ditengah pergerakan indeks LQ45 yang bisa mencapai 10 hingga 15 poin per hari, Future Indeks LQ45 hanya bisa bergerak 6 poin sehari sesuai dengan aturan autoreject yang saat itu berlangsung. Walhasil, perdagangan future indeks LQ45 menjadi kacau. Pemodal yang sudah terlanjur melakukan posisi beli, tidak bisa melakukan likuidiasi atas posisi beli yang sudah dilakukannya. Boro-boro melakukan posisi sell. Futures Indeks LQ45 bisa autoreject beberapa hari sehingga transaksi hampir tidak pernah terjadi. Kegagalan perdagangan ini yang kemudian membuat perdagangan Futures Indeks LQ45 ketika itu dihentikan.

Kali ini, semua kegagalan masa lalu sudah dicarikan penangkalnya. Aturan autoreject yang terlalu sempit bagi produk Futures Indeks LQ45 sudah dihilangkan. Kegagalan perdagangan yang dulu pernah terjadi, sepertinya tidak akan terulang lagi. Permasalahan bagi produk Futures Indeks LQ45 saat ini adalah: kalau pergerakan indeks LQ45 kemudian menjadi lebih sulit untuk diprediksi gara-gara saham big caps berlikuiditas kecil seperti HMSP, apakah pelaku pasar masih akan tertarik dengan produk ini? Bayangkan : ketika sore hari, ketika pasar mau tutup, ketika sesi penutupan jam 15.50, indeks LQ45 sudah berada dibawah suport, speculator banyak melakukan posisi sell, ternyata kemudian indeks LQ45 ditutup diatas resisten dengan signal beli. Maukah mereka kemudian berubah posisi menjadi buy? Apakah pasarnya memungkinkan untuk berubah arah seperti itu?

Korban terbesar dari ‘besarnya kekuasaan’ HMSP atas IHSG, adalah Futures Indeks LQ45, yang tidak lain adalah produk dari BEI sendiri. Akankah BEI melakukan sesuatu terhadap ‘besarnya kekuasaan’ HMSP ini? Ataukah BEI kemudian akan membuat Futures Indeks LQ45 kembali mati suri? Ini adalah hal yang menarik untuk kita lihat dalam beberapa waktu mendatang.

Solusi akhir untuk Pemodal: Kembali Ke Trend Saham

Bagi seorang trader, mengikuti pergerakan IHSG sebenarnya tidak terlalu penting. IHSG memang mencerminkan pergerakan harga atau pergerakan pasar secara keseluruhan, tapi itu tidak mencerminkan pergerakan harga dari semua saham. Kalau anda adalah pemain saham big caps (BBRI, BMRI, BBCA, BBNI, ASII, TLKM, atau UNVR) pergerakan IHSG dulu mungkin adalah sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Akan tetapi, ketika pergerakan IHSG kacau termakan HMSP seperti saat ini, yang bisa dilakukan adalah meninggalkan IHSG sebagai faktor dalam pengambilan keputusan yang anda lakukan. Memang, arah IHSG tetap harus diperhitungkan untuk melihat pergerakan harga saham secara keseluruhan. Akan tetapi, pemodal tidak perlu lagi ‘menyamakan’ posisinya dengan posisi IHSG. Pemodal sebaiknya melihat masing-masing trend dari saham, atau setidaknya melihat trend dari indeks sektoral. Jika trend dari saham berubah dari turun menjadi naik, disitu adalah kesempatan untuk melakukan posisi beli. Demikian pula sebaliknya: kalau trend naik berubah menjadi trend turun untuk setiap sahamnya, pemodal bisa melakukan posisi jual. Pemodal sudah tidak lagi perlu untuk melihat IHSG sebagai barometer pergerakan harga saham.

Efek Bagi Analis dan Fund Manager : Terpaksa Minum Oplosan

Dari liburan Imlek ini, ada sebuah berita yang 26 Mahasiswa Jogjakarta Tewas Mengkonsumsi Minuman Oplosan. Gile bener. Pada berita itu disebutkan, bahwa Polisi menyita berbagai barang bukti, termasuk obat nyamuk cair yang biasa digunakan sebagai bahan oplosan. HMSP terhadap penghitungan IHSG, memang terasa seperti obat nyamuk cair ini: dibutuhkan sebagai bahan oplosan, tapi kalau dioplos, itu bisa mengakibatkan orang mati. Gilanya lagi: para penggemar ini mau tak mau tetap menenggak minuman oplosan tersebut. Mau mati? Gak takut mati? Lha itu kan resiko pekerjaan. Lha adanya hanya itu. Seperti para mahasiswa di Jogjakarta itu, analis terpaksa menggunakan IHSG sebagai gambaran untuk prediksi pasar, fund manager terpaksa menggunakan IHSG sebagai benchmark. Mengapa? Jawabannya sama dengan para mahasiswa itu: Karena tidak ada pilihan lain.

Dan hasilnya?

Lompat … lompat … lompat…

Tereret … jungkir balik…

Tereret … jungkir bali..

Tereret … jungkir balik…

Yah… namanya juga tahun monyet. Sepertinya tahun ini kita memang terpaksa jungkir balik lebih keras untuk sekedar ‘perform’ atau mendapatkan profit di Bursa Efek Indonesia.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Suka(7)Ndak Suka(2)
Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On Google PlusVisit Us On PinterestVisit Us On Linkedin
Skip to toolbar