Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Supermarket Saham

130

Dulu… lebih dari 10 tahun yang lalu… ketika saya masih menjadi trainee di salah satu sekuritas, saya memiliki seorang klien. Salah satu ciri khas dari klien ini (yang kemudian menjadi trauma bagi saya) adalah: Dia memiliki portfolio yang terdiri dari lebih dari 150 item saham yang terdiri dari  saham-saham lapis dua dan lapis tiga!

Di satu sisi.. mengasyikkan juga.. menjaga portfolio seperti ini seperti ini tetap memberikan kegiatan kapanpun juga bagi seorang trainee seperti saya. Selain itu, kemanapun market bergerak, selalu ada ‘action’ pada portfolio dia. Ketika market naik, pasti ada sahamnya yang mengalami kenaikan. Sedangkan ketika market turun, selalu ada juga saham dalam portfolionya yang mengalami penurunan. Trader ini (saya sebut sebagai trader karena jangka waktu investasinya pendek) sebenarnya adalah trader yang berhasil (=untung). Rata-rata keuntungan untuk setiap posisi yang di likuidasi, adalah sebesar 10% – 30%. Administrasi trading yang dilakukannya sangat bagus karena dia selalu melakukan pencatatan dengan disiplin. Dia selalu mencatat setiap saham yang dibeli dan dijualnya seperti dia mengelola sebuah toko kelontong. Pencatatan dengan menggunakan harga perolehan. Saham A, beli di harga X, Y, dan Z. Saham B dibeli pada harga O, P, Q. Sehingga dia bisa make sure bahwa posisi jualnya selalu diatas harga pembelian.

Portfolio yang menguntungkan, setiap hari ada transaksi, administrasinya tertib.  Loh.. sepertinya semuanya bagus.. mengapa malah jadi TRAUMA??

Traumanya adalah trader ini menghabiskan 90% waktu kerja saya di kantor.  Tapi, transaksinya hanya 10% dari total value transaksi saya setiap harinya.  Selain itu, meski setiap posisi yang dijual untung, tapi.. posisi nyangkutnya itu loh.  Posisi yang dijual untung siy.. untungnya sekitar 10%-30%.  Tapi posisi yang nyangkut, potensial loss untuk setiap posisinya bisa mencapai 90%!!!

Bagi saya.. pengelolaan portfolio seperti ini, itu serasa mengejar kemenangan semu.  Setiap hari ada transaksi.  Setiap hari ada untung.  Tapi keuntungannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan beban potensial loss yang tengah diemban oleh portfolio itu. Stressnya itu loh.. memandang portfolio yang hanya berisi posisi merah (potensial loss) sebanyak itu!

Pengalaman inilah yang kemudian membuat saya bercita-cita: nanti kalau sudah trading.. saya nggak mau punya portfolio seperti ini.  Sayang banget duitnya gitu loh.. kaya nyari duit nggak susah ajah.  Duit nganggur itu tetap ada oportunity costnya.  Dan memelihara portfolio yang terdiversifikasi penuh pada saham-saham gak jelas seperti ini… jelas terlalu besar oportunity cost-nya bagi saya.

Jadi.. puncak IHSG, saya kira tidak akan lama lagi.  Sebentar lagi, akan muncul sebuah trend turun yang baru.  Orang bakal mulai nyangkut.  Pertanyaan saya adalah: anda mau punya Supermarket saham seperti ini?  Atau anda malah punya Supermarket saham? Atau anda mau tahu cara untuk menghindarkan diri dari Supermarket saham?

Ikuti kelanjutannya pada tulisan saya berikutnya…

Happy trading… semoga untung!!!

Perencana Trading

3 Comments
  1. sunoyo says

    itulah perlunya, pengalaman dan pengamatan seorang dealer thd nasabahnya. Tp kadang² dan sering seorang dealer hanya mendapat cibiran ‘gara² kamu, aku rugi’. So, siapa mau cepat kaya/mlarat, “mainlah” saham, bukan investasilah di saham

    1. Perencana Trading says

      waduh… kalau ini.. tanggapannya harus panjang… lain kali aja deh.. hehehe…

      Salam buat teman-teman di ITAS mas..

      Wassalam.

  2. Perencana Trading says

    terima kasih atas perhatiannya…

    wassalam…

Leave A Reply

Your email address will not be published.