Ketika Investasi berbeda dengan Trading*

832

Selamat pagi…

Berikut ini adalah percakapan antara saya dan istri saya (saya memanggil istri saya dengan nama ‘Mbak Mia’) di sekitar bulan Oktober 2010:

Mia (M):  “Mas… saya ada lebih sedikit uang untuk di tabung.  Saya beli emas ya?”

Tommy (T): “Kamu maunya untuk jangka pendek atau untuk jangka panjang?[1]

M:  ” Ya untuk investasi lah… masa aku mau trading?[2]

T: “Ok… bener ya untuk investasi? Silakan ajah… harga emas masih mau naik ini”

Ketika itu, harga emas memang sudah mulai tinggi.  Sekitar Rp 375 ribu – Rp385 ribu per gram.  Istri saya berkeinginan untuk membeli emas untuk keperluan investasi.  Karena untuk investasi, berarti untuk jangka panjang.

Sebulan kemudian, saya bertanya kepada istri saya (ketika itu harga emas sudah di sekitar Rp 400 ribu per gram)

T: “Mbak Mia… sudah jadi beli emas?”

M: “Belum mas… “

T: “Masalahnya apa toh? Duitnya masih ada kan? Atau nggak ada yang anter ke Melawai? Kalau beli Emas kan tinggal telpon ke toko emas, habis itu uang ditransfer untuk mengunci harga.  Kalau ngambilnya kan bisa nanti-nanti kalau kita sempat”.

M: “Harganya itu loh… kok naik-naik terus… sekarang sudah sekitar Rp 400 ribuan, aku mau nunggu kalau harganya agak murahan dikit”

T:”Loh? Emang kamu mau trading? Bukannya kamu kemarin bilangnya mau investasi? Kalau kamu mau investasi, ngapain kamu mikirin harga?”

M: “Iya mas… aku mau investasi.  Tapi masa kita mau beli kalau harga lagi mahal begini?”

Percakapan itu berakhir.  Di bulan Desember, saya kembali ke pertanyaan yang sama:

T:  “Mbak Mia sudah beli emasnya?”

M: “Harganya masih di 390-an (Rp 390 ribu maksudnya)… tar deh… masih kurang murah…”

Di bulan Januari saya tidak tanya sama sekali.  Baru-baru ini, ketika krisis Libya sudah memanas, harga minyak dan emas membubung tinggi, saya kembali bertanya:

T: “Mbak Mia tetap masih belum beli emasnya kan?”  Istri saya hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.

Investasi berbeda dengan Trading

Ketika kita melihat harga dari komoditas atau pasar finansial.  Satu hal yang selalu konsisten untuk berubah adalah perubahan harga.  Arahnya sih tidak pernah berubah: kalau nggak naik, pasti juga turun.  Harga terus bergerak kesana kemari, berubah setiap hari.  Disisi lain, investasi adalah sebuah proses dimana kita menanamkan kekayaan kita untuk jangka waktu yang sangat lama.  Warren Buffet adalah pakar investasi.  Ia membeli saham Coca-Cola di tahun  1988 .  Terus menahannya sampai sekarang.   Melihat umur beliau sekarang, dan prospek dari saham Coca-Cola kedepannya, sepertinya itu akan menjadi investasi yang melewati batas hidupnya.

Pada prinsipnya, langkah-langkah untuk melakukan investasi adalah sebagai berikut:

  1. Pilih instrument investasi yang memiliki prospek bagus untuk masa yang akan datang
  2. Beli
  3. Tahan hingga anda merasa bahwa prospek jangka panjangnya sudah berubah

Konsep ‘beli’ dan ‘tahan’ (buy and hold) inilah yang kemudian kita kenal sebagai ciri-ciri dari seorang investor.

Dari cerita yang anda sudah baca pada awal tulisan ini, anda tentu sudah melihat sebuah cerita mengenai seorang investor yang akhirnya gagal berinvestasi karena terombang-ambing oleh masalah pergerakan harga.  Emas yang dibeli adalah untuk tujuan investasi.  Tapi karena harga terus bergerak, akhirnya investasi gagal dilakukan.  Padahal seharusnya tidak seperti itu.  Harga masa kini, adalah sebuah variabel jangka pendek.  Jika anda adalah seorang investor, anda semata-mata hanya melihat prospek jangka panjang dari instrument investasi itu.  Harga saat ini, bukanlah sesuatu yang sangat penting sehingga anda perlu bersusah payah untuk memprediksinya.  Kalau anda sudah yakin dengan prospek jangka panjangnya, mahal untuk saat ini, belum tentu mahal juga untuk waktu yang akan datang.  Mahal saat ini, bisa jadi murah untuk masa mendatang.  Seorang pemodal ingin membeli emas untuk keperluan investasi, hanya perlu melihat prospek investasi emas untuk jangka panjang.  Dan selama pemodal tersebut bisa melihat bahwa prospeknya masih positif untuk jangka panjang, any price is a cheap price![3]

Pak… saya tetap tidak yakin bahwa harga saat ini adalah harga yang murah.  Bagaimana cara mengatasinya?

Jika ini adalah pertanyaan anda, anda bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan melakukan investasi secara bertahap, seperti orang mengangsur.  Anda membagi investasi tersebut kedalam beberapa bagian, dan melakukan pembelian atas instrument yang ingin anda investasikan dengan memberikan suatu jarak waktu tertentu diantara satu pembelian dengan pembelian yang lain.  Misalnya nih, anda berencana untuk investasi Rp 100 juta pada reksadana saham.  Akan tetapi, anda merasa bahwa kondisi IHSG saat ini sudah ketinggian.  Anda kemudian membaginya menjadi beberapa bagian (misalnya nih… 4 bagian masing-masing senilai Rp 25 juta) yang sama besar, yang akan anda belikan reksadana setiap dua minggu atau satu bulan sekali, atau jangka waktu lain yang anda tentukan. Mencicil investasi adalah salah satu cara untuk mensiasati timing dalam berinvestasi.

Penutup

Saya adalah orang yang tidak bosannya untuk mengingatkan setiap orang akan perbedaan antara trading dengan investasi.  Maklum, saya sudah sering sekali melihat orang yang kehilangan kekayaannya hanya karena masalah yang sederhana seperti ini.  Dalam kehidupan saya, hanya dua buah permasalahan yang saya anggap sebagai investasi: Hubungan saya dengan Alloh SWT, dan hubungan saya dengan keluarga.  Selain itu, semua itu adalah posisi trading: ketika trend masih membaik, mari kita teruskan, tapi ketika trend sudah memburuk, posisi cut loss adalah sebuah pilihan yang wajar.  Saya harus selalu realistis.  Buat apa saya mempertaruhkan segalanya untuk menahan posisi yang buruk? Nanti kan ada posisi yang lain lagi.  Nanti aka nada kesempatan yang lain lagi.

Jadi… kembali ke masalah investasi yang dilakukan istri saya tersebut diatas.  Kalau anda bertanya: Apakah saya akan menasehati istri saya agar melakukan investasi dengan benar?  Hehehe… masih banyak waktu lah.  Ameztomia… Tanggal 11 Maret 2011 besok, genap 10 tahun kita besama.  Semoga Alloh SWT memberikan kita cukup waktu untuk bersama-sama mensyukuri nikmat-Nya.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula


[1] semenjak bulan September 2010, semenjak emas menembus kisaran resisten US$1200 – US$1250 per troy ounces, saya sudah melihat harga emas (XAU) masih akan terus menguat hingga level US$1500 – US$1600 per troy ounces, jadi posisi beli untuk emas, baik untuk trading maupun investasi sebenarnya tidak terlalu banyak bedanya karena harga emas sedang berada dalam trend naik.

[2] Istri saya memang tidak terlalu suka mengenai ide dasar dari trading.  “Kamu aja yang mikir jangka pendek deh.,.. saya yang mikir jangka panjang”.  Itu adalah yang selalu diucapkannya setiap saat saya merayunya untuk trading saham.

[3] Mohon tetap diingat bahwa buying on margin bukanlah posisi investasi.  Posisi ‘beli emas’ disini adalah untuk emas fisik, bukan posisi beli pada kontrak berjangka emas.  Kontrak berjangka emas adalah sebuah posisi trading karena adanya leverage.

You might also like More from author

9 Comments

  1. budi says

    Mas Tommy,

    Hampir sama dengan diriku dan istriku juga…. sejak Jan2011 ada sedikit dana yang niatnya untuk jngka panjang dgn rencana mau beli emas bersertifikat. Saya pun berpikir akan menunggu kalo-kalo adan koreksi harganya…ehhh malah naik terus…
    Jadi sampai sekarng pun belum jadi beli emas nya…

    salam.

    1. Satrio Utomo says

      hehehe… betul mas Budi… kalau trend lagi naik kenceng gini.. orang-orang yang ragu-ragu akan kelibas oleh pasar… 😀

  2. F. Ferdiatmoko says

    Super MANTAB……….!!!!!!!!!!

  3. abdulshomad says

    betul sekali, akan tetapi saya masih awam tentang treding.

    1. Satrio Utomo says

      Pak Abdul Shomad….

      Terima kasih atas komentar anda.

      Wassalam,
      Satrio

  4. 5 Guns N’ Roses Soundtrack For Your Trading | Pojok Saham

    […] So, sebelum masuk ke hutan, pastikan dulu kamu siap lahir-batin dan punya dasar filosofi investasi atau trading yang kuat.  Apa beda investasi dan trading?  Coba simak Satrio Utomo dalam post berikut: Ketika Investasi Berbeda dengan Trading. […]

  5. Samn says

    Jadi senyum2 sendiri, tp berhubung waktu itu sy ga melek pasar..*sampe hari ini jg. Akhirnya sy beli emas, pas beli harganya udah mahal, tp ya sudahlah namanya jg inveatasi. Baru2 ini lg fokus lg lihat portofolio saham, jadi pengen trading,tp masih belum paham pertama beli udah rugi..sempet down,tp namanya jg belajar ampe skr masih belajar.

Leave A Reply

Your email address will not be published.