Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Batubara: Sulitnya Mengubah Kebiasaan…*

199

(Note: Tulisan ini adalah repost dari tulisan saya sebelumnya yang tertanggal 30 Juli 2012.  Semoga anda sudah pernah membacanya sehinga terhindar dari nyangkut yang berkelanjutan.  Jika anda nyangkut dan sedang mencari solusi, jangan ragu untuk menghubungi saya di 08111268889).

Selamat pagi…

Jumat kemarin (tanggal 27 Juli 2012), indeks Dow Jones Industrial naik 1.46% setelah sehari sebelumnya naik lebih dari 2%.  Kalau IHSG naik di awal minggu. Apa yang mau anda beli? UNTR, PTBA, atau ITMG?

Ketika seorang pemodal melakukan transaksi di bursa, keputusan untuk melakukan pemilihan saham, sering kali di dorong oleh alam bawah sadarnya.  Pemilihan saham sektor batubara secara reflek sebagai saham yang harus kita amati ketika terdapat berita positif di bursa regional, adalah sesuatu yang manusiawi. Padahal, kondisinya sudah jauh berbeda.

Refleks seperti itum terjadi karena saham batubara adalah penggerak sentimen utama selama lebih dari satu dasa warsa.  Minat orang atas saham batubara, sudah muncul sejak lebih dari sepuluh tahun berselang semenjak PT Bumi Modern, berubah nama menjadi BUMI Resources Tbk (BUMI).  Masuknya sebuah tambang batubara melalu back door listing pada saham BUMI Modern pada tahun 1997 – 2000 ini, menandai awal dari era masuknya pertambangan batubara di Bursa Efek Indonesia (Bursa Efek Jakarta ketika itu).

Ketertarikan pasar terhadap saham-saham batubara kemudian berlanjut selama bullish market dalam periode 2002 – 2008.  Kenaikan harga minyak Nymex dari level US$17 – US$20 per barrel pada tahun 2002, menjadi US$147 per barrel pada tahun 2008, telah mendorong harga batubara yang tadinya hanya berada di level US$22 – US$25 per ton, menjadi sempat berada pada level 192.5 per ton pada periode yang sama.  Kenaikan harga komoditas ini, kemudian membuat harga saham-saham batubara mengalami kenaikan yang sangat signifikan.  Saham BUMI menjadi primadona pasar.  Saham BUMI yang pada awal tahun 2003 masih diperdagangkan di level Rp 25, pada pertengahan tahun 2008 sempat menikmati level tertinggi di Rp 8750.

Ketertarikan pemodal tentu saja tidak terpusat hanya pada saham BUMI.  Tidak lama setelah backdoor listing ini, sebuah BUMN yang bergerak pada tambang batubara, yaitu PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) kemudian juga mencatatkan diri ke Bursa.  Langkah ini kemudian disusul banyak produsen batubara yang kemudian mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia.  Hingga saat ini, tidak kurang dari 15 perusahaan batubara sudah tercatat di lantai Bursa Efek Indonesia, dengan nilai kapitalisasi pasar sekitar 10% dari IHSG.

Dua belas tahun sudah, pemodal di bursa kita dibuat reflek untuk berpikir: batubara, batubara, dan batubara.  Buka komputer: perusahaan batubara, buka chart: perusahaan batubara, saham yang menarik: batubara, dan seterusnya.  Tidak pada saham BUMI yang katanya adalah saham dengan sejuta umat pada tahun 2008, dan saham dengan sejuta nyangkuters pasca puncak harganya di tahun 2012 tersebut.  Tapi juga pada saham-saham batubara yang lain.  Belakangan, fenomena backdoor listing dari GTBO dan MYOH kemudian juga menyita perhatian pemodal. Batubara, batubara, dan batubara.

Tapi, tahun ini, kondisinya berbeda.  Krisis Eropa yang berkepanjangan, serta lambatnya pemulihan ekonomi Amerika, telah mulai mempengaruhi pertumbuhan ekonomi China dan juga India.  Padahal, dengan harga batubara yang cenderung tinggi dalam beberapa tahun terakhir, produsen batubara dari Indonesia dan Australia, terus berpacu dalam meningkatkan produksi.  Tingginya supply ditengah demand yang masih lemah ini, telah membuat harga batubara terus meluncur turun.  Harga batubara Newcastle, yang sering digunakan sebagai benchmark untuk harga batubara Indonesia, pada awal tahun masih berada di level US$118,8 per ton.  Tapi pada minggu kemarin, harga batubara ini sudah berada di level US$81.15 per ton.  Sudah turun lebih dari 31%.  Tidak hanya itu, besarnya oversupply dan penumpukan stock yang terjadi di pelabuhan-pelabuhan di China, membuat orang semakin pesimis terhadap prospek batubara.  Dalam sebuah reportnya, Fitch rating bahkan memperkirakan, bahwa harga batubara akan tetap rendah hingga akhir dari tahun 2012 ini.   Agak runyam juga.

Rendahnya harga batubara ini, membuat belakangan saya giat menasehati orang-orang di sekitar saya: kurangilah minat anda pada saham-saham batubara.  Fokuskan perhatian anda, pada emiten-emiten yang memfokuskan penjualannya pada penjualan dalam negeri, seperti telekomunikasi, semen, perbankan, infrastruktur, retail, atau konsumsi.  Pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir ini, merupakan pentunjuk yang nyata, bagaimana orang mulai kehilangan minat pada saham-saham batubara.  Ditengah saham-saham lain yang telah berhasil rebound, saham-saham sektor batubara, terus mengalami tekanan jual.  Lihat saja kecepatan rebound dari ASII, BBRI, TLKM, INTP atau SMGR jika dibandingkan dengan UNTR, ITMG, ataupun PTBA.  Saham-saham batubara terlihat terlalu berat untuk bisa terangkat naik.

Apakah langkah itu mudah? Apakah mengubah kebiasaan itu mudah? Tentu saja tidak.  Pemodal kita sudah ‘terlanjur cinta’ pada saham-saham batubara karena kebiasaan yang sudah terpupuk selama lebih dari 10 tahun.  Selain itu, pemodal kita juga sudah ‘terlanjur basah’ atau terlanjur nyangkut pada saham-saham tersebut, membuat keterikatan bathin tersebut menjadi sulit untuk diputuskan.

For traders, stock prices are numbers. It’s just the way we should go through to make a profit.  Never fall in love with a stock. Because it will only alienate you from your main purpose to trade: THE PROFIT.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Leave A Reply

Your email address will not be published.