Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Fatamorgana itu bernama Koreksi

177

Selamat pagi…

Akhirnya, IHSG mencapai resisten di 5250.  Seperti perkiraan Saya tahun kemarin: faktornya lebih bukan karena kondisi fundamental perseroan.  Bukan juga karena kondisi fundamental ekonomi.  Tapi lebih karena limpahan dana asing yang selama 4 bulan terakhir (Januari – April) terus merangsek ke bursa kita.  Bagaimana tidak, gelontoran Quantitative Easing (QE) babak keempat yang besarannya mencapai US$85 miliar per bulan, ditambah dengan langkah QE yang telah dilakukan oleh Jepang, rembesan dananya telah membuat IHSG melejit.  IHSG sempat mencapai level tertinggi di 5251,30 sebelum akhirnya sedikit mengalami konsolidasi di akhir minggu.

Padahal, berita negatif semakin hari bukannya semakin berkurang, tapi malah semakin bertambah.  Inflasi terlihat sulit untuk dikendalikan.  Semenjak Bulan Januari, Inflasi yang dibawah ekspetasi baru bulan kemarin.  Pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal pertama 2013, hanya tercatat sebesar 6,08 persen.  Jauh dibawah perkiraan konsensus yang berada di kisaran 6,2 – 6,4 persen.  Kinerja emiten? Gak tau deh.  Kemarin saya kepingin mencoba membandingkan dengan data konsensus yang ada di Reuters dengan realita yang dipublikasikan emiten.  Tapi, setelah saya melihat data dari 26 emiten yang menjadi sample saya, lebih dari 70% ternyata memiliki pencapaian EPS yang dibawah ekspektasi.  Bahkan, kalau dilihat dari penjualannya, angka tersebut bahkan meningkat menjadi 80%!  Kadang Saya berpikir: apa memang data dari Reuters ini salah.  Tapi, kalau memang benar, berarti kinerja emiten untuk kuartal pertama 2013 benar-benar amburadul! S&P menurunkan Outlook peringkat hutang Indonesia? Atau Moodys yang mengancam akan melakukan hal yang sama? Hehehe… mungkin tidak terlalu menakutkan.  Tapi memang, keplin-planan Pemerintah dalam masalah mengatasi defisit anggaran a.k.a masalah kenaikan BBM Subsidi ini, memang benar-benar menjengkelkan.  Kadang Saya merasa, bahwa pembangunan ekonomi kita ini memang tidak bener gara-gara Presiden lebih berfokus dalam mengurus partai daripada membangun negara.  Tapi apakah itu benar, sepertinya perlu orang yang lebih kompeten dari sekedar market analyst seperti Saya untuk menjawab pertanyaan itu.

Tapi, trend naik turun IHSG belum juga nampak.

Sebagian orang, kemudian sudah mulai mengeluarkan pernyataan bahwa IHSG sudah buble.  Well… kalau di akhir tahun kemarin, target IHSG mereka dibawah 5000 hanya dengan berdasarkan hitungan kondisi fundamental emiten.. wajar saja kalau mereka kemudian berteriak bahwa IHSG sudah Bubble.  Tapi, kalau anda melihat bahwa dalam 10 tahun terakhir rata-rata IHSG di akhir tahun finish dengan IHSG di berada pada Price Earning Ratio (PER) sekitar 16,5 kali, Dengan perkiraan EPS IHSG 2013 di sekitar angka Rp 315, maka IHSG di level 5100-5250 ini sebenarnya masih wajar.  IHSG itu baru bubble kalau sudah di PER 20 kali atau bahkan lebih dari 25 kali.  Kalau cuman PER 16 kali – 17 kali seperti sekarang ini, tentu saja masih berasa ‘normal’.  IHSG mungkin sudah ‘fully valued’, ‘tervaluasi penuh’ secara fundamental.  Tapi kalau dibilang ‘buble’.. tentu saja belum buble.

IHSG tidak bubble.  Tapi, tumpukan dari berita negatif yang ada, seakan menjadi beban yang sangat berat bagi trend naik IHSG.  Mau berharap turun?

Sebenarnya… hari-hari ini, orang-orang yang berharap market akan turun, sedang mendapatkan amunisi yang baru:  Membaiknya data ekonomi Amerika, telah membuat The Fed berencana mengurangi besaran gelontoran yang tengah dilakukannya.  Ibarat keran yang sedang dibuka lebar, The Fed ingin memperkecil jumlah aliran dana yang tengah dilakukannya.  Memang sih, itu semua tergantung berapa pengurangan jumlah pembelian surat hutang yang tengah dilakukan.  Tapi, berkurangnya likuditas tersebut, telah membuat pemodal asing memilih untuk balik badan.  Meski terlihat masih plin-plan (seminggu net buy, seminggu net sell), hingga akhir minggu lalu, posisi net sell asing di pasar reguler untuk bulan Mei, sudah mencapai Rp 3,8 trilyun.  Angka tersebut sedikit lebih besar dari posisi net buy asing di pasar reguler selama bulan Maret dan April (dua bulan) yang besarannya mencapai Rp 3,6 trilyun.  Pemodal asing sudah mulai melakukan distribusi, meskipun mereka belum mulai melakukan tekanan jual dalam jumlah yang signifikan.

Kembali lagi ke pertanyaan: apakah setelah 5250 tercapai, IHSG bakal bergerak turun?  Well… kalau trend jangka pendeknya siy… IHSG hingga hari Jumat kemarin memang sudah berada dalam trend turun jangka pendek.  Tapi, apakah trend turun tersebut bakal berubah menjadi trend turun jangka menengah? Jawabannya tetap saja: selama DJI masih belum mengalami koreksi yang meyakinkan, sepertinya sulit bagi IHSG untuk bergerak turun terlalu banyak.  Salah satu yang menjadi catatan saya: belakangan ini, pemodal sudah tidak takut lagi untuk menghadapi koreksi.  Karena sudah sekitar 7-8 kali signal negatif pada indeks Dow Jones Industrial (DJI) ternyata palsu (signal negative tapi DJI kemudian mencetak new high lagi dalam 1-3 hari), pelaku pasar jadi tidak mengenal rasa takut.  Mereka dengan berani menantang signal bearish yang muncul pada pergerakan harga.  Sebuah pertanda bahwa: kalau ada koreksi, sepertinya bakal banyak yang akan menjadi korban.

Kalau harga saham tidak bergerak turun, kalau IHSG tidak bergerak turun, itu bukan koreksi namanya.  Alasan untuk koreksi, sudah tersedia. Mau dari berita jelek dalam negeri, berita jelek luar negeri, bahkan dari aliran keluar dana asing.   Koreksi hingga kisaran 4700-4950, sebenarnya juga masih merupakan koreksi sehat.  Tapi, selama indeks Dow Jones Industrial masih bergerak naik, koreksi serasa seperti sebuah fatamorgana: terlihat samar-samar atau bahkan cukup jelas.  Tapi tidak ada realisasinya.

Sebagai nasehat terakhir: 10 tahun lebih Saya di pasar modal, terlalu sering sudah saya melihat market memiliki kebiasaan untuk ‘ngerjain’ orang-orang yang lupa diri.  Pemodal sebaiknya lebih waspada dan disiplin dalam melaksanakan rencana trading yang telah ditetapkan.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Leave A Reply

Your email address will not be published.