Krisis 2008… Akankah berulang? (Part 1)

121

Selamat pagi…

(Pengantar: Barusan.. ada pertanyaan dari pembaca.  Sebenarnya sih.. biasanya niy… saya gak pernah mau jawab pertanyaan orang kalau emailnya bisa saya verifikasi di Facebook. Tapi… karena pertanyaannya bagus, saya jawab dengan tulisan aja deh… )

Pertanyaannya sebagai berikut:

Pak bagaimana peluang krisis 2008..apakah akan terulang. kira kira kapan saham batubara akan berada di titik dasarnya ? kenapa bapak tidak memberikan rekomendasi saham kontruksi misal ADHI di 2011.- saya tidak menyangka saham ini melonjak sedemikian tinggi. -( mahasiswa unila)

Ada 3 masalah yang ditanyakan.  Saya akan mencoba menjawab satu per satu.

Peluang terulangnya krisis 2008

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus bisa melihat dulu… cara pandang kita terhadap krisis 2008 ini dari sebelah mana.  Kalau saya sih, saya lebih melihat krisis 2008 itu dari kaca mata krisis hutang yang terjadi pada Grup Bakrie, terutama yang melibatkan saham BUMI yang sebelum krisis berlangsung, sempat menjadi saham dengan kapitalisasi tertinggi di Bursa Efek Indonesia.  Sebelum krisis 2008, BUMI adalah saham dengan kapitalisasi nomor 1.  Kenaikan dari saham BUMI (beserta saham Grup Bakrie lainnya), memang sudah terjadi dalam 5 tahun sebelumnya, semenjak 2003, ketika grup Bakrie melakukan backdoor listing KPC dan Arutmin melalui sebuah saham BUMI yang sebelumnya hanya berisi Hotel Hyatt di Surabaya.  Mengingat saat itu saham BUMI ini merupakan saham dengan kapitalisasi terbesar, maka banyak sekali fund manager yang memilikinya.

Problemnya, ada pada kebiasaan dari Grup Bakrie untuk melakukan ekspansi dengan dinanai oleh gadai saham (repo).  Semenjak krisis 1998, Grup Bakrie memang kesulitan untuk mendapatkan dana perbankan sehingga mereka mengunakan repo ini untuk kegiatan ekspansi mereka.  Dalam sebuah perjanjian repo, pemegang repo boleh menjual saham yang merupakan jaminan, apabila harga saham turun pada level tertentu (biasanya sekitar 20% – 50%).

Kejadian Krisis 2008 sebenarnya berlangsung cepat.  Saya juga kurang bisa mengingat detailnya.  Tapi kurang lebih seperti ini:

  • Ketika harga  saham BUMI mulai turun dari level tertingginya (ketika itu masih diatas 7000) menuju level psikologis 5000, pemilik dari repo mulai resah.
  • Terlebih, ketika itu, bursa dunia sedang crash.
  • Para fund manager yang merasa tidak nyaman memiliki saham BUMI dalam porto mereka, mulai melakukan posisi jual.
  • Tekanan jual dari fund manager ini, kemudian diikuti oleh forced sell dari pemegang repo.
  • BUMI mengalami suspensi gara-gara kejatuhan harga saham
  • Kondisi krisis dunia semakin parah.
  • Ibu Sri Mulyani memperpanjang masa suspensi BUMI
  • Harga saham BUMI semakin terpuruk hingga terendahnya di 385.
  • IHSG terpuruk hingga

Krisis 2008.. itu.. memang berlangsung bersamaan dengan krisis dunia.  Tapi… untuk Bursa Indonesia, krisis tersebut diperparah dengan Krisis Repo yang melanda saham BUMI (dan Grup Bakrie secara umum).  Kejatuhan harga saham BUMI yang saat itu menjadi salah satu saham Big Caps di Bursa Efek Indonesia, turut mendorong IHSG mengalami crash.

Sekarang… kalau pertanyaannya adalah: apakah saat ini krisis 2008 akan berulang… Jawaban saya jelas:

TIDAK!!!  Kondisi saat ini tidak sama dengan kondisi 2008.  Kondisi saat ini sebenarnya lebih mirip dengan pra krisis 1998!!!

Loh kok?

Iya… Alasannya begini:

  • Kondisi saat ini itu… inflasi sulit untuk dikendalikan.  Memang inflasi saat ini tidak setinggi saat itu.  Tapi, inflasi saat ini juga sulit untuk dikendalikan.
  • Pemerintahan yang ada, masih terbuai dengan kejayaan masa lalu.. Pemerintah saat ini, masih terbuai dengan ‘kemampuan untuk mempertahankan pertumbuhan diatas 6%’.. sama seperti Pemerintahan Pak Harto yang ‘terbuai dengan pertumbuhan ekonomi 7% yang terjadi dalam beberapa waktu sebelumnya.  Untuk saat ini… padahal.. angka terakhirnya sudah dibawah ekspektasi.  Kondisi perekonomian mulai memburuk.
  • Pemerintah yang ada… penuh KKN.  KKN itu.. kepanjangannya adalah: Korupsi, Kolusi, Nepotisme.  Korupsi dan Kolusi.. saat ini jelas lebih parah dari 1998.  Coba bayangkan: Inflasi sulit untuk dikendalikan, gara-gara korupsi!  Tahun 1997 aja tidak seperti itu.  Dalam hal jumlah, maupun prakteknya yang ‘serasa tanpa malu-malu’, juga lebih parah dari 1997. Terus… Nepotismenya itu loh… Hehehe… Memang sekarang belum ada anak Presiden yang jadi Menteri siy… Saya sih sudah mulai Malu punya Presiden seperti itu.

So… Koreksi ini… sepertinya hanya koreksi sesaat.  Kalau anda takut kalau koreksi saat ini seperti 2008… sepertinya enggak lah… Sekarang ini.. yang repo hanya saham-saham gurem.  Saham-saham besar gak ada reponya.  Jadi crash seperti 2008.. tidak akan terjadi.. atau minimal:

kalaupun crash, alasannya tidak seperti crash 2008… tapi lebih seperti krisis ekonomi 1997.

Sementara itu dulu deh.. pertanyaan kedua dan ketiga saya utang sebentar lagi…

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

 

 

You might also like More from author

5 Comments

  1. sason says

    Wah baca politik dgn ekonomi sekaligus

    1. Satrio Utomo says

      Hahaha… hanya membaca gejala-gejala alam Mas.. 😀

  2. eiscell says

    maaf kenapa kalau email dpt diverifikasi facebook tidak direspon? pertimbangannya apa pak?

    1. Satrio Utomo says

      Bung Eiscell,

      Saya harus yakin kalau yang tanya itu serius. Bukan sekedar orang iseng.

      Wassalam,
      Satrio

Leave A Reply

Your email address will not be published.