Sudahkah kita jujur pada diri kita sendiri?*

95

Selamat pagi…

(Tulisan ini adalah sebuah ‘recycle’ dari tulisan saya sebelumnya.  Semoga anda tidak bosan untuk membacanya.  Terima kasih.)

Saya dibesarkan di sebuah perumahan di pinggiran kota Surabaya.  Menjadi ‘arek kompleks’, saya merasa sering ‘ditipu’ atau ‘dikerjain’ ketika harus berurusan dengan ‘arek kampung’.

www.averroes.or.id

Urusan nekeran (bermain kelereng), urusan layangan (bermain layang-layang), pathil lele, apalagi kalau sudah

dhelik-dhelikan (petak umpet)… dijamin deh … kalau hari sore mendekati magrib, ketika saya harus jaga… kemungkinan besar kita dikacangin… ditinggal pulang.

Ketika awal saya belajar menjadi broker kondisinya juga kurang lebih sama.  Saya diajarkan untuk melihat beberapa indikator teknikal untuk melakukan posisi beli atau posisi jual.  Terus diberi info ini itu untuk beli.  Awalnya sih untung.  Tapi ketika market memburuk, trend turun (atau setidaknya market konsolidasi) berlangsung agak terlalu lama, akhirnya posisi saya nyangkut semua.  Terlambat cut loss, akhirnya terpaksa cut loss dalam kerugian yang sangat banyak.  Namanya juga pengalaman.  Setelah agak lama, saya baru sadar bahwa kebanyakan indikator teknikal dan rumor-rumor itu hanya bagus kalau marketnya bullish… well.. kalau market bearish… korban memang selalu berjatuhan.

Pengalaman dari ‘ditipu’ ketika masih kecil, dan ‘ditipu’ ketika besar, membuat saya berkata pada diri saya sendiri: Sudah cukup!!! Saya tidak mau di ‘bully’ lagi.  Saya tidak mau didorong-dorong ke kiri dan kekanan, tanpa saya tahu saya berbuat apa.  Saya tidak mau menjadi orang yang tidak berdaya.

Dari situ sebenarnya saya kemudian belajar.  Hal yang pertama kali saya akui adalah: Saya bodoh.  Saya tidak tahu.  Saya kurang pengetahuan. Saya harus banyak belajar.  Ini membuat saya berusaha dengan keras.  Belajar dengan tidak mengenal lelah.  Hal yang kedua yang menjadi catatan saya adalah: di pasar modal, kita tidak bisa mengandalkan orang lain.  Kalau market lagi bagus, semua orang akan membagi info kepada kita.  Akan berbagi kemenangan dan berbagi kesenangan.  Tapi ketika market bearish, ketika kita harus rugi, ketika kita harus cut loss, ketika kita harus berhadapan dengan forced sell, tidak ada orang lain yang akan berada di sisi kita.  Kata-kata seperti: Boro-boro ngurusin kamu.  Saya sendiri dalam incaran forced sell.  Tapi yang paling sering: menghilang.

Pencapaian level 5000… atau bahkan 5250 pada IHSG… seakan seperti pesta pora.  Semua orang berbahagia.  Semua orang juara.  Tapi.. tidak lama setelah itu, IHSG langsung terkoreksi.  Gak tanggung-tanggung.  Koreksinya langsung hampir 1000 poin.  Sebuah hal yang normal sebenarnya.  Tapi.. apakah semua orang siap menghadapi koreksi itu?

Saat-saat seperti ini, saya selalu memandang portfolio saya (dan selalu mengajak orang-orang di sekitar saya untuk memandang portfolionya). Pertanyaan-pertannyaan seperti:

  • Sudahkah saya memperoleh keuntungan dalam trading?
  • Apakah keuntungan saya adalah hasil dari prediksi saya, atau hanya sekedar untung-untungan saja?
  • Apakah saya sudah berhasil mengendalikan kerugian saya?
  • Jika ada posisi yang masih nyangkut, posisi ruginya mau diapain?
  • Posisi rugi itu salah siapa?  Apakah salah saya dalam memprediksi? Atau karena saya kurang disiplin dalam melakukan rencana trading yang telah saya tentukan sebelumnya? Atau karena salah saya telah mengikuti pendapat orang lain (yang sekarang tidak tentu kemana rimbanya)?

Setelah sepuluh tahun lebih saya malang melintang di pasar modal Indonesia, saya sudah banyak melihat orang berhasil memperoleh keuntungan besar dan juga orang yang jatuh.  Kalau yang berhasil, mungkin orang pasti sudah banyak cerita-ceritanya.  Tapi untuk orang yang jatuh (hingga habis seluruh harta bendanya, bahkan dibenci oleh istri/suami dan anak-anaknya), beberapa persamaan yang sering saya dapati adalah:

1.  Mereka sering tidak tahu perbedaan antara trading dan investasi

Permasalahan ini sebenarnya sudah sering saya bahas.  Anda mungkin bisa melihat pada tulisan saya terdahulu mengenai hal ini.

2.  Mereka tidak tahu perbedaan antara ‘pintar’ dengan ‘beruntung’

Profit yang baik adalah profit yang didapat berdasarkan suatu cara atau metodologi.  Metodologi ini bisa berasal dari suatu prediksi, atau bisa juga dari suatu cara transaksi (strategi beli – jual).  Nah.. ketika market sedang bergerak dalam sebuah trend naik yang panjang seperti apa yang terjadi sejak Oktober 2008 – November 2010 kemarin, atau seperti juga ketika IHSG mencapai rekor tertinggi di 5251 beberapa waktu yang lalu, perbedaan antara pintar dengan lucky memang tidak terlalu terlihat dengan jelas.  Akan tetapi, konsolidasi yang berkepanjangan atau sebuah trend yang sangat curam dalam waktu yang sangat singkat, sering kali bisa digunakan menjadi pembeda antara kedua golongan itu.  Seorang yang bertransaksi berdasarkan kepintarannya, pasti akan mengetahui apa yang harus diperbuatnya pada posisi yang sekarang tengah dipegang.  Mau di cut loss, mau ditahan (dalam hal karena posisi itu adalah posisi investasi), mau di average down.  Semua sudah jelas.  Disisi lain, seseorang yang hanya lucky, biasanya hanya bisa menunggu.  Menunggu harga kembali ke modalnya, atau menuggu trend naik berlangsung lagi.  Atau menunggu portfolionya di ambil oleh algojo forced sell. Saya tidak tahu anda berada di golongan yang mana.  Tapi yang jelas, saya tidak mau berada di golongan yang kedua.

3.  Mereka tidak tahu kemampuan diri sendiri

Ketika market bullish, semua orang yang berhasil meraup keuntungan akan bilang: Saya pintar.  Saya mampu.  Saya percaya diri.  Dengan rasa percaya diri ini, kemudian mereka mengambil posisi-posisi yang beresiko: main saham-saham gorengan, atau bahkan melakukan posisi margin. Nggak usah di pasar modal sih.  Orang yang lupa diri, dengan mudah memang sering ditelan oleh ganasnya kehidupan.

4.  Mereka percaya kepada orang lain

Ketika anda memulai untuk bermain saham di Bursa Efek Indonesia, anda akan berkenalan dengan orang-orang yang baru.  Biasanya, yang paling dulu anda kenal adalah broker saham dan orang-orang sekuritas.  Tapi, sejalan dengan kemamuan anda untuk ‘mencari info yang menguntungan’ anda akan berkenalan dengan orang-orang yang lebih luas (termasuk juga dengan saya melalui weblog ini.. :D).  Dari pengalaman saya, saya menggolongkan orang yang berada di sekitar seorang pemodal, menjadi golongan berikut:

  • Traders (orang-orang yang berhasil melompat-lompat dari satu saham ke saham yang lain, cuman sering kali sulit juga mengikuti orang seperti ini karena kita tidak bisa berada di sekitarnya dalam 24 jam sehari atau minimal ketika jam trading).
  • Analis (orang-orang yang memberikan rekomendasi berdasarkan suatu cara analisis, tapi kalau rekomendasinya keliru, mereka berlindung dibalik disclaimer)
  • Conthong-ers atau Omdo-ers (orang yang suruh beli ini beli itu tanpa berdasarkan analisis yang jelas,  kalau market bearish, mereka menghilang, nanti kalau market bullish, mereka muncul lagi.  Mereka ini kadang kala/sering kali menggunakan nama palsu atau identitas yang tidak jelas.  Ini akan memudahkan mereka untuk menghindarkan diri dari tanggung jawab, atau muncul lagi dengan nama lain pada bullish market yang berikutnya).
  • Kompor bandar (Conthong-ers yang beroperasi atau berspesialisasi pada saham-saham gorengan.  Identitasnya kemungkinan besar tidak jelas.  Perbedaan antara kompor bandar ini dengan tiga golongan yang lain diatas adalah : semangat memberikan rekomendasi beli atau mengedarkan larangan melakukan posisi jual pada saham-saham gorengan ketika trend harga sudah berubah menjadi turun.  Namanya juga kompor bandar.  Mereka memang tugasnya membantu market maker dalam memperoleh keuntungan).

Saya mungkin adalah golongan yang pertama atau bisa juga golongan yang kedua (hehehe… ngaku juga kan saya akhirnya :D).  Saya tidak termasuk golongan ketiga karena saya tetap disini ketika market bullish ataupun bearish.  Saya juga bukan golongan keempat karena saya tidak beroperasi pada saham-saham gorengan.  Tapi yang ingin saya tekankan disini adalah: Ketika anda menghadapi kerugian, anda harus menghadapinya sendiri.  Orang lain tidak akan bersama-sama dengan anda ketika anda memandangi portfolio anda yang merah, atau bahkan menghadapi tantangan forced sell!!!

5.  Mereka tidak jujur kepada dirinya sendiri

Beberapa waktu lalu, seseorang ulama berpesan kepada saya:

Kejujuran itu bisa menghindarkan kita dari perbuatan-perbuatan jahat.  Dia kemudian bercerita tentang bagaimana Rasulullah SAW mencegah orang untuk berbuat kejahatan dengan berpesan agar orang itu jujur dalam perkataannya.  Orang itu kemudian tidak jadi berbuat jahat, hanya karena ketika dia berbuat jahat, dia kemudian akan terpaksa menyembunyikannya dengan berbohong.  Karena kebohongan itu harus ditutupi, maka sering kali akan menimbulkan stress.  Dan stress akan semakin besar, menggelinding seperti sebuah bola salju karena kebohongan itu harus ditutup oleh kebohongan lain, yang lain, yang lain, dst.. dst.

Bagi seorang trader, menyimpan sebuah posisi rugi, itu seperti menyimpan sebuah kebohongan.  Trading itu kan tujuannya adalah keuntungan.  Tapi ketika posisi trader itu salah, seorang trader sering kali kemudian membohongi dirinya sendiri dengan tidak melakukan posisi cut loss.  Posisi rugi ini kemudian kerugiannya semakin lama menjadi semakin besar karena trend turun berlangsung semakin lama.  Belum lagi jika kita melihat opportunity loss yang terjadi karena kita melihat saham-saham lain yang kita prediksikan naik, ternyata naik beneran.  Semakin lama kerugian akan semakin besar.  Stress semakin besar, dan kita juga semakin jauh dari tujuan awal kita, yaitu: mencari keuntungan jangka pendek.  Kita kadang kala memang harus jujur kepada diri sendiri:  Oh, posisi saya keliru karena prediksi saya keliru.  Oleh karena itu, saya harus cut loss.  Satu-dua kali cut loss gak papa lah.. yang penting, dari 10 kali transaksi, saya masih bisa menjaga bahwa sebagian besar masih berakhir dengan keuntungan, dan rata-rata kerugian yang saya alami untuk setiap posisi cut lossnya, masih lebih kecil dari rata-rata keuntungan yang saya dapatkan.  Berarti akhirnya, saya tetap untung kan?

So… Sudahkah anda jujur pada diri anda sendiri?  Tulisan ini sebenarnya hanya merupakan wake up call bagi kita semua.  Trading itu adalah sebuah proses.  Keberhasilan dalam trading itu, membutuhkan kerja keras dan pembelajaran tanpa henti.  Trading itu sebuah jalan hidup.  Dan ketika anda sudah melakukan pilihan, saya berharap anda sudah melakukannya dengan pemikiran yang sebaik-baiknya.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

You might also like More from author

6 Comments

  1. yasakasih says

    Buagus sekali

    Best Regards Andreas Yasakasih

    Sent with AquaMail for Android http://www.aqua-mail.com

    On June 22, 2013 5:12:47 PM Rencana Trading Saham Indonesia

  2. Menjadi Seorang yang “Mandiri” | SE7EN STOCK

    […] menulis tulisan ini, terus terang setelah saya membaca sebuah Tulisan dari salah satu teman saya ( Bung Satrio ) dan apa yang ada ditulisan beliau sangat mengugah dan membangkitkan semangat saya untuk terus […]

    1. Satrio Utomo says

      Mas Agung…

      Terima kasih atensinya Mas Agung… Semoga barokah untuk anda….

      Wassalam
      Satrio

  3. Dana says

    Untung saya disiplin cutloss. Berarti saya jujur, setidaknya dalam berbisnis saham. 🙂

Leave A Reply

Your email address will not be published.