Sikap Saya terhadap Saham Perbankan

109

Selamat pagi…

(Pengantar:  Tulisan berikut ini, sebaiknya hanya dibaca oleh anda yang beragama Islam. Isinya bukan ‘ceramah agama’ sih… hanya ‘etika perdagangan’.  Tapi.. lebih baik saya warning sekarang dari pada anda menyesal setelah membaca sampai ditengah-tengah.)

Barusan.. ada pertanyaan dari Bung Rahmat, salah satu pembaca dari weblog kita ini.  Pertanyaanya adalah sebagai berikut:

Saya seorang Muslim, mohon pandangan dari Mas Satrio mengenai investasi atau trading untuk saham perbankan.

Ini pertanyaan yang ‘berat’.  Masalahnya.. Saya bukan ulama.  Ilmu agama saya juga hanya bisa masuk dalam kategori ‘cukup’…. belum bisa dibilang ‘bagus’.   Tapi… saya pernah dengar dari ustadz yang selalu membimbing saya: Yang namanya ijtihad… semua orang juga boleh melakukan… selama dia mengerahkan semua ilmu terbaik yang dia miliki.

Nah.. ijtihad saya untuk masalah ‘trading atau investasi pada saham perbankan’ ini.. pertimbangan saya adalah sebagai berikut:

  1. Tidak semua Ulama bilang bahwa perbankan itu haram.  Jadi sebenarnya… sikap anda terhadap saham perbankan itu, tergantung sikap anda terhadap praktek perbankan itu sendiri.   Saya sih… saya belum bisa lepas dari praktek perbankan karena masalah fasiliasnya.   Sehinga saya belum bisa juga dibilang mengharamkan praktek perbankan.
  2. Judi itu haram. Kalau ini.. harga mati bagi saya.

So… Bagi saya.. ‘melawan judi’.. itu lebih penting dari sekedar ‘halal atau haramnya bank’.   Itu adalah posisi yang saya ambil.  Oleh sebab itu, saya selalu melihat saham dalam kerangka ‘kasus per kasus’.  Jika saham itu pergerakannya gak bisa diprediksi karena likuiditasnya kurang, meski saham itu bisnisnya halal, maka saya tidak akan sungkan untuk menghimbau orang untuk menjauhi saham tersebut.  Akan tetapi, untuk saham perbankan, saya masih mau rekomendasi (bahkan saya masih mau beli jual pada saham tersebut), selama saya masih merasa bahwa penggerak dari saham itu, adalah murni pasar.

Dalam hal trading atau investasi… dalam hal ‘melakukan perdagangan saham di pasar modal’, inspirasi saya sebenarnya datang dari sebuah cerita yang saya baca tentang Umar bin Khattab.  Dalam sebuah cerita, Umar bin Khattab r.a diceritakan pernah mengusir seorang pedagang dari pasar karena dia merasa bahwa kemampuan dari pedagang tersebut masih kurang dalam melakukan perdagangan yang benar, sehingga perilakunya malah bisa merusak harga atau merusak perdagangan.

Dari cerita itu, saya mengambil sikap seperti ini:

Jangan beli-jual saham yang anda sendiri tidak bisa bisa lakukan sendiri prediksi pergerakan harganya.

Singkatnya.. untuk melalukan beli-jual saham, sebagai seorang Muslim, kita harus mampu menjawab pertanyaan sebagai berikut:

  • Sudahkah anda mengerti cara beli-jual saham?
  • Sudahkah anda mengerti cara prediksi pergerakan harga?
  • Bisakah anda membedakan antara saham yang bagus dengan yang jelek, baik dari kriteria fundamental maupun teknikal?
  • Bisakah anda membedakan antara saham yang bisa diprediksi dan saham yang tidak bisa diprediksi?
  • Apakah anda sudah memiliki trading plan atau rencana trading sebagai road map anda dalam melakukan transaksi?
  • Apakah anda tahu bagaimana cara mengeksekusi posisi sesuai dengan rencana trading yang telah anda  buat?

Susah kan? Hehehe…  Tapi.. ketika anda sudah menjawab semua pertanyaan tersebut dengan jawaban ‘YA’.  Disitu baru anda boleh melakukan beli jual saham.  Kalau enggak… well… Umar bih Khattab mungkin sudah tidak ada disini untuk menendang anda keluar dari market.  Tapi market selalu siap untuk menendang siapapun keluar dari market dalam kondisi rugi habis-habisan.

Demikian ijtihad dari saya.  Semoga Alloh SWT mengampuni semua dosa-dosa saya apabila saya melakukan kesalahan dalam ijtihad ini.  Semoga Alloh melindungi saya dan anda dari kesalahan dan selalu membimbing kita ke jalan yang benar.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

You might also like More from author

14 Comments

  1. Afif Fauzi says

    Maaf pak, kalo saya ikut fatwa DSN aja tentang daftar saham syariah. masih banyak saham di luar sektor finance, rokok, dan miras.

    1. Satrio Utomo says

      Mas Afif…

      Itu masalah pilihan sih Mas… tidak ada yang bilang anda salah. Tapi… dari pengalaman saya… terlalu banyak orang yang mengaku ‘Islam’ atau ‘investasi/trading Islami’, tapi malah menjerumuskan orang-orang ke dalam saham-saham bandar yang notabene adalah saham-saham syariah.

      Dalam list saham syariah DSN… sempat ada saham preferen yang masuk. Padahal… saham preferen kan haram juga. DSN juga manusia kok Mas… dan yang saya lihat… mereka tidak terlalu care terhadap dunia per saham-an. Perbankan syariah jauh lebih menarik minat mereka.

      Wassalam,
      Satrio

  2. Bayu Dwi says

    Bagus Pak Tom artikelnya, membuka pikiran, khususnya untuk diri saya yang perlu masih banyak belajar lagi.

    Memang benar, di market kita harus mempunyai prinsip dan pengetahuan yang cukup. Seperti misalnya, investor/trader Muslim benar-benar menjauhi saham finance. Pertimbangan, saham finance dikategorikan syubhat (diragukan hukum halal atau haramnya) dan sebaiknya seorang Muslim menjauhi perkara syubhat.

    Overall, dalam bertransaksi saya memang lebih banyak condong ke DSN MUI.

    Wallahua’alam.

    Salam,
    Bayu Dwi

    1. Satrio Utomo says

      Bung Bayu…

      Thesis saya sih (saya sedang ambil S2).. nantinya.. pinginnya adalan tentang perlunya lembaga yang berkepentingan (dalam hal ini DSN) memisahkan antara saham yang beresiko rendah dan beresiko tinggi. Ini agar orang-orang yang kurang berpengetahuan agar lebih bisa berinvestasi pada saham-saham yang resikonya lebih rendah.

      Wallahu’alam bi sawab juga sih.. soalnya ngerjainnya kok seret banget.

      Mohon bantuan doanya agar bisa lancar.

      Wassalam,
      Satrio

  3. Elham says

    Pak haji, usul posting nya jam 15.45 kalau bisa lebih awal 15.30 sehingga ada waktu utk jual ataupun beli, Salam dari Doha

    1. Satrio Utomo says

      Bung Elham…

      Terima kasih atas atensinya. Mengenai postingan lebih awal.. yah.. itu tergantung adzan Asharnya juga jam berapa siy. Hang Seng tutup jam 15.00, kantor saya 15 menit dari Musholla. Kalau Ashar dekat-dekat jam 15.00.. berarti 15.45nya bisa lebih awal. Tapi.. kalau asharnya semakin dekat dengan 15.15 atau lebih.. ya 15.45nya yang harus ngalah lah… hehehe.

      Saya akan usahakan lebih awal. Tapi saya gak bisa janji deh. 😀

      Wassalam
      Satrio Utomo

      (kapan ya saya bisa sampai Doha…. :D)

  4. ecosyariah says

    Sebagai muslim saya tertarik dengan tulisan mas Satrio ini dan pengen ikut kasih komentar sesuai dengan pemahaman saya yang cetek.

    Yang saya tau… dulu ketika perbankan syariah masih sedikit, kalau gak salah waktu itu cuma ada Bank Muamalat (katanya mau IPO nih?)… waktu itu ulama-ulama NU, Muhammadiyah dan lainnya… masih bebeda pendapat… ada yang mengharamkan ada yang menghukumi darurat karena belum banyak lembaga2/perbankan syariah… ada yang mubah, makruh… dan ada yg menghalalkan sistem perbankan konvensional.

    Sekarang ketika lembaga keuangan dan perbankan syariah menjamur… setahu saya semua yang disebut di atas sepakat untuk menjatuhi hukum sistem perbankan konvensional HARAM bagi ummat muslim… dan seingat saya yang tidak sesuai itu karena dalam sistem perbankan konvensional kental dengan unsur RIBA atau transaksi yang tidak sesuai dengan syariah (pengertian saya riba bukan cuma sistem bunga saja, silahkan nanya ke mas google).

    DSN-MUI sebenarnya sudah membuat rules syariah bagi Bank Syariah, pasar modal syariah, lembaga keuangan syariah, dll… masalahnya ada di pelaku… kalau sudah menyangkut pribadi pelaku, ya itu terserah pada pilihan masing-masing, dan pilihan ini tentunya sangat dipengaruhi oleh pemahaman/logika dan kuat/tidaknya iman seseorang dalam menentukan pilihannya tsb… seharusnya sih logika tunduk sama iman, bukan sebaliknya kan ?

    Saran buat mas Satrio… monggo om google nya ditanya mengenai syarat orang yang boleh melakukan ijtihad… kalau saya tidak memenuhi syarat mas, makanya saya serahkan ke DSN-MUI yang berkompeten.

    Kira-kira gitu mas komen saya… maaf kalau salah-salah kate.

    Insya Allah kita ditunjukkan jalan yang benar dan diridhoi Allah dalam semua aspek kehidupan kita… aamiiiin…

    Wassalaamu’alaykum

    1. Satrio Utomo says

      Bung Eco…

      Saya sebenarnya dari depan sudah bikin statement dulu: Ilmu agama saya baru ‘cukup’.. belum bisa dibilang ‘bagus’. Itu sebabnya yang apa yang dihasilkan, hanya lebih kepada logika dibandingkan dari khasanah Ilmu Fiqih. Dalam logika saya… intinya adalah kemaslahatan. Kebaikan umat. Contohnya begini deh: saya lebih rela untuk rekomendasi BBRI (yang didalamnya ada BRI Syariahnya) di bawah 7000 ini.. dibandingkan dengan rekomendasi ALKA atau DKFT bahkan GTBO. (Hah? GTBO masuk dalam saham syariah? Hahahahaaha.. gile bener.. saya juga taunya baru saja setelah saya lihat daftar efek syariah Bapepam).

      Bung Eco.. Saya pingin bertanya kepada kepada hati Bung Eco yang paling dalam: Apakah tega kalau kita merekomendasikan saham GTBO, yg notabene adalah saham syariah, pada masyarakat luas setelah perilakunya yang seperti kemarin? katanya jual opsi, begitu opsi menguntungkan, ternyata malah dibatalkan. Apa nggak ngibul banget tuh? Ingat ya bung: Siapa Menipu.. itu bukan golongan kami. Itu Sabda Rasul yang menjadi pegangan saya.

      Wassalam,
      Satrio

      1. ecosyariah says

        Saya klarifikasi dulu ya mas, biar pembaca gak salah paham atau mikir yang macem-macem.

        Saya ini independent trader (home alone…hehehe) yang masih terus belajar, tidak nyantol/nggandol sana sini… gandolan saya cuma satu ALLAH subhanahu wa ta’ala, tidak punya kepentingan sana sini… misi saya cuma menghimbau trader/investor muslim khususnya untuk bertransaksi secara syariah di pasar modal kita ini… kalau mau alhamdulillaah, kalau ndak mau ya monggo saja itu pilihan masing-masing… kita semua kan akan mempertanggung jawabkan pilihan kita itu toh ?… dunia lan akherat…

        Sama kita mas, saya juga ilmu agamanya cetek dan berusaha mengaplikasikan sesedikit apapun yang saya tau dan yakini kebenarannya yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits.

        Untuk rekomendasi saham, jawabannya saya copas dari internet berikut:

        Seorang muslim dalam ajaran Islam dituntut untuk melaksanakan amar ma`ruf, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah perbuatan yang dilarang Allah SWT, sesuai dengan kemampuan yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan kekuatannya atau dengan tangannya. Kalau dia tidak bisa dengan tangannya, hendaklah dia merubahnya dengan lisannya. Dan jika dia tidak mampu merubahnya dengan lisannya, hendaklah dia membenci kemungkaran tersebut dengan hatinya.”

        Saling tolong menolong dalam kehidupan, antara satu dengan yang lain dalam hal perbaikan umat ini, Allah berfirman: “Saling tolong-menolonglah kalian atas kebaikan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah kalian saling tolong-menolong, ampo membantu atas dosa dan permusuhan”. Allah Subhanahu Wa Ta`ala memerintahkan kepada kita untuk bekerjasama, saling menguatkan, saling membantu antara satu dengan yang lain demi terwujudnya masyarakat yang senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala, senantiasa taat kepada Allah Subahanahu Wa Ta’ala. (lengkapnya di sini: http://kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=amarmarufnhmungkar )

        Kalau saya tau dan paham bahwa suatu saham syariah itu tidak baik untuk direkomendasikan maka saya pasti tidak akan melakukannya… apalagi bisa mencelakakan orang yang membelinya. Pengetahuan dan info saya terbatas mas, jadi kalau saham2 butut ada yang masuk dalam list sinyal bagus jelek yang biasa saya post di blog itu murni berdasarkan filter TA saja… tidak ada maksud mencelekakan orang.
        Saya juga heran koq… kenapa pada daftar efek syariah (DES) itu bisa masuk saham-saham butut, saham-saham yang kerjanya tidur atau saham-saham jelek lainnya ? … makanya membaca rencana Thesis mas Satrio, saya sangat senang dan mendukung 1000%… agar kelak filter DES itu lebih ketat sehingga saham-saham jelek itu tidak lagi bisa masuk ke DES… kalau saat ini kesan saya isi DES atau ISSI itu sengaja dibanyakin untuk memberi kesan kepada investor atau calon investor muslim bahwa saham syariah juga banyak koq di BEI… tanpa peduli apakah saham itu bagus atau jelek tapi citra syariah yang ditekankan.

        Karenanya Tips dan Warning dari mas Satrio di bawah ini semacam menjadi syarat penting bagi muslim atau siapa saja yang akan mencari nafkah di pasar saham, sehingga memiliki “tameng” kuat… tidak mudah galau dan terombang-ambing… dan masing-masing punya filter lagi jika membaca rekomendasi orang:

        Singkatnya.. untuk melalukan beli-jual saham, sebagai seorang Muslim, kita harus mampu menjawab pertanyaan sebagai berikut:
        • Sudahkah anda mengerti cara beli-jual saham?
        • Sudahkah anda mengerti cara prediksi pergerakan harga?
        • Bisakah anda membedakan antara saham yang bagus dengan yang jelek, baik dari kriteria fundamental maupun teknikal?
        • Bisakah anda membedakan antara saham yang bisa diprediksi dan saham yang tidak bisa diprediksi?
        • Apakah anda sudah memiliki trading plan atau rencana trading sebagai road map anda dalam melakukan transaksi?
        • Apakah anda tahu bagaimana cara mengeksekusi posisi sesuai dengan rencana trading yang telah anda buat?

        Pasar saham Indonesia memang penuh dengan berbagai karakter manusia dan perilaku yang aneh-aneh… ada yang baik seperti mas Satrio, ada juga yang jelek dan ada juga yang cuek, gak peduli halal haram yang penting cuan… kalau melihat ummat muslim yang seperti ini saya prihatin dan sedih karena ndak bisa berbuat banyak seperti mas Satrio yang followernya sudah bejibun.

        Setahu saya kita tidak boleh mencampur adukkan amalan yang baik dan yang buruk… sholat tapi korupsi… tapi kan untuk sedekah membangun mesjid… ini adalah contoh amalan yang sia-sia… sama kek Robin Hood.

        Mungkin ayat dan hadist ini ada relevansinya dengan rekomendasi BBRI atau saham non Syariah lainnya?

        “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al Maidah: 2).

        “Kebaikan adalah akhlak yang baik. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang meragukan dalam hatimu dan engkau tidak suka jika dilihat oleh manusia.” (HR. Muslim no. 2553). Jadi manusia ada yang secara naluri mengingkari kemungkaran, inilah yang masih memiliki hati yang selamat.

        Maaf kalau ada salah-salah kate.

        Kebenaran datangnya dari Allah… kesalahan karena kebodohan saya.

        Sukses thesisnya mas… dan cepetan diselesain… aamiiiin…

        Wassalaamu’alaykum.

  5. rahmat romansah says

    Terima kasih Mas Satrio atas sharingnya, sedikit banyak ini memberikan pencerahan kepada saya.

    Sesuai dengan penjelasan mas, sebagai orang baru saya harus banyak belajar, dan yang paling praktis bukankah kita harus bertanya kepada orang yang kita anggap lebih ahli, lebih berpengetahuan dan lebih berpengalaman?

    Saya do’akan semoga Mas Satrio sukses selalu dan semakin luas lagi dalam ilmu sehingga bisa lebih banyak lagi membimbing yang lain.

    Salam,
    Rahmat

    1. Satrio Utomo says

      Amin Mas… Matur nuwun… Sukses juga buat Mas Rahmat…

  6. agung says

    sepertinya ada ukuran yang berbeda antara syariah dan likuiditas. kacamata Mas Satrio dan Mas Eco mengarah ke aman secara syariah dan likuiditas. Padahal likuiditas lebih merefer pada size dan minat pasar. Jadi kurang pas saja ukurannya saham syariah itu harus likuid pula. yang pas menurut saya sih, ada saham syariah, kemudian ada saham likuid. terserah investor mau yang mana. kalo mau smart, harusnya yang syariah dan likuid. mungkin segitu komennya Mas… 🙂

    1. Satrio Utomo says

      Mas Agung…

      Ukuran saya dua mas: Syariah dan Likuiditas. Dua-duanya harus terpenuhi. Agar pemodal syariah pemula tidak terjebak dalam permainan bandar-bandar lokal yang maunya hanya nipu itu. Sebenarnya… terserah juga kalau Mas Eco tetap mengharamkan saham-saham perbankan. Tapi bagi saya.. yang lebih penting.. orang-orang seperti Mas Eco juga mengharamkan saham-saham penipu.

      Karena alasannya sederhana: Siapa Menipu… Itu bukan golongan kami.

      Wassalam,
      Satrio

Leave A Reply

Your email address will not be published.