Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Its all about ‘TIMING’

232

Selamat pagi…

(Pengantar: Berikut ini adalah tulisan saya untuk rubrik Wake Up Call pada Harian Kontan, edisi hari Senin 8 Juli 2013 kemarin.  Mohon maaf saya baru bisa upload hari ini karena kesibukan saya.  Wassalam, Satrio)

Mungkin sebagian orang menilai pernyataan Saya tiga minggu yang lalu terlalu keras.   Masa analis disamakan dengan tukang becak.  Bukan karena saya memandang rendah profesi tukang becak.  Tapi, ketika seseorang analis yang memiliki ‘kekuasaan’ atau ‘massa’ sedemikian besar di pasar modal, sekelas pengemudi dari supertanker, memberikan prediksi bahwa IHSG bakal turun lebih dari 10 persen, setelah pasar turun lebih dari 10 persen dalam waktu yang sangat singkat, itu benar-benar seperti mendorong orang yang panik ke dalam jurang.  Apalagi, setelah itu IHSG malah naik ke level 4800-an.  Dua kali lagi!  Ya Ampuun… benar-benar kebangetan.

Sebenarnya… Kalau ada orang mau prediksi IHSG 4000, 2000, 1000, atau bahkan 100 sekalipun… Buat pasar tidak bakal pernah menjadi masalah.  Sayapun, belakangan juga sudah mulai open mind:  Dalam publikasi Market Outlook Juli 2013 pada akhir bulan kemarin, ketika IHSG ditutup diatas level psikologis 4800, Saya juga sudah tidak mau ‘mengunci’ kemungkinan bahwa IHSG ‘tidak mungkin’ bakal mencapai level 4000.  Meski… Saya tetap berharap bahwa kalaupun masih bisa turun lagi.. IHSG suport di 4200-4400 tetap akan mampu menahan koreksi yang bakal terjadi.   Meski (lagi)… Saya tetap berharap adanya ‘keajaiban Ramadhan’ yang bisa membawa IHSG ke level psikologis 5000.  Akan tetapi… Release rekomendas rekomendasi, seorang analis sebaiknya juga memperhatikan ‘timing’ dari rekomendasi.  Analis harus memperhatikan, bagaimana kondisi psikologis dari pasar saat rekomendasi tersebut dikeluarkan.  Analis harus juga sadar bahwa ‘jika harga rebound setelah rekomendasi jual’ itu adalah ‘teramat sangat menyakitkan’ bagi pemodal manapun juga.

Tapi… tulisan ini tidak akan sepenuhnya membicarakan masalah ‘Timing’ rekomendasi.

Saya sebenarnya lebih tertarik dengan fenomena ‘timing buy or sell’ ketika proses pembentukan ‘closing price’ tengah berlangsung.  Hal ini menjadi menarik untuk dibicarakan karena belakangan ini, sering kali terjadi lompatan harga ketika closing market, yang membuat beberapa pelaku pasar kemudian menjadi ‘gerah’.

Untuk menjelaskan mengapa lompatan harga ini bisa terjadi, Saya mencoba sharing pengalaman Saya dulu ketika menjadi floor trader.

  • Pemodal dengan size yang cukup besar (bisa institusi atau individu, bisa lokal maupun asing, meski yang sering adalah pemodal institusi asing) sering kali memiliki order yang terlalu besar untuk bisa dilakukan atau dieksekusi pada satu harga (sebagai contoh, saya menggunakan angka 50 ribu lot).
  • Order ini sering kali dilakukan dengan perintah ‘best price’ kepada floor trader (mungkin sekarang lebih cocok disebut sebagai dealer dari sebuah perusahaan sekuritas).  Artinya, dealer ini harus mampu memberikan harga rata-rata terendah untuk order beli, atau bisa juga harga rata-rata tertinggi untuk harga jual.
  • Dealer ini, kemudian melakukan posisi beli atau posisi jual dengan metode akumulasi.  Dalam metode akumulasi ini, order dilakukan berangsur-angsur sesuai dengan waktu berjalannya bursa.  Misalnya, kalau menggunakan volume 50.000 lot, itu berarti setengah jam pertama, order beli sudah harus dilakukan 10 ribu lot; hingga akhir sesi pertama, harus sudah terjadi 20.000 lot – 25.000 lot; dan seterusnya. Di akhir hari, broker tersebut sudah mendapatkan 50.000 lot dari saham yang dimaksud.
  • Di akhir hari, prestasi (baik buruknya kualitas dari dealer tersebut) sering kali akan ditentukan oleh harga rata-rata beli atau jual yang telah dilakukannya.
  • Faktor lain yang dijadikan dasar penilaian adalah: posisi harga penutupan dibandingkan dengan harga rata-rata.  Jika order tersebut adalah order beli, harga penutupan harus bisa lebih tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata.  Sebaliknya, jika order tersebut adalah order jual, maka harga penutupan harus lebih rendah daripada harga rata-rata.  Ini untuk menunjukkan bahwa si pemberi order tersebut, sudah mendapatkan potential gain (keuntungan potensial) pada saat penutupan pasar.  Potensial gain ini akan memberikan good impression (kesan baik) bagi pemberi order agar pemberi order kembali menggunakan jasa dari dealer tersebut.

Apakah semuanya terjadi karena alasan seperti itu? Tentu saja tidak.  Belakangan, sebagian dari order beli yang terjadi pada saham-saham berlikuiditas kecil, sepertinya hanya berfungsi sebagai jebakan saja.  Harga ditarik tinggi sehingga memberikan signal beli, tapi kemudian keesokan harinya langsung jeblok karena tidak diikuti volume yang masuk ke market.

Bagaimana cara pemodal untuk mensikapinya? Well… kalau yang jebakan… terutama yang dilakukan pada saham dengan fundamental yang tidak jelas.. ya sudah lah.. memang anda tidak perlu memperhatikannya, karena kejadiannya sangat random dan sulit untuk bisa diambil kesempatannya.  Akan tetapi, kalau lompatan harga terjadi pada saham-saham blue chip, saya kira itu adalah kesempatan bagi para trader untuk bisa melakukan posisi beli pda saham dengan harga yang lebih murah, atau juga menjual pada harga yang lebih tinggi.  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Mengambil posisi pada closing session, resikonya sangat tinggi karena pemodal ‘dipaksa’ untuk mengambil posisi ‘simpan semalam’
  • Posisi spekulatif sebaiknya hanya dilakukan pada saham-saham yang memiliki korelasi yang tinggi terhadap pergerakan IHSG.
  • Perhatikan arah dari bursa regional.  Posisi beli sebaiknya hanya dilakukan jika pemodal yakin bahwa Indeks Dow Jones Industrial (DJI) bakal bergerak naik pada pergerakan malam harinya.  Posisi jual sebaiknya hanya dilakukan jika pemodal yakin bahwa Indeks Dow Jones Industrial bakal bergerak turun pada malam harinya.
  • Perhatikan arah trend jangka pendek dari saham tersebut.   Posisi beli sebaiknya hanya dilakukan pada saham dengan trend jangka pendeknya sedang berada dalam trend naik. Dan sebaliknya, posisi jual sebaiknya hanya dilakukan pada saham yang sedang berada dalam trend turun jangka pendek.
  • Terkait dengan masalah trend ini, sepertinya pemodal juga harus memperhatikan juga suport dan resistennya.  Sebaiknya, posisi beli hanya jika pemodal yakin bahwa harga masih tetap ditutup diatas suport yang kuat.  Posisi jual juga dilakukan jika pemodal yakin bahwa kenaikan harga yang mungkin terjadi, tidak membuat trend harga kemudian berubah menjadi naik.

Melakukan posisi beli atau posisi jual pada saham-saham yang mengalami lompatan harga pada saat sesi penutupan, sering kali terasa atau terlihat sebagai langkah untung-untungan.  Akan tetapi, apabila pemodal memanfaatkannya sebagai alat untuk melakukan positioning, maka pemodal memiliki kesempatan untuk melakukan posisi beli harga yang jauh lebih rendah, atau sebaliknya, bisa melakukan posisi jual pada harga yang jauh lebih tinggi.  Saya sih melihat bahwa lompatan harga yang terjadi adalah sebuah kesempatan, meski pemodal juga harus juga sadar bahwa positioning ketika sesi penutupan seperti itu, resikonya sangatlah tinggi.  Positioning ketika sesi penutupan seperti itu, sebaiknya dilakukan dengan rencana trading yang benar, agar pemodal bisa mendapatkan manfaat yang maksimal.

Terakhir… mengenai masalah timing ini, Saya juga melihat bahwa Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba.  Itu sebabnya, Saya melihatnya sebagai timing yang tepat untuk mengucapkan:

Selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan, Mohon Maaf Lahir dan Bathin…

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

 

2 Comments
  1. taufiq says

    Terima kasih Pak, sudah menyempatkan tulisan ini pada hari libur. Selamat menjalankan ibadah puasa mohon maaf lahir bathin, semoga ibadah puasanya semakin meninggikan kualitas hidup Bapak…..

    1. Satrio Utomo says

      Aamiin… Teria kasih Mas… Semoga Alloh SWT terus memberikan limpahan rejeki kepada Anda dan menjadikan kehidupan anda lebih barokah.

      Wassalam,
      Satrio

Leave A Reply

Your email address will not be published.