Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Trading Psychology: Seven Deadly Sin of Trading

279

Selamat siang…

Kemarin, saya sudah membahas mengenai ‘Kesalahan Mematikan’ yang bisa dilakukan oleh seorang trader.  Sayangnya.. karena kesibukan saya, saya belum sempat memberikan penjelasan yang lebih dalam mengenai hal-hal tersebut.

Deadly Sin #1: Fail to Cut the Losses Short

Apa sih yang paling berharga yang dimiliki seorang trader? Kemampuan prediksinya? Informasi yang dimiliki? Software grafik? Sekuritas yang kuat dan selalu rajin dalam memberikan margin? atau OLT yang lengkap dan reliable?

Setiap trader itu harus sadar bahwa kekayaannya, modal dasar transaksinya.. adalah miliknya yang paling berharga.

Itulah sebabnya, seorang trader harus mampu ‘melindungi’ kekayaannya tersebut dengan cara mengelola kerugian yang muncul dari transaksi yang dilakukannya.  Dalam trading, kita harus sadar bahwa kerugian adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan.  Akan tetapi, selama kita bisa menjaga kerugian tersebut agar tetap kecil, belajar ‘cut loss’ secara profesional, adalah kunci utama dari kemenangan.    Selama kita bisa menjaga posisi kalah tetap kecil, profit akan datang dengan sendirinya.

Saran dari Velez dan Capra agar kita bisa Cut the Losses Short adalah sebagai berikut:

  • Kalau trading, jangan lupa menetapkan stoploss.
  • Disiplin dalam mengeksekusi cut loss,
  • Kalau anda enggan untuk disiplin, setidaknya jual setengah dari posisi yang anda lakukan agar kita bisa ‘membuka peluang’ untuk tetap disiplin.

Deadly Sin #2: Dollar Counting

Tujuan dari setiap transaksi adalah profit.  Tapi.. selalu memperhatikan profit atau loss dari posisi yang kita lakukan, bisa mengacaukan trading plan yang telah kita susun.  Misalnya gini deh.. Setelah beli… kita terus berhitung.. harga naik 1%, 2%, 3%, 5% dst.. ketika harga mencapai 7%.. kita kemudian memaksakan untuk take profit karena merasa bahwa keuntungan kita sudah cukup.  Padahal, kalau kita lihat trading plan awal kita, kita sudah menyusun trading plan berdasarkan asumsi bahwa pergerakan harga bakal memiliki target price dengan potensi kenaikan sebesar 15%.

Ketika melakukan Dollar Counting, seorang trader cenderung akan memiliki perilaku ‘berani rugi gak berani untung’.  Ketika untung 3 – 5 poin, dia akan melakukan profit taking.  Tapi, ketika rugi sudah berlarut-larut, sampai 5 – 10 persen, dia akan tetap melakukan hold atas posisi.

Solusinya adalah:

  • Ketika melakukan positioning, seorang trader harus memiliki dua buah exit.  Ketika seorang trader melakukan posisi beli, berarti akan ada dua posisi jual: jual ketika untung (target price), dan jual ketika rugi (stoploss).
  • Disiplin.  Posisi setelah melakukan posisi beli, posisi jual hanya dilakukan ketika salah satu dari target price atau stoploss itu kena.
  • Kalau anda benar-benar tergoda untuk melakukan posisi jual, jualah hanya setengah dari posisi.  Sisakan 50% untuk dijual pada posisi stoploss atau target price.

Deadly Sin #3: Switching Time Frames

Hehehe… anda pernah lihat trader yang mbulet? Selalu berbelit?  Seorang trader yang tidak disiplin itu, selalu berusaha mencari alasan untuk tidak melakukan posisi cut loss.  Seorang trader yang tidak disiplin itu selalu punya alasan untuk menahan posisi dengan cara berubah time frame.  Misalnya niy.. seorang trader trading dengan menggunakan chart harian.  Setelah beli, stoplossnya kena, trader ini kemudian mencari-cari alasan untuk menahan posisi dengan melihat chart mingguan.  Ketika dia melihat bahwa chart mingguan belum tembus suport.. maka dia akan menahan posisi.  Terus.. ketika chart mingguan menembus suport.. bukannya cut loss.. tapi malah lihat chart bulanan.

Cara mengatasinya:

  • Ketika kita menganalisis, kita boleh saja menggunakan chart periode apapun.  Tapi, ketika posisi trading sudah dilakukan, tetaplah bertahan menggunakan chart periode yang sama sampai posisi jual dilakukan.
  • Kalau bikin stoploss yang disiplin.. jangan terus disesuaikan terus sesuai dengan kemauan anda.

Deadly Sin #4: Needing to Know More

Galau.  Gak punya posisi galau.. punya posisi galau juga.  Sebagian orang akan terus menerus mencari alasan atau berita yang bisa digunakan sebagai pembenaran untuk setiap aksi (entah itu beli, jual, atau hold) yang akan dilakukannya.  Kalau sudah gitu, reaksinya biasanya lamban… atau malah.. gak ada aksi.  Harga bergerak kemana-mana.. masih dieeem saja. Beli enggak. jual enggak.  Atau.. ketika harga reversal.. trader ini tidak action … tapi terus mencari berita.  Tapi.. ketika harga sudah bergerak 10 persen.. beritanya keluar.. baru dia melakukan posisi beli.  Yang didapet cuman satu: Nyangkut!

Cara mengatasinya:

  • Trading berbasis chart ajah…
  • Yang penting.. aksi dulu… beritanya atau alasan itu bisa dicari belakangan.

Deadly Sin #5: Terlalu cepat puas

Lupa daratan, lautan, dan kepolisian… adalah kebiasaan seorang trader.  Coba deh lihat.. kalau market sedang bullish.  Kita kadang-kadang bisa 5 – 6 kali menang berturut-turut.  Kalau sudah begini, orang kemudian lupa.  Terus berpikir bahwa kita bisa terus menang sampai 10-20 kali.  Ketika posisi stoploss pertama kena, posisinya dibiarin ajah.  Tidak disiplin. Hehehe.. Ancur deh.

Saya juga mengartikan ‘terlalu cepat puas’ ini sebagai sesuatu yang berbeda.  Banyak orang sering kali cepat puas ketika dia sudah mencapai comfort zone.   Terlalu cepat dengan ilmu yang dimiliki kemudian berhenti belajar… berhenti membaca.  Padahal… ketika kita berhenti belajar.. disitu kita mentok.  Tidak berkembang.

Deadly Sin #6: Winning The Wrong Way (salah mengartikan kemenangan)

Bibit dari penyakit ini, sering kali menjangkiti seorang trader ketika market sedang bullish.  Ketika market sedang bullish, seorang trader sering kali ‘melewatkan kesempatan’ untuk melakukan cut loss.  Ketika stoploss kena.. dia cuman bilang: ditahan aja deh.. nanti kan naik lagi.  Setelah itu.. harga memang naik lagi.  Ketika dia melakukannya berulang-ulang.. dia merasa sudah melakukan hal yang benar.   Setelah itu.. trend dari market berubah menjadi bearish.  Nyangkut pertama.. gak langsung di cut loss.  Setelah itu.. market turun 10% – 15%.. harga saham turun lebih dari 20%… Jadi nyangkuters deh…

Orang itu sebaiknya tahu.. dia itu menang karena beruntung… atau menang karena memang dia pintar.  Pendekatan kita dalam trading.. harus bisa diterapkan dalam kondisi market seperti apapun.  Kalau strategi trading itu hanya bisa diterapkan ketika market bullish.. dan macet ketika market bearish.. dan kemudian dia terus memaksakannya.. seakan-akan cara tersebut bisa selalu dipakai kapanpun… bisa jadi dia memang sudah terkena penyakit ‘winning the wrong way’ini.

Cara mengatasinya?

Velez dan Capra menyarankan agar trader selalu melakukan review atas posisi trading yang sudah dilakukannya.  Trader juga harus tahu bahwa musuh terbesar dari seorang trader adalah 2 buah huruf H : Holding (menahan posisi keliru), dan Hoping (berharap bahwa pada suatu saat nanti, posisi keliru yang kita lakukan.. akan berubah menjadi posisi benar).  Duh…

Deadly Sin #7: Rationalizing

Tahukah anda bahwa terlalu banyak berpikir bisa membuat trader mengalami kekalahan? Terlalu banyak saya bertemu dengan orang orang yang punya portfolio penuh angka merah… tapi dengan bangganya bilang: loh.. itu saya hold karena fundamentalnya masih bagus… bla.. bla.. bla.. dst… dst.. dst. Saya nahan posisi itu karena ada berita ini.. itu.. ini.. itu.  Yah.. itu biasanya karena nyangkutnya baru saja.. belum ada satu bulan.  Coba dilihat.. 3 bulan.. 6 bulan.. 1 tahun kemudian… ketika hampir seluruh uangnya sudah tertahan di posisi nyangkut.  Mau cut loss? Pasti sudah terlambat.. potensi kerugiannya, pasti sudah setinggi gunung.

Cara mengatasinya?

Anda harus tahu gejala gejala ketika anda melakukan ‘rationalizing’:

  • Kalau anda sudah mulai ‘tanya kenapa’.. sadarlah bahwa disitu anda sedang melakukan rationalizing.
  • Kalau anda sudah mulai mencari berita setelah posisi anda rugi agak dalam.. sadarlah bahwa disitu anda sedang melakukan rationalizing.
  • Kalau sudah pake kata-kata ‘mungkin’ (maybe)..  sadarlah bahwa disitu anda sudah mulai melakukan rationalizing.

Anda harus berusaha untuk exit posisi.  Disiplin kalau stoploss kena.  Anda kan sudah bikin trading plan.  Kalau stoploss kena.. lakukan.. jangan terlalu banyak dipikirin.

—————–

So…  Kesalahahan mana yang sudah anda lakukan?  Saya sih.. bukannya saya tidak pernah lakukan.  Terutama.. masalah ‘Dollar Counting’ itu.. saya juga masih sering mencoba untuk ‘ayun posisi’ dan ternyata gagal.  Setelah dijual.. bukannya turun.. tapi harga masih terus naik.  Tapi saya terus berusaha agar semakin hari.. kesalahan tersebut bisa semakin jarang saya lakukan.  Agar saya bisa mendapatkan hasil terbaik dari posisi trading saya: PROFIT!

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.