Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Masih terus berharap pada pasar modal syariah…

8 667

Selamat pagi…

(mohon maaf… tulisan ini sebaiknya hanya dibaca oleh mereka yang Muslim.  Terima kasih).

Sepertinya… ada hal yang harus saya luruskan sedikit.  Kalau anda baca di Harian Neraca hari ini, 24 Oktober 2013, judulnya terlihat terlalu keras: Pasar Modal Syariah: Pepesan Kosong (atau semacam itu deh).

Terus terang, saya menyesalkan kutipan yang terlalu keras tersebut.  Meski sebenarnya, kemarin saya memang benar-benar meluahkan kekecewaan saya terhadap perkembangan pasar yang terjadi belakangan ini..   Saya kecewa…  setelah saya menemukan adanya Saham Hotel dalam list saham syariah terakhir.   Terlebih… karena saya kemudian mendalami.. bahwa Hotel tersebut, ternyata memiliki restoran yang masih menjual daging babi.

Intinya sebenarnya begini:

Mungkin… saya terlalu banyak berharap terhadap konsep dari pasar modal syariah….

Agama… Agama itu adalah sesuatu yang sakral bagi saya…  Saya memandang agama sebagai sesuatu yang sangat penting.   Konsep agama tersebut, saya pegang di lubuk hati saya yang paling dalam.  Nalar memang masih saya gunakan dalam menentukan benar atau salah.  Tapi.. dalam kondisi tertentu, hati saya yang lebih cenderung bergerak.

Setelah lebih dari 10 tahun saya berkarir di pasar modal… ada satu pelajaran yang saya dapatkan:

tidak semua orang di pasar modal itu, memiliki niatan baik..

Sebagaian besar dari pemegang saham utama, manajemen dari perusahaan, dan/atau orang-orang yang memiliki kekuasaan terhadap pergerakan harga saham dari perusahaan, memang memiliki niatan baik dalam berusaha.  Niatan baik ini, berarti pemegang saham utama ini, melakukan bisnis dengan asas: sebesar-besarnya kemaslahatan umat, sebaik-baiknya kepentingan bersama.  Perusahaan yang seperti ini, akan selalu memaksimalkan laba bersih.  Laba besih yang diperoleh dari aktifitas operasi perseroan, yang diperoleh dari penjualan perusahaan.

Problemnya adalah: sebagaian lain dari pemegang saham utama, manajemen dari perusahaan, dan/atau orang-orang yang memiliki kekuasaan terhadap pergerakan harga saham dari perusahaan, memiliki niatan yang tidak baik terhadap pemegang saham minoritas, pemegang saham retail.  Mereka ini, sejak awalnya memang memiliki niatan tidak baik.

  • Mereka melakukan pergerakan harga saham, sebagai sebuah permainan, dimana mereka untung dan pemegang saham retail merugi.
  • Mereka mereka rela untuk menyebar rumor bohong, sekedar untuk memancing orang untuk melakukan posisi beli atau jual yang ‘persis dengan kemauan mereka’ (kalau harga mau bergerak turun, mereka memberikan berita-berita bagus agar orang-orang melakukan posisi beli, nyangkut, dan kemudian cut loss, dan demikian pula sebaliknya).
  • Dalam kondisi terburuknya, mereka (dengan sengaja) melakukan aksi-aksi korporasi yang sedemikian rupa, sehingga terkadang kita bisa berpikir bahwa tidak mungkin aksi sabotase seperti itu, tidak mereka lakukan secara terencana dan sengaja.

Yang lebih menyakitkan lagi… adalah: apa yang dilakukan oleh orang-orang ini,  kemudian dibaca secara ‘lugu’, secara ‘naif’ oleh mereka yang dianggap oleh sebagian sudah ‘ahli’ (meski sebenarnya pengalamannya baru sedikit).

Ceritanya begini:

Analisis teknikal dengan menggunakan indikator, adalah analisis teknikal termudah dan tercepat untuk dipelajari.  Ketika market sedang bullish,  ‘analisis-analis dadakan’ pasti banyak yang muncul dengan senjata ini.  Analis teknikal dengan menggunakan indikator, memberikan rekomendasi berdasarkan signal beli atau signal jual.  Kondisi fundamental perseroan, sering kali mereka abaikan.  Nah.. sebagian dari ‘analis dadakan’ ini, kemudian mengunakan label ‘syariah’ didalam ‘tagline’nya.  Mereka berfokus untuk memberikan rekomendasi beli jual secara teknikal, pada saham-saham yang berbasis syariah.

Apa yang terjadi ketika mereka kemudian (entah sengaja atau secara tidak sengaja) tertarik untuk memberikan rekomendasi pada saham-saham yang ‘jahat’ seperti diatas? Yang ada sering kali adalah: ‘signal beli, mereka beli, signal jual mereka cut loss’. beli, cut loss, beli cut loss..

Atau yang lebih jelek lagi: kalau mereka ini ternyata bukanlah trader yang disiplin:  beli, signal jual muncul, kemudian mereka memberikan rekomendasi untuk hold saham yang sudah dibeli, dengan berbagai alasan fundamental yang ada.  Padahal.. alasan fundamental tersebut, ternyata pada suatu hari nanti diingkari, ketika harga sudah terlanjur jatuh terlalu dalam (turun sekitar 30% – 50%).

Sekarang saya mau bertanya: dalam kasus diatas… manakah pihak yang paling ‘jahat’?

  • Emiten yang bekerja sama dengan penggerak harga?
  • Pemberi rekomendasi yang ‘lugu’?
  • Pemodal saham yang kurang memiliki ilmu?
  • Bursa dan OJK (dan juga Dewan Syariah Nasional/MUI) yang telah memasukkan saham-saham jahat tersebut ke dalam saham syariah?

Jahat…. emang orang bisa dihukum karena jahat?  Apakah jahat itu membuat orang secara otomatis bisa dihukum?

Jelas tidak.

Indonesia adalah negara hukum.  Seseorang baru bisa dihukum, apabila terbukti melanggar hukum.  Berbuat jahat, jika itu tidak melanggar hukum, tidak akan membuat orang tersebut terkena sanksi.

Tapi.. berbuat jahat, itu menimbulkan dosa.  Dosa yang membuat kita bisa menerima hukuman di akherat kelak.  Dosa yang membuat sebuah jiwa masuk ke dalam neraka.

Mana yang lebih utama? Hukum Dunia? Atau Hukum Akherat?

(Hehehe.. kalau sudah begini… yang paling nyebelin… kalau ternyata ada orang yang berpendapat seperti ini: gua gak papa dosa… yang penting gua kaya… yang penting gua tidak dihukum… elu aja yang kere terus.. karena mau gua bohongin… Hehehe.. bener-bener ngeselin!!!).

Ada sebenarnya pasal karet yang bisa digunakan:

Tugas dari Bursa dan OJK.. adalah menyelenggarakan perdagangan yang wajar.

Wajarnya.. wajar dalam standar apa? Hukum Dunia?

Kita ini sedang berbicara tentang kerangka saham syariah..  Wajar itu.. wajar dalam standar hukum apa? Dunia? atau Hukum Akherat?

Saya adalah orang yang takut akan hukum akherat.  Teramat sangat takut.  Itu sebabnya, saya benar-benar kesal melihat orang-orang yang hanya sekedar bermain-main dengan hukum akherat, dengan kedok hukum dunia ‘masih boleh’.  Itu sebabnya, saya sebenarnya menginginkan sebuah aturan yang ‘sangat tegas’ dalam penerapan saham syariah.  Karena ketika kita berbicara tentang saham syariah, kita berbicara tentang agama, bukan masalah dunia semata.

Tolonglah … jangan bermain-main!  

Saham Preferen dalam list saham syariah?  Mungkin sekarang sudah tidak ada.  Tapi…

  • Saham penjual daging babi dalam list saham syariah?
  • Saham gak jelas yang suka mengubah usaha secara seenaknya?
  • Saham tukang tipu yang sering memberikan rumor-rumor bohong?

Otoritas pasar modal kita, memang sedang berusaha keras untuk meningkatkan jumlah pemodal retail.  Salah satunya adalah dengan menggunakan label ‘saham syariah’ sebagai gimmick atau tagline dari strategi pemasarannya.

Di sisi lain… Hati saya memang sedang ‘terganggu’ dengan cara mereka yang saya lihat ‘kurang serius’ dalam memandang aspek hukum akherat dalam saham syariah ini.   Nggak tau.. mungkin mereka memiliki hukum akherat yang tidak sama dengan saya.. atau.. bisa juga… ini sekedar cara pandang saya dan mereka yang berbeda, terhadap pelaksanaan hukum akherat di dunia ini.

Ah… saya hanya manusia bodoh dan tidak memiliki kekuasaan apa-apa.

Meski… saya terkadang masih sering tersenyum sendiri… melihat ada aturan penentuan saham syariah, dimana yang bertanda-tangan, semua adalah mereka yang non muslim.  Kalau dilihat dari akar permasalahannya, sepertinya DSN merasa sudah cukup untuk sekedar menetapkan kriteria saham syariah.  Mereka merasa tidak berkepentingan terhadap isi dari list saham syariah tersebut.  Padahal… bagi saya… malah disitu akar permasalahannya.  Untuk menjadi seorang investor atau trader syariah.. kita harus melakukannya pada saham-saham yang benar-benar syariah: dikelola oleh orang yang berniat baik, pergerakan harga sahamnya tidak ada tipu-menipu, sesuai dengan syarat-syarat yang ada pada saham syariah.

Sebagai kata akhir…

Saya sih tetap berharap bahwa kedepan… saham syariah bisa berkembang…

Saham syariah bukanlah pepesan kosong… mungkin rekan wartawati Harian Neraca tersebut, terlalu lugas dalam menyimpulkan isi wawancara saya kemarin.

Meski…. aduh… syariah itu masalah hati… bukan hanya sekedar nalar, apalagi hukum dunia.

Bersama ini… saya mohon maaf apabila terdapat pihak-pihak yang merasa bahwa pernyataan saya pada harian tersebut, tidak benar adanya.

Saya hanya menjalankan kewajiban yang melekat kepada saya, atas ilmu yang telah diberikan oleh Alloh SWT kepada saya.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

8 Comments
  1. rizal says

    suwunnn infonya saya selama ini hanya main saham syariah pak Tomi ( yg di keluarin DES), ini informasi manjur buat saya…supaya saya lebih hati hati….untuk memilih yang benar benar syariah…..atau memang sudah gak ada lagi yang benar benar syariah sehingga tak ada lagi lahan untuk kita bermain saham dengan rasa NYAMAN ???

  2. taufiq says

    setuju pak……… kemasan syariah mestinya dipake buat bungkus yang sesuai syariah aja jangan dicampur aduk dengan hal-hal yang ga semestinya……….
    kita semua perlu konsisten gitu ya pa ……..ga mancla-mencle….. biar masyarakat awam macam saya ga bingung……

    salam hormat,
    taufiq

  3. Afif Fauzi says

    Maaf sebelumnya pak.. kalo bagi saya cukup empat kriteria saja pak : rokok, semua finance, miras, hotel

  4. ecosyariah says

    Untung gak ada saham bank konvensional ya di ISSI / JII … kalau gak tambah puyeng tuh retail/calon investor … Soale kata ustadz mengenai rentenir amatir, “ngekeki utang dom njaluk bayare tiang listrik”… nah dulu saya pernah baca ada yang bilang kalao bank konvensional itu rentenir berdasi… rentenir pro, jadi untunglah gak masuk ISSI/JII.

    Bursa kita ini sedang berusaha menerapkan prinsip-prinsip ekonomi syariah di dalamnya, apakah tujuannya murni seperti itu atau sekedar ngejar target retail lokal… usaha ini patut dihargai. Sehingga penduduk Indonesia yang mayoritas muslim ini punya sarana Pasar Modal Syariah jika ingin investasi.

    Yah… yang namanya baru mulai ya pasti banyak kekurangannya di sana sini… tugas kita lah sebagai muslim untuk terus membantu memperbaikinya, dan jangan sampai kita malah menghancurkan “rumah” kita sendiri… dan artikel bung Tommy ini menurut saya adalah salah satu bentuk perbaikan itu.

    Kalau boleh usul ke pihak yang berwenang (yang mungkin membaca blog ini), setiap proses penentuan saham yang dimasukkan ke/dikeluarkan dari kategori saham syariah agar dilakukan secara transparan dan bisa diketahui/diakses secara detail oleh investor, sehingga investor bisa menilai sendiri apakah benar-benar sesuai prinsip syariah yang ditetapkan DSN-MUI atau tidak… dan kedepannya tidak ada kong kali kong antara emiten dengan otoritas agar sahamnya dimasukkan ke Daftar Efek Syariah… tidak tertutup seperti sekarang ini… Dengan demikian akan menaikkan kredibilitas otoritas bursa itu sendiri… dan disisi lain investor/calon investor semakin yakin dengan prinsip syariah di bursa.

    CMIIW

    Thanks,
    ES

    1. Satrio Utomo says

      Hehehe…. Mungkin ini katanya orang ngaco: Loh… Bank Konven itu pemilik bank syariah… jadi mereka harusnya masuk saham syariah juga dong…. hahahaha… canda pak.. canda…

  5. A. Yandra says

    banyak info bermanfaat pd rencana trading ini,, izin baca dan copas utk saya belajar ..

    1. Satrio Utomo says

      Silakan Bung… Terima kasih….

  6. […] masalah kemudian bertambah ketika saya selesai membuat tulisan yang lebih sesuai dengan pandangan saya.. ternyata… harga saham sudah kemana-mana!  Hehehe… Terpaksa deh… saya disiplin […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.