Pasar Modal, Bulan Puasa, dan Batu Akik*

76

Selamat sore…

Puasa sebentar lagi. Lebaran berarti menyusul. Menjelang puasa ini, kondisi dari pasar modal kita masih saja tetap seperti beberapa tahun terakhir: pemodal asing melakukan aksi jual, sebagai antisipasi atas datangnya puasa. Bukan berarti pemodal asing takut dengan ritual ibadah puasanya. Bukan karena dana asing mengalami Islamophibia. Akan tetapi.. bulan puasa memang identik dengan penurunan volume perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia. Market yang lebih sepi. Sepi yang kemungkinan besar karena orang mengurangi aktifitias spekulasi. Itu sebabnya, pemodal asing, dalam beberapa tahun terakhir, cenderung melakukan aksi jual menjelang bulan puasa. Untuk menghindari resiko kalau terpaksa harus melepas posisi ketika bulan puasa, karena ketika bulan puasa, volume perdagangan cenderung lebih sepi.

Bagaimana kondisi Bursa Efek Indonesia di Puasa 2015?

Untuk tahun 2015 ini… sejauh pengamatan saya… kondisinya juga sama.   Pemodal asing tetap cenderung melakukan posisi jual. Meski semenjak awal bulan Mei kemarin IHSG terus bergerak naik, tapi posisi dari pemodal asing di pasar reguler terlihat terus berkurang, bahkan mereka sudah mulai melepas posisi jangka panjangnya. Pemodal asing yang pada tahun 2015 sempat melakukan posisi beli hingga sebesar Rp 11,2 trilyun pada periode Januari – Maret, akhirnya melepas posisi beli yang mereka lakukan, sehingga mencapai level minus semenjak pertengahan Mei kemarin. Pemodal Asing mulai menggerus posisi ‘Jokowi Effect’ yang mereka lakukan semenjak pertengahan Desember 2013 lalu.   Sebuah signal yang tidak terlalu bagus.

150531 Aliran Dana Asing Reguler - Januari - Mei

Semenjak bulan Maret lalu, berita negatif memang lebih banyak muncul dibandingkan dengan berita positif. Dari luar negeri, issue kenaikan suku bunga The Fed, terlihat masih terus menekan. Dari dalam negeri, kita bisa melihat bahwa kinerja emiten untuk kuartal pertama 2015 banyak yang jauh dibawah ekspektasi pasar. Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama juga masih mengecewakan. Ini yang membuat pemodal asing masih terus melakukan posisi jual, meski S&P sudah menaikkan outlook dari peringkat surat hutang Indonesia.

OK.. Marketnya sepi.. terus apa lagi?

Kalau kita ketemu dengan para nasabah, yang kebanyakan adalah pelaku dari sektor riil… komentarnya tetap sama: sepi.. omset turun… nggak ada duit di luar sana.

Yah.. mau dibilang bagaimana juga… saya hanya bisa maklum. Deraan siksa dari Pemerintahan yang baru seakan-akan tidak ada hentinya. BBM (Premium) naik di bulan November, padahal harga minyak dunia sedang turun. Sudah begitu… ketika BBM akhirnya turun, harga barang lain sulit untuk diajak turun. Mana setelah itu, harga BBM kembali naik (mengikuti harga minyak) dan harga-harga kembali membumbung bersama dengan harga minyak. Suku bunga tinggi sehingga mau ngutang juga males. Biaya tenaga kerja juga naik karena kepala daerah berlomba-lomba melakukan pencitraan. Gak bayar pajak dipenjara. Pengusaha hotel juga pada sepi karena rapat-rapat sudah gak boleh di hotel. Mau spekulasi properti, aturan banknya dipersulit sehingga pasar properti benar-benar kurang jumlah pembelinya. Sudah begitu… anggaran dari proyek pemerintah, juga belum juga dikucurkan sehingga order-order pemerintah belum pada terlihat.

Sudah kondisi seperti itu… masih ditambah berita jelek yang terus muncul di berbagai media. Yang Krisis Kapolri… krisis beras hilang .. krisis beras plastik … dunia sosmed yang masih penuh komentar pemecah belah yang tiada henti.. PSSI kacau .. Indonesia dihukum FIFA .. dan masih banyak lagi.

Duh… kok jadi berasa tanpa harapan. Jadi… marketnya sepi.. dan berita-berita akant tetap jelek, seperti tidak ada harapan.

Benarkah kita sudah berada dalam negeri tanpa harapan?

Kalau saya sih… masih tetap yakin bahwa jawaban dari pertanyaan diatas adalah TIDAK. Kita masih punya harapan. Sejauh ini… Pemerintah masih terus melakukan langkah-langkah yang benar. Harga BBM yang kacau… itu karena konsekuensi dari penghilangan subsidi BBM. Subsidi BBM yang sudah bertahun-tahun menjadi beban bagi anggaran pemerintah. Subsidi BBM yang membuat pembangunan infrastruktur kita jalan ditempat. Dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi kita memang tinggi, tapi dengan pembangunan infrastruktur yang jalan ditempat. Kebijakan yang mengurangi kemungkinan perilaku koruptif juga dihilangkan, pajak dibenerin, spekulasi properti dikendalikan agar harga rumah masih bisa terjangkau oleh pembeli pertama, infrastruktur dibangun, dananya dikucurkan, bandar minyak dihapus, bandar bola digoyang, bandar narkoba dibasmi. Apa lagi ya?

Duit gak ada? Likuditas kering? Well… suku bunga memang tinggi. Itu orang yang nginjek rem pertumbuhan ekonomi… kakinya kok nggak patah-patah ya? Perlu kita berdoa supaya kakinya patah? Hehehe. Saya gak mau komen yang satu itu deh.   Tapi.. disisi lain… Pemerintah sudah berusaha untuk menggelontorkan anggaran lebih cepat… proyek infrastruktur juga dipercepat… bahkan.. untuk menambah likuditas ke pasar.. Pemerintah akan membayarkan gaji ke 13 sebelum puasa. Lapindo juga katanya akan diselesaikan sebelum Lebaran. Masihkah kurang?

Siklus Pertumbuhan Ekonomi Indonesia itu memang aneh. Kalau di negara lain pertumbuhan ekonomi bulanan itu berlangsung random atau minimal stabil. Pertumbuhan ekonomi Indonesia itu ada siklusnya:

150521 GDP Indonesia

Kuartal ke 4 (angka 1) pertumbuhan ekonomi minus, kuartal pertama (angka 2) membaik, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kuartal kedua (angka 3), dan mencapai puncaknya pada kuartal ketiga (angka 4). Terus.. minus lagi di kuartal ke 4. Jadi… meskipun kondisi marketnya jelek, berita-berita terlihat tanpa harapan… tapi kita masih ada siklus ekonomi yang biasanya menjadi harapan. Itu yang kita pegang saat ini.

Problemnya: hasil dari semua langkah pemerintah itu, baru bisa kita lihat pada pertumbuhan ekonomi kuartal kedua, yang angkanya baru akan muncul pada pertengahan bulan Juli. Jadi.. kita hanya bisa menunggu.. sambil berharap.

Lantas… Apa hubungannya dengan Batu Akik?

Fenomena batu akik itu… kalau menurut saya.. adalah sebuah fenomena dari ekonomi yang tidak jalan. Rendahnya pertumbuhan ekonomi, minimnya kegiatan ekonomi yang ‘biasa’ membuat rakyat mencari kegiatan ekonomi yang baru. Ketika sektor riil masih redup, ketika korupsi mulai sulit untuk dilakukan, ketika spekulasi property tidak bisa dilakukan, ketika suku bunga masih tinggi, ketika data-data ekonomi masih harus ditunggu… Rakyat Indonesia yang terkenal sangat kreatif menciptakan kegiatan ekonomi baru bernama Jual Beli Batu Akik. Aktifitas ekonomi yang baru, sulit tersentuh pajak, dan memiliki potensi keuntungan yang tidak terhingga. Rakyat mengisi waktu menunggu itu… dengan memunculkan kegilaan pada batu akik. Batu yang tersedia cukup banyak di negeri Indonesia yang kaya akan mineral ini… kemudian diambil, diasah, terus dijual. Belum tentu ada fundamentalnya juga. Belum tentu merupakan batu yang bagus. Belum tentu merupakan batu beneran juga. Tapi… semua tinggal dibentuk, diasah, dipromosikan, dan kalau beruntung… bisa dijual dengan harga tinggi. Orang bilangnya .. itu monkey business. Tapi setidaknya… kegilaan ini membuat terjadinya uang berpindah… membuat terjadinya kegiatan ekonomi.

Apakah Fenomena Batu Akik juga bakal terlihat di transaksi Bursa Efek Indonesia?

Hehehe… tentu saja… bukan lantas batu akik diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Di lantai perdagangan BEI.. Batu Akik-nya sedikit berbeda. Di lantai perdagangan BEI, pasar juga sepi karena puasa, sepi karena menunggu data ekonomi, dan sepi karena menunggu data kinerja. Kalau sudah begini… bisa saja Batu Akik yang kemudian bergerak. Saham-saham dengan fundamental yang kurang begitu bagus, pas-pasan atau malah gak jelas… tiba-tiba bisa melejit naik cuman karena adanya berita-berita yang sebenarnya.. belum tentu juga bakal mempengaruhi fundamental perusahaan itu secara langsung. Pergerakan saham KRAS dalam dua minggu terakhir.. adalah contohnya.   Berita keluar, harga menjulang.. sebelum akhirnya turun lagi.   Padahal… beritanya juga belum tentu berpengaruh terhadap fundamental perseroan. Tapi tetap saja: harga bergerak.

Kedepan.. sepinya pasar, sepinya sentimen, data ekonomi dan fundamental yang masih harus ditunggu, sepertinya akan membuat fenomena pergerakan harga model Batu Akik seperti itu, bakal masih akan sering berlangsung. Mensikapi fenomena pergerakan seperti ini, saran saya hanya satu: Jika anda tertarik untuk ‘ikut masuk’ … gunakanlah strategi ‘trading’… bukan strategi ‘investasi’. Trading itu… ya berarti anda fokus pada trend jangka pendek, beli ketika mau naik dan jual ketika mau turun, serta disiplin.  Ah.. kalau anda sudah sering baca blog saya ini.. anda sudah tahu lah bedanya trading dengan investasi.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

You might also like More from author

2 Comments

  1. irma farhanah says

    saya tertarik dengan artikel anda mengenai ekonomi, saya juga mempunya tulisan serupa mengenai ekononi, bisa dilihat
    disini, happy sharing 🙂

Leave A Reply

Your email address will not be published.