Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Bagi anda yang berkantor di gedung tinggi: Buka Puasa Saat Adzan Magrib Bisa Membatalkan Puasa Anda (!?!)

317

Selamat pagi…

Barusan saya nemu sebuah artikel menarik mengenai perbedaan waktu berbuka puasa pada setiap lantai yang ada pada Menara Burj Khalifa yang ada di Dubai.  Pada artikel tersebut dituliskan bahwa:

Terdengar kabar bahwa Kementerian Urusan Islam dan Amal Sosial di Dubai (Uni Emirat Arab) telah menerbitkan jadwal imsakiyah Ramadhan khusus yang diberlakukan di menara ini.

Sebagai gedung pencakar langit tertinggi di dunia sejak 2010 hingga kini dan berlokasi di negara Islam, Menara Khalifa menjadi aspek khusus yang mendapat perlakuan berbeda dalam hal jadwal imsakiyah bulan Ramadhan dibanding lokasi-lokasi lainnya di Dubai.

Jadwal khusus tersebut, kata Ma’rufin, membagi Menara Khalifa menjadi tiga kelompok waktu berbuka puasa yang masing-masing berselisih satu menit. Maka, bila penghuni lantai dasar di gedung jangkung ini telah berbuka puasa misalnya pukul 19:02, penghuni lantai teratas baru boleh bersantap dalam tiga menit kemudian (pukul 19:05).

Menara Khalifa sendiri merupakan gedung pencakar langit setinggi 828 meter yang berdiri di atas daratan dengan elevasi 5 meter. Namun, lantai teratasnya terletak pada ketinggian 585 meter, di mana tinggi matahari terbenam atau terbit adalah -1,54 derajat dari cakrawala. Sementara, tinggi matahari  terbenam/terbit di lantai terdasar adalah -0.90 derajat saja.

Dengan merujuk aturan sederhana di mana selisih tinggi 1 derajat adalah setara, beda waktu 4 menit dan membulatkannya ke bilangan bulat terdekat, maka selisih tinggi matahari di antara lantai dasar dan teratas setara dengan beda waktu 3 menit.

Jika dirinci lebih lanjut, maka waktu berbuka puasa hingga ketinggian 116 meter adalah sama dengan waktu berbuka puasa di lantai dasar ditambahkan satu menit. Sementara, di ketinggian antara 116 hingga 373 meter ditambahkan dua menit. Dan pada ketinggian antara 373 hingga 585 meter ditambahkan tiga menit.

Sebenarnya sih… ada yang dirasa keliru dalam artikel tersebut.

Tertulis : waktu berbuka puasa hingga ketinggian 116 meter adalah sama dengan waktu berbuka puasa di lantai dasar ditambahkan satu menit.

Ngapain coba ditambah 1 menit? Bukannya 0-116 meter itu kan termasuk dalam lantai dasar???

Akan tetapi.. itu berarti bahwa jadwal berbuka puasa untuk mereka yang berada di ketinggian 116 – 373 meter, itu berselisih 1 menit dibandingkan dengan yang berada pada lantai dasar.  Demikian berlangsung terserus seperti kelipatannya.

Sekarang … mari kita lihat Daftar Bangunan Tinggi yang ada di Indonesia.  Dari daftar tersebut, memang belum ada gedung di Indonesia yang lebih tinggi dari 373 meter.  Akan tetapi.. gedung yang tingginya diatas 116 meter, sudah sangat banyak.  Dari 27 gedung yang terdapat dalam daftar Wikipedia tersebut, seluruhnya sudah memiliki ketinggian diatas 116 meter!  Ini artinya: mereka yang tinggal di lantai tinggi di gedung tersebut… ‘seharusnya’ berbuka 1 menit setelah Adzan Magrib yang diperdengarkan oleh Masjid di sekitar gedung, atau dari media lain seperti TV atau Radio!!!

Sekarang… Pertanyaannya adalah: Siapa yang seharusnya memperlambat waktu berbuka ini?

Dari riset ringkas yang saya lakukan, tinggi dari setiap lantai gedung bertingkat di Indonesia, adalah sekitar 3,5 meter hingga 4,8 meter.  Kalau satu lantai 4,8 meter misalnya, berarti.. untuk mencapai batas 116 meter.. diperlukan setidaknya 24 lantai.  Jadi… menurut tulisan tersebut…

Bagi anda yang berkantor di gedung di lantai 24 sebaiknya memperlambat buka puasa anda hingga 1 menit untuk menghindari berbuka puasa sebelum waktunya.

Yah… minimal.. cek ketinggian anda deh.  Jika ketinggian lantai anda sudah lebih dari 116 meter.. sebaiknya berbuka puasa 1 menit lebih lambat jika dibandingkan masjid yang ada di sekitar kantor.. atau adzan magrib yang ada di TV.

Sebagai informasi.. 1 menit itu tidak lama kok.  Waktu adzan magrib yang ada di TV itu juga biasanya lebih dari 1 menit.

Eh.. sebentar… tapi ini… versi dari ulama yang ada di Dubai sono.  Majelis Ulama kita belum pernah membuat keputusan seperti ini.  Kita tunggu apakah mereka akan membuat keputusan tentang hal ini.

Wallahu a’lam bissawab…

Satrio Utomo

2 Comments
  1. An Ismanto says

    Halah, majelis ulama sini lebih sibuk ngurusi “pesanan”, Mas.

    1. Satrio Utomo says

      Hehehe…. Payah ye? Hehehe

Leave A Reply

Your email address will not be published.