Go-Jek vs Ojek : Pertarungan Antara Preman Vs Orang Cari Makan

221

Selamat pagi…

Kalau anda melihat sebelah kanan dan sebelah kiri dari website saya…. anda pasti sudah sering memperhatikan bahwa istri saya sedang berusaha untuk membangun sebuah bisnis online.  Maklum saja… anak saya yang kedua, yang tahun ini naik ke kelas 6… sepertinya juga sudah keukeuh meminta agar dimasukkan ke boarding school seperti kakaknya.  Jadi… dari pada gak ada kegiatan.. istri saya mencoba menjadi wirausaha.

Penjadi pedagang online… tentu saja akrab dengan pengiriman barang.  Setiap ada transaksi.. harus dilakukan dengan menggunakan jasa pengiriman barang.  Biasanya sih…. istri saya menggunakan jasa JNE atau TIKI.  Tapi … kemarin… dia ternyata ketemu moda pengiriman baru: Go-Jek !!!

Go-Jek ini adalah sebuah fenomena menarik. Didirikan oleh seorang MBA dari Harvard bernama Nabiel Makarim, Go Jek terlihat mulai menarik perhatian masyarakat dengan berbagai kisah suksesnya. Seorang pengendara Go Jek… penghasilannya bisa mencapai Rp 11 juta!  Sebuah jumlah yang tidak bisa dibilang kecil … terutama pada jaman dimana ekonomi sulit, pengangguran sedang meningkat seperti sekarang.  Seorang Ahok pun bahkan tertarik dengan fenomena ini sehingga mendukung apa yang mereka lakukan.

Permasalahannya sekarang: benarkah Go Jek bisa diterima oleh semua kalangan?

Tentu saja tidak.

Kesuksesan dari Go Jek ini… tentu saja merupakan ancaman bagi para Tukang Ojek yang sebenarnya adalah pemilik tradisional dari lahan mencari nafkah ini.  Fenomena Tukang Ojek adalah sebuah fenomena yang muncul semenjak menghilangnya becak dari Jakarta.  Menurut info grafik dari @Poligrabs, Ojek sudah berlangsung sejak tahun 1974 di kawasan Ancol (bahkan 1969 di Jawa Tengah).

150713 Poligrabs_Infographic_OjekVsGoJek

Ojek ini awalnya adalah jasa pengantaran manusia dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan menggunakan sepeda sebagai alat angkut.  Pada perkembangannya, Ojek ini mengalami perkembangan fungsi dan juga diferensiasi produk.  Seiring dengan kemudahan memiliki sepeda motor, ojek mengubah media angkutan yang mereka gunakan.  Ojek yang semula hanya mengantarkan dari pangkalan ke tempat tujuan, kemudian juga melakukan differensiasi, pengembangan jalur usaha.  Beberapa usaha yang mereka lakukan diantaranya adalah:

  • Dengan memanfaatkan lokasi pangkalan Ojek yang strategis, yang biasanya dekat dengan perempatan, seorang Tukang Ojek kemudian terkadang juga merangkap sebagai seorang polisi cepek. Lokasi pangkalan ojek yang strategis sering kali perempatan didekat pangkalan ojek itu menjadi tempat penyeberangan yang ramai. Disitulah ojek memanfaatkan kesempatan tersebut menjadi pengatur perempatan dengan imbalan (Polisi Cepek).  Niatnya memang baik.  Mempermudah orang untuk melewati perempatan.  Akan tetapi, karena teorinya sedikit kurang, maka seringkali, para Polisi Cepek ini kemudian malah menimbulkan kemacetan.
  • Dengan memanfaatkan pangkalan ojek yg berada di mulut gang atau tempat strategis di perumahan, tukang ojek kemudian memungut retribusi pada barang-barang yang akan masuk ke perumahan. Berbagai barang seperti barang bangunan, orang yang sedang pindahan, menjadi obyek pemungutan retribusi ini.  Terkait dengan hal ini, saya memiliki sedikit pengalaman pribadi.  Saya yang asli Surabaya dan biasa tinggal di kompleks perumahan, terlongong-longong dengan para tukang ojek, yang notabene adalah tetangga sendiri, yang benar-benar ‘tega’ dalam ‘ngerjain tetangga’.  Saya yang merasa sebagai ‘Jawa’, ‘Islam’, dan ‘anak Jendral’, benar-benar tidak berdaya ketika ‘dikerjain’ oleh tetangga sendiri.  Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan.
  • Dengan banyaknya waktu luang yang mereka miliki, kemudian mereka memanfaatkannya untuk berorganisasi. Memang sebenarnya jarang, tapi kita sering melihat ada bendera ormas dipangkalan ojek. Itu tentu saja mencerminkan afiliasi dari pengemudi ojek yang berada dipangkalan tersebut. Ojek akan semakin kuat jika sudah bergabung dengan ormas.  Kuat dalam menekuni karir mereka sebagai tukang ojek, dan juga fungsi-fungsi mereka yang lain.
  • Dan lain-lain, yang penting jadi duit.

Disinilah sebenarnya benturan tersebut terlihat.  Disatu sisi, kita melihat adanya orang yang butuh kerja untuk makan, didukung oleh kapitalis lulusan MBA Harvard, perangkat sistem komputer tercanggih, terkini, serta organisasi yang profesional, melawan mereka yang merasa tertindas oleh jaman, ditolak oleh lapangan kerja, namun kemudian menghalalkan segala cara, termasuk diantaranya ngerjain tetangga sendiri, menjadi polisi cepek, bahkan menjadi aktifis organisasi.

Benturan tentu saja tidak bisa terelakkan.  Beberapa hari terakhir, kita sudah mulai membaca berita tentang pengemudi Go Jek yang diancam, diusir dari pangkalan ojek, diteror, atau bahkan dipukuli oleh Tukang Ojek.

Mana yang anda dukung?  Mana yang kita dukung?

Ekonomi Preman vs Ekonomi Kreatif

Indonesia sudah hampir 70 tahun merdeka.  Dalam kemerdekaan ini, sudah demikian banyak model ekonomi mencoba yang diterapkan oleh penguasa negara kita.  Salah satu model yang terkenal, adalah model ekonomi Pak Ogah atau model Ekonomi Preman.  Dalam Model Ekonomi Preman ini, setiap orang bebas untuk memperoleh hasil dari apa yang lewat didepannya.  Dengan kekuasaannya, seseorang bisa mengutip uang, mengambil uang, tanpa adanya sanksi yang bisa membuat jera, korupsi.  Kredo seperti: kalau bisa sulit, mengapa dibuat gampang? kemudian subur berkembang. Ekonomi berbasis okol (kekuatan otot).  Kalau ada anggaran yang dalam kekuasaan, mengapa kita tidak mengambil bagian kita? Korupsi gak masalah, yang penting kelihatan sukses dan mewah ketika ketemu keluarga di kampung ketika Lebaran.   Semua ini kemudian berhadapan dengan ekonomi yang dikembangkan oleh anak muda, dengan bisnis yang legal, menggunakan sistem informasi, komputer, gadget dan semua perkembangan jaman.

Mana yang anda pilih? Mana yang kita pilih?

Go Jek: Sentimen Negatif buat Pasar Modal Indonesia

Pasar modal itu… memilih apa yang baik dan buruk.. sesuai dengan pengaruhnya bagi harga saham.  Tukang Ojek, sebenarnya memiliki pengaruh terhadap pergerakan harga saham.  Berkembangnya profesi tukang ojek dalam puluhan tahun terakhir, tentu saja membuat penjualan kendaraan bermotor meningkat.  Ini tentu saja merupakan sentimen positif bagi perusahaan Astra International selaku produsen motor Honda. (wkwkwkwkw… emang ngaruh gitu? Hehehe).

Disisi lain, Go Jek, memiliki sentimen negatif terhadap harga saham dari perusahaan taksi yang banyak listing di Bursa Efek Indonesia.  Go jek bagi pasar modal sebenarnya juga memiliki sentimen negatif, karena go jek merupakan pesaing langsung dari perusahaan taksi , dimana sudah ada beberapa yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Dengan semakin berjayanya Go Jek, harga saham-saham pertaksian bisa bergerak turun.  Go Jek juga memiliki sentimen negatif terhadap perusahaan jasa kurir. Tapi karena tidak ada jasa kurir yang listing di Bursa, maka pengaruhnya tidak akan terasa.

Jadi kesimpulannya mana yang akan anda dukung? Mana yang kita dukung?

Apakah anda akan mendukung ekonomi berbasis kerakyatan dengan pola operasi preman atau mendukung ekonomi anak muda yang kreatif serta ingin mensejahterakan dan mencerdaskan rakyat?

Anda mau mendukung Ekonomi Lama atau Ekonomi Baru?

Happy trading… Semoga Barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

You might also like More from author

2 Comments

  1. Kiswanto says

    kalo saya pribadi mendukung Ekonomi Baru

Leave A Reply

Your email address will not be published.