Menunggu Setan Lewat…*

75

… krik… krik… krik…

Ditengah keremangan malam … seseorang mendekati anda dan berkata:

Sst… kalau anda mau terus berjalan dijalan ini… didepan sana ada sebuah jembatan yang gelap. Di jembatan itu, ada setan … setan gentayangan yang siap mencabut nyawa anda.
Kalau anda mau selamat… anda harus melakukan satu dari hal-hal berikut ini:

  1. Anda menggunakan jasa saya untuk mengantar anda. Saya itu tukang ojek berpengalaman. Ongkosnya tidak mahal… hanya Rp 2.000.000 sekali lewat.
  2. Anda beli batu akik yang saya bawa ini. Maharnya tidak mahal… hanya Rp 2.000.000. Batu akik ini akan semua setan lari tunggang langgang. Anda pasti bisa lewat dengan selamat..
  3. Anda ikut training teknikal analisis dengan pengajar Bapak Satrio Utomo… bayarnya tidak mahal … hanya Rp 2.000.000. Anda pasti akan selamat karena Pak Tommy ahli dalam membaca pergerakan harga.

Mana yang anda pilih? Apakah pilihan pertama, kedua, atau ketiga? Saya Fenny Rose… saya nantikan jawaban anda setelah iklan berikut ini…

….. krik… krik… krik…



Selamat pagi …

Tentu saja… jawaban nomor 3… pasti bukan yang anda pilih. Jawaban tersebut memang pilihan jawaban ‘aneh’ yang sengaja saya masukkan untuk menggelitik rasa humor anda. Agar anda mau berpikir. Hehehe…

Tapi begini deh: menjual dengan rasa takut, menjual dengan menakut-nakuti, adalah salah satu cara menjual yang belakangan ini sangat digemari di Indonesia. Di jaman dimana semua media online berburu klik untuk mendapatkan pendapatan iklan, pendapatan iklan yang dibayarkan dalam mata uang US$ (bukan Rupiah ya… tapi Dollar Amerika), memancing pengunjung dengan menggunakan berita negatif atau bahkan dengan menggunakan kebencian, dirasakan lebih efektif untuk memancing perhatian dari para pembaca online. Berita salah, berita bohong, bahkan berita fitnah, terus mengalir deras, ditengah posisi pihak berwenang yang terlihat hanya diam saja, bersikap longgar terhadap setiap pelanggaran yang terjadi.

Kondisi ini kemudian menjadi kacau ketika masuk ke dalam ranah pasar modal. Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa harga saham, bergerak berdasarkan informasi yang masuk. Ketika informasi yang masuk mengalir sedemikan deras dan tidak ada batasan atau pembeda antara yang informasi yang salah dengan yang benar, maka semua informasi akan terlihat benar dan terasa benar. Pemodal dengan mudahnya akan termakan oleh informasi-informasi yang sesat dan menyesatkan. Disini kemudian mudah untuk munculnya kepanikan, keresahan, dan keputusasaan. Saringan sebenarnya ada, yaitu dari level pengetahuan yang dimiliki oleh setiap pemodal. Akan tetapi… kalau kita adalah ‘orang kebanyakan’ tentu bakalan sulit untuk melakukan penyaringan informasi.

Bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana cara menghindarinya?

Kalau anda bertanya kepada saya yang seorang analisis teknikal… jawaban saya bakal terasa sangat klise:
Harga saham tidak pernah bohong. Bagi anda yang memutuskan untuk melakukan transaksi dengan pola trading… Ikuti saja arah trend pergerakan harga. Pastikan bahwa posisi beli atau posisi jual yang anda lakukan, tidak melawan arah (trend) trend pergerakan harga. Lakukan semua positioning dengan disiplin yang tinggi.

Akan tetapi… apakah benar semua orang bisa melakukannya? Apakah benar anda melakukannya? Apakah benar saya melakukannya?

Tentu saja tidak 100%. Disiplin sepenuhnya atau 100% disiplin bakal sangat sulit untuk dilakukan oleh manusia. Ada memang yang bisa disiplin. Tapi, sebagian besar dari kita, adalah orang yang terombang-ambing, bingung ditengah semua arus informasi yang ada. Melepaskan diri dari informasi untuk sepenuhnya percaya terhadap arah pergerakan harga, jelas sangat sulit untuk dilakukan oleh mereka yang dalam kesehariannya terbiasa untuk dituntut untuk selalu rasional. Jika kita tidak mampu untuk ‘switch’ otak anda ke dalam ‘pola pandang pergerakan harga secara teknikal’, kita harus menemukan cara yang lain.

Menghadapi Rasa Takut dengan Memahami Sumber Rasa Takut

Cara yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan rasa takut, adalah memahami rasa takut itu sendiri. Atau dengan kata lain, karena ini terkait dengan informasi yang menggerakkan harga, kita harus memahami, informasi mana yang paling penting. Informasi mana yang sebenarnya merupakan sumber dari permasalahan. Informasi yang menjadi sumber rasa takut.

The Fed akan Menaikkan Suku Bunga
Dalam menyelesaikan krisis Subprime Mortgage yang terjadi pada tahun 2008, The Fed mengeluarkan langkah kebijakan yang disebut sebagai Quantitative Easing. Dalam Quantitative Easing ini, The Fed memompakan dana murah ke pasar melalui pembelian kembali surat hutang dan menurunkan suku bunga menjadi hampir 0%. Dengan langkah ini, dana murah kemudian melimpah ke berbagai penjuru dunia. Dengan stimulus ini, Ekonomi Amerika yang diambang resesi, kemudian mulai tumbuh. Ketika perekonomian sudah dianggap normal, The Fed ingin kemudian ingin mengembalikan kondisi menjadi normal. Mulai tahun 2013, Desember 2013 tepatnya, The Fed sudah mulai menghentikan gelontoran pembelian asset melalui program Tapering. Setelah Tapering ini selesai dilakukan, The Fed ingin mulai menaikkan suku bunga lagi. Setelah beberapa waktu ditunda, The Fed diperkirakan akan mulai menaikkan suku bunga untuk yang pertama kali pada FOMC yang akan berlangsung pada tanggal 16 – 17 September 2015 nanti.
Kenaikan suku bunga ini yang kemudian ‘dirasakan’ bakal menjadi ancaman. Semua orang ketakutan, seluruh dana ditarik keluar dari emerging market (termasuk diantaranya Indonesia), Indeks harga saham berjatuhan, mata uang melemah tidak terkendali. Ini adalah krisis yang kita alami saat ini.

Krisis Shanghai
Perekonomian yang mandeg, membuat dana bergerak liar mengalir kemana-mana. Kalau di Indonesia, dana liar tersebut kemarin sempat mengalir ke batu akik. Kalau di China, dana liar tersebut mengalir ke bursa saham. Pemodal China yang berpendidikan rendah , sekitar 2/3nya tidak lulus SMP, kemudian menyerbu ke pasar modal dan membuat indeks Shanghai naik lebih dari 50% pada paruh pertama 2015 kemarin. Apakah indeks bisa naik terus menerus? Apakah harga saham bisa naik terus menerus? Tentu saja tidak. Itu yang membuat indeks Shanghai kemudian jatuh pada paruh kedua ini.

Krisis Yuan
Pertumbuhan ekonomi China belum juga membaik. Pertumbuhan ekonomi China belum juga kembali bergerak naik. Dengan langkah The Fed yang akan menaikkan suku bunga, Bank Sentral China kemudian berusaha meningkatkan daya saing dengan melemahkan Yuan. Yuan yang selama ini ditetapkan fixed rate terhadap US$, berusaha sedikit direlaksasi, dengan ditetapkan kursnya setiap hari. Kebijakan yang kemudian dirasakan sebagai ‘devaluasi Yuan setiap hari’ inilah yang kemudian membuat ketidakpastian di pasar modal. Belum lagi, kalau di Indonesia, sentimen ini diperburuk oleh analisis gak jelas tentang Yuan yang akan menguat menjelang penetapannya ke dalam basket currency IMF. Dengan masyarakat yang ‘dikondisikan’ untuk membeli Yuan… ternyata dihadapkan dengan Yuan yang didevaluasi. Benar-benar ruwet… benar-benar bundet.

Rasa Takut Akan Hilang Jika…

Ingatkah anda di tahun 2012 kemarin saat isu kiamat gencar diperdengarkan? Sampai keluar film 2012 yang kemudian menjadi box office itu? Ketika tanggal dimana ‘kiamat diperkirakan akan terjadi’ berlalu dan ternyata tidak terjadi kiamat. Orang kemudian berkatah ‘Ohhhhhh…’ dan kemudian life goes on. Hidup berlanjut.

Ingatkah anda ketika issue tapering yang membuat IHSG jatuh pada tahun 2013 kemarin? Ketika dana asing keluar deras, IHSG jatuh. Tapi… tahukah anda ketika Tapering mulai dilakukan pada bulan Desember, dana asing malah berebut masuk lagi ke Indonesia? Ok lah … kita menyamarkan dana itu sebagai dana Jokowi Effect karena mengalirnya bersamaan dengan pemilu, dan perilakunya terkait dengan elektabilitas dari Jokowi. Akan tetapi… kenaikan yang terjadi.. sebenarnya terkait dengan kembalinya dana asing, setelah pengaruh Tappering ternyata ‘tidak seseram prediksi sebelumnya’.

Rasa takut itu hanya hilang… kalau kejadian sudah terlewatkan.

Nah…. Karena sumber dari rasa takut ini adalah kenaikan dari Suku Bunga The Fed, maka kita hanya bisa menunggu sampai nanti pada saat suku bunga The Fed mulai ditetapkan. Maklum saja… ini Bank Indonesia saja… sepertinya masih menunggu sampai The Fed menaikkan suku bunganya, sebelum mulai mengendorkan injakan rem yang tengah dilakukannya pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini artinya: kalau The Fed benar-benar menaikkan suku bunga nanti tanggal 16 – 17 September, bisa jadi krisis kita akan selesai. Tapi.. kalau ternyata The Fed memundurkan menjadi Desember atau bahkan tahun depan, wah… bisa gawat itu. Ketidakpastian yang timbul akan sangat besar.

Dimana Bottom IHSG? Dimana Akhir dari Semua Kekacauan ini?

Kalau ditanya: kapan kekacauan ini akan berakhir? Jawaban saya: bisa jadi sekitar tanggal 16 – 17 September (atau bisa jadi mulai sebelum itu) kekacauan ini sudah berakhir dan market bakal sudah mencapai meninggalkan titik terendahnya, melewati masa-masa terburuk, bottom dari pergerakan IHSG. Akan tetapi… pada level berapa IHSG akan mencapai titik terendahnya, saya juga tidak memiliki petunjuk yang jelas. Sejauh ini.. yang bisa saya lakukan, hanya bisa melakukan tebak support. Setelah support di 4800 gagal bertahan, saya memperikrakan support di 4400-4500. Setelah support di 4400-4500 gagal bertahan, saya memperkirakan support di 4.200 – 4.300. Dengan koreksi 530 poin atau 3,12 persen yang berlangsung pada Jumat kemarin, support tersebut kemungkinan bakal sulit untuk bertahan. Kalau nanti ternyata tembus, ya sudah berarti support berikutknya ada di kisaran 3.900 – 3.950. Kalau masih gagal bertahan juga… tinggal support di 3.837 yang merupakan support dari bullish trend jangka panjang. Dan… kalau masih gagal bertahan juga… hehehe.. kita tunggu saja deh… dimana support support berikutnya, dimana trend turun ini akan berakhir.

Dalam menghadapi sebuah krisis… terkadang… yang bisa kita tunggu… adalah menunggu krisis itu berlalu… baru kita bisa mulai kembali menata langkah maju.

Kita hanya bisa menunggu bottom, menunggu tanggal 16-17 September, menunggu saat The Fed menaikkan suku bunga.

Kita hanya bisa menunggu setannya lewat.

Semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan membuka sebuah krisis yang baru lagi.

Just follow the trend, because trend is your friend…

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

You might also like More from author

2 Comments

  1. Anthony says

    Pak Satrio, apakah itu berarti bapak tidak trading sampai lewat 16-17 September? Terima kasih.

    1. Satrio Utomo Purnomo says

      Nggak lah pak Anthony… Saya tapi nunggu bottom. Bottom ini bisa kapan saja. Nunggu ketakutan orang selesai.

      Wassalam,
      Satrio

Leave A Reply

Your email address will not be published.