Logika Pedagang Yang Bisa Membuat Anda Gagal dalam Trading Saham…*

666

Selamat pagi…

Menjadi analis efek… menjadi broker saham … berarti saya banyak bergaul dengan pedagang.  Jenis dari pedagang yang saya temui juga bermacam-macam: ada yang buka toko .. buka resto .. buka online shop … dan masih banyak lagi.

Ditengah kondisi ekonomi yang jelek seperti sekarang… para pedagang yang kemudian menjadi trader ini… tentu saja banyak yang nyangkut.  Saya gak habis pikir.  Bagaimana mereka bisa nyangkut ya? Kalau cuman karena gak paham konsep trading saham (itu loh… yang trading berbeda dengan investasi dst-nya itu)… itu adalah hal yang wajar.  Akan tetapi… kalau mereka sudah punya toko online dengan omset ratusan juta… Indomart 5 gerai… atau restoran yang sudah di franchise … masa sih kegagalan mereka hanya karena gak paham konsep trading saham?

Setelah saya ngobrol dengan beberapa orang pedagang… ternyata ada hal yang menarik yang saya temukan pada para pedagang itu.  Masalahnya bukan karena para pedagang itu tidak paham konsep pasar modal ataupun konsep trading saham… tapi lebih karena:

Pedagang tidak mau jual dibawah harga modal !!!

Begini ceritanya…  Dalam trading saham… (ingat ya… trading berbeda dengan investasi)… aturan utama yang harus kita patuhi dalam melakukan posisi beli atau posisi jual adalah ‘beli ketika mau naik dan jual ketika mau turun‘.  Kalau kita ada prediksi bahwa kedepan harga akan bergerak naik, maka kita bisa melakukan posisi beli.  Dan sebaliknya… Jika kita ada prediksi bahwa kedepan harga akan bergerak naik… maka kita bisa melakukan posisi jual.  Dalam trading, ketika menghadapi layar monitor… itu terasa seperti sesuatu hal yang wajar.. lumrah.

Akan tetapi… bagi seorang pedangang di dunia nyata, pedagang beneran seperti yang saya bilang tadi, setengah dari konsep tersebut, yaitu konsep ‘jual ketika mau turun’, adalah sebuah konsep yang tidak masuk akal.

Contohnya begini:

Ada seorang pemilik bengkel mobil.  Bengkel mobil tersebut, juga menjual oli mobil.

Dalam kondisi normal… penjual tersebut membeli oli tersebut di harga … misalnya niy… Rp 10.000 per liter.. dan menjual oli tersebut dengan harga Rp 12.000 per liter.  Enak kan? Sederhana.  Untuk oli ini.. pedagang tersebut untung 20%.

Ketika harga minyak naik… BBM naik.. harga Oli naik.  Harga pasar untuk oli mobil tersebut menjadi Rp 16.000.  Pedagang menjual oli tersebut di harga Rp 16.000.  Untung 60% kan? Bagus.  Dalam kondisi ini.. pedagang tidak ‘keberatan’ bahwa harga kulak, harga beli dari pedagang grosir/distributor, juga naik menjadi Rp 12.800, lebih tinggi dari harga dia ketika beli dulu.  Pedagang tidak keberatan karena dia bisa untung banyak… atau minimal… kalaupun dia mau beli lagi… dia bisa beli dengan harga yang lebih murah.

Akan tetapi… kondisinya ternyata tidak sama ketika harga bergerak turun.  Sekarang begini.  Harga minyak bergerak turun… harga BBM bergerak turun… harga oli mobil bergerak turun.  Harga pasaran dari oli… sekarang turun menjadi Rp 9.000.  Harga ini dibawah harga beli dari Pedagang ini.  Harga beli dari distributor, harga kulak… sebenarnya juga turun menjadi Rp 7.000.  Nah.. disini perbedaannya:

Ternyata… dari beberapa pedagang yang saya temui … mereka benar-benar TIDAK MAU untuk menjual oli di harga Rp 9000 !!!

Kenapa tidak mau? Toh mereka bisa beli pada distributor lagi di harga Rp 7.000?  Untung mereka juga tetap 2000?  Kalau dalam persentase.. untung mereka malah naik jadi 28%.  Untung lebih tinggi kok tidak mau ???

Ternyata alasannya sederhana :

PEDAGANG INI TIDAK MAU JUAL RUGI!!!

Hehehe.. ternyata sederhana kan? Pedagang ini tidak mau jual rugi.  Biarpun untung lebih besar… biarpun nanti bisa beli lagi di harga yang lebih rendah… tapi pedagang ini tetap tidak mau jual rugi.

Jadi… kalau anda lihat ada orang … yang di dunia nyata adalah seorang pedagang yang berhasil.. ternyata nyangkut BUMI di harga 5000… GJTL di harga 2500 atau ANTM di harga 2000 anda sudah tahu penyebabnya: mereka tidak mau jual rugi.  Posisi trading yang dulu mereka lakukan… kemudian dikonversi menjadi posisi investasi.  Investasi yang semakin lama potensial lossnya semakin dalam.. porto semakin merah… dan lain sebagainya.. dan seterusnya.

Wahai Pedagang… Ini Loh Perbedaannya Ketika Anda Trading Saham

Harga saham itu tiap hari bergerak naik atau turun.  Harga saham itu bergerak cepat atau lamban.  Harga saham itu dinamis.

Harga saham itu bisa bergerak naik atau turun sebesar 5 – 10 persen atau lebih… dengan mudahnya.  Harga saham itu likuid… volatile.

Akan tetapi… bukan berarti harga saham tidak mungkin untuk diprediksikan.  Meski pergerakan hari per hari nya terlihat random (sering kali hanya bisa diperkirakan kisaran pergerakannya melalui suport atau resisten), akan tetapi… dalam periode waktu tertentu… arah pergerakan harga bisa diprediksi.  Ini karena harga memiliki arah pergerakan atau yang sering disebut sebagai trend pergerakan harga.

Trend pergerakan harga ini ada tiga: naik, mendatar, atau turun.

Ketika trend harga sedang naik, strategi standar yaitu beli – harga naik – jual … adalah strategi yang bisa diaplikasikan.

Kalau harga bergerak mendatar atau flat, biasanya kita tinggal menentukan suport atau resistennya, kemudian melakukan posisi beli ketika harga sedang berada di area suport, dan jual ketika harga berada di area resisten, atau bahkan melakukan trading dengan strategi contrarian.

Kalau trend harga bergerak turun, kita prediksikan dulu.. berapa potensi penurunannya.  Kalau potensi penurunannya ternyata cukup besar, seorang trader sering kali melakukan strategi ‘short barang sendiri‘: jual dulu posisi yang dimiliki, dan kemudian nanti dibeli kembali kalau harga sudah bergerak turun seperti prediksi, sesuai harapan.  Disitu sebenarnya… perbedaan trading saham dengan dagang di dunia nyata.

Penutup

So… Kalau anda menjadi pedagang yang berhasil di dunia nyata… dan anda ingin juga berhasil dalam hal trading saham… ubah dulu pola pikir anda.  Disini… di Bursa Efek Indonesia … situasi yang anda hadapi tidak sama.  Anda akan gagal jika anda tidak menggunakan pola pikir yang benar.

Sekali lagi… dalam trading saham, pola pikirnya adalah

Beli ketika mau naik … Jual ketika mau turun

Kalau anda tetap lawan… ya sudahlah… tapi… jangan terus stress kalau melihat pasar modal menelan kekayaan anda yang nyarinya luar biasa susah itu.

Happy trading… Semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

You might also like More from author

1 Comment

Leave A Reply

Your email address will not be published.