Penantian Fed Rate…*

136

Selamat pagi…

Minggu ini, The Fed akan memutuskan apakah akan menaikkan suku bunga bulan ini, atau akan menundanya. Dalam Federal Open Market Committee (FOMC) tanggal 16 – 17 September nanti, The Fed akan mengumumkan sebuah keputusan yang sudah ditunggu oleh seluruh komunitas finansial di seluruh dunia. Mingu ini adalah ‘The Moment of Truth’

Banyak orang yang merasa takut. Banyak orang yang merasa khawatir. Di negara Indonesia yang kita cintai ini, ketakutan ini muncul berdasarkan cerita-cerita bahwa pemodal asing akan menarik dananya dari Indonesia. Kalau Fed Rate naik, dana asing ditarik, nilai tukar Rupiah terhadap US$ jatuh. Itulah yang paling ditakutkan oleh orang berduit di negeri ini.   Itulah yang dianggap sebagai sebuah kepastian. Pasti terjadi. Nilai tukar ‘pasti’ 15.000…. pasti 16.000 … pasti 17.000… bahkan pasti 20.000. Pelemahan itu pasti berpengaruh terhadap perbankan. Pasti berpengaruh terhadap perekonomian. Pola pikir yang pasti-pasti-pasti ini yang kemudian membuat orang takut.

Belum lagi dengan semua cerita tambahan yang mengikuti. Yang masalah Yuan lah, yang bursa Shanghai lah, yang masalah Kiamat Finansial yang dikaitkan dengan cerita Shemitah (silakan anda googling tentang topik yang satu ini, saya pernah sharing link youtube-nya melalui account twitter saya @rencanatrading).   Siapa saja, pasti takut.

Takut kehilangan uang… takut berkurang kekayaannya… takut miskin. Setan-setan bergentayangan.

Nggak usah orang yang punya duit deh. Bank Indonesia saja sampai ketakutan sendiri. Sampai belum juga melepaskan rem pertumbuhan ekonomi yang sudah difungsikan semenjak lebih dari setahun yang lalu. Ekspor terjun bebas … Import terjun bebas. Aktifitas ekonomi berkurang drastis. Maunya, Rupiah tidak melemah. Tapi… toh Rupiah melemah juga.

Belajar dari Tapering

Terkait dengan semua ini… saya memiliki cerita yang menarik.  Anda pasti masih ingat tentang Tapering. Itu loh… saat dimana The Fed mulai mengurangi pengucuran dana yang dilakukan saat melakukan Quantitative Easing. Pada saat itu, semua orang takut bahwa jika Tapering dilakukan… maka dana asing akan ditarik dari Indonesia, Rupiah akan jatuh, dan lain sebagainya, dan seterusnya. Kira-kira… kondisinya kurang lebih sama seperti sekarang.

Mari kita sekarang melihat gambar kurva Aliran Dana Asing di Pasar Reguler untuk tahun 2011 – 2015 yang ada di bawah ini. Mengartikan gambar itu tidaklah sulit. Ketika kurve bergerak turun, itu berarti pemodal asing melakukan posisi jual, dana asing keluar dari Bursa Efek Indonesia, dan sebaliknya. Ketika kurva bergerak naik, itu berarti pemodal asing melakukan posisi beli, dana asing masuk ke Bursa Efek Indonesia. Ada empat titik yang ada pada gambar itu: titik A, titik B, titik C, dan titik D. Pertanyaannya adalah: Dimanakah titik yang merupakan saat dari Tapering itu dilakukan?

150914 Aliran Dana Asing

Coba anda melihat skenario Tapering yang saya sebutkan diatas. Tapering adalah keadaan dimana The Fed mengurangi kucuran dana pembelian kembali surat berharga. Dana akan mengalir keluar dari negara sedang berkembang. Sekilas, kalau anda menjawab secara terburu-buru, anda pasti akan memilih: Titik A adalah saat The Fed melakukan Tapering. Mengapa? Karena pada titik A, level dana asing sedang tinggi. Kondisi ketika titik A sangat sesuai dengan teori: asing akan melepas posisi secara besar-besaran, menarik dana. Level dana asing turun dari Rp 20 trilyun, menjadi minus Rp 20 trilyun. Asing ‘buang barang’ Rp 40 trilyun. Pas kan?

Ternyata bukan. Jawabannya bukan di titik A. Titik A adalah ketika IHSG mencapai titik puncak di bulan Mei dan kemudian pemoda asing mulai melakukan aksi profit taking.

Oh…. Jawabannya pasti titik B!!! Di titik B itu kan terlihat banget: Asing yang pinter sudah net sell dari plus Rp 20 trilyun hingga titik nol. Titik B adalah saat dimana Tapering diumumkan, terus pemodal asing yang masih pegang barang, melakukan cut loss. Lihat… level kepemilikiannya saja minus. Itu berarti asing melakukan posisi short. Enak banget pemodal asing itu… sudah 350 tahun menjajah negara kita, pasar modal kita masih dipermainkan oleh posisi short yang mereka lakukan. Benar-benar tidak berperikemanusiaan. Mari kita larang investor asing memiliki saham di bursa kita… karena mereka hanya bisa merusak!!!

Hehehe… Kalau jawabah anda seperti itu…. anda juga salah. Dari garis waktu, kita bisa lihat bahwa titik B terjadi pada bulan Mei 2013. Bulan Mei 2013 adalah saat dimana ada analis dari Morgan Stanley yang bilang bahwa Indonesia termasuk dalam ketegori negara yang ‘bermasalah’ ketika The Fed melakukan Tapering. Meski terlihat padah setelah report tersebut keluar, report tersebut sebenarnya hanya memperburuk keadaan. Bukan merupakan pemicu awal terjadinya aliran dana asing keluar dari Bursa Efek Indonesia.

Kalau pertanyaannya adalah: Kapan saat Tapering tersebut mulai dilakukan… anda memulainya dengan melakukan googling mengenai tanggal yang sebesarnya ketika Tapering tersebut dilakukan. Anda tentu bisa dengan mudah menemukan, bahwa Tapering mulai dilakukan pada pertengahan Desember 2013. Tapering mulai dilakukan di sekitar titik C.

Lho Pak Tommy… mana mungkin Tapering dimulai ketika titik C? Ketika itu…kita kan diberi gambaran bahwa kondisi sedemikian buruk sehingga asing pasti masih akan melakukan tekanan jual. Padahal… digambar itu, titik C adalah dimulainya aliran dana asing yang sedemikian besar. Saking besarnya sampai level dana asing yang terjadi, bisa melebihi level yang ada ketika puncak IHSG di tahun 2013. Ketika Tapering mulai dilakukan, dana asing malah mengalir masuk. Lucu toh… aneh toh?? Tapi itu memang kenyataannya!!!

Berarti Apakah Ketika Suku Bunga The Fed Naik, Dana Asing Juga Akan Kembali ???

Tentu saja, saya tidak maju bilang ‘pasti begitu’. Apa yang terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga, saya tidak tahu. Tapi… kalau kita kemudian main ‘pasti… pasti.. dan pasti’… kita bisa saja salah. Karena respon pasarnya tetap saja tidak bisa diketahui secara pasti.

Kondisi Psikologis Pasar Modal Terlihat Jelek

So…. Kalau anda beranggapan bahwa Jika The Fed menaikkan suku bunga maka kita akan ‘pasti’ mengalami kiamat finansial …. tolong pikir kembali. Kendalikanlah rasa takut anda sehingga anda tetap bisa melakukan keputusan yang rasional. Akan tetapi, apakah kita kemudian harus optimis ketika bursa regional merespon positif juga… kok sepertinya juga tetap sulit untuk dilakukan. Hari-hari ini kondisi psikologis dari pasar memang terlihat jelek. Selain data-data ekonomi jelek, berita jelek, banyak orang yang menakut-nakuti, BI yang ketakutan sendiri, plus Pemerintahnya juga tidak banyak membantu. Presiden kemarin sudah mengumumkan bahwa Paket Kebijakan September I. Paketnya sih bagus. Tapi sebelum pengumuman, Presiden juga menciptakan ketidakpastian dengan menyebutkan tentang ‘tingkat suku bunga KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang diturunkan menjadi 12%’. Itu yang membuat saham-saham perbankan terus dihajar, ditekan jual oleh pemodal asing dan lokal. hingga hari Jumat sore kemarin.

Saya sih …. tetap tidak tahu apakah The Fed akan menaikkan suku bunganya pada tanggal 17 September nanti, atau masih akan menundanya. Saya juga tidak tahu apakah IHSG pasca tanggal 17 September nanti bakal bisa meroket keatas atau malah nyungsep… jatuh lagi.. bikin new low lagi dibawah 4.111, dibawah 4000. Akan tetapi… saya melihat peluang bahwa bursa regional (terutama indeks Dow Jones Industrial) akan bergerak naik menjelang pengumuman FOMC. Cuman ya gitu: apa bisa IHSG melanjutkan trend naik, memberikan signal positif dengan menembus resisten dari trend jangka turun jangka menengah di 4.450 dengan saham-saham perbankan terus bergerak turun?

Terlalu banyak ketidakpastian didepan. Akan tetapi, ketakutan hanya akan membuat anda tidak rasional dalam melakukan pengambilan keputusan.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.