Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Membeli Saham … Membeli Cerita …*

234

Selamat pagi…

Saham itu adalah selembar kertas.  Kertas yang tidak berharga.

Kertas itu baru ada harganya… kalau kemudian diberikan tulisan… bahwa kertas itu.. adalah selembar saham.  Ini adalah saham A … ini adalah saham PT. B.  dst.  Harga saham itu kemudian bergerak naik turun… sesuai dengan apa yang berada di benak pikiran dari semua orang yang ada di pasar.

Kalau orang fundamental… mereka akan melihat nilai sebagai daya tarik utama.  Kalau nilai di masa mendatang jauh lebih tinggi dari harga saat ini.  Maka mereka akan beli.. harga saham akan naik.  Demikian pula sebaliknya… kalau nilai di masa yang akan datang jauh lebih rendah dari harga saat ini, maka mereka akan melakukan posisi jual.. sehingga harga bergerak turun.

Kalau orang teknikal… ada yang tertarik ada signal… ada yang tertarik pada arah pergerakan harga.

Akan tetapi… apakah pergerakan harga itu hanya sekedar valuasi? Apakah pergerakan harga itu sekedar signal? Apakah pergerakan harga hanya sekedar trend?

Tentu saja tidak.

Pergerakan harga itu… sering kali juga merupakan sebuah cerita…. sebuah dongeng.  Ingat: dalam penyampaian analisisnya, seorang analis akan menyampaikannya melalui sebuah laporan.  Dalam laporan ini… supaya meyakinkan … harus dibuat alasan atau cerita yang mendasarinya.  Cerita ini.. yang kadang… supaya bagus.. supaya bisa memicu orang untuk bertransaksi.. dibuat agak lebay.  Cerita yang agak lebay ini yang kemudian menjadi dongeng.

Dongeng bagus harga naik… dongeng jelek harga turun.

Eh… tapi… dongeng… kan tidak terus berlangsung sama.  Kadang Dongeng juga bisa berganti.  Bisa karena arah trend… trend yang tadinya bullish… menjadi bearish.  Yang tadinya suka… menjadi tidak suka.. dan lain sebagainya.

Seperti booming harga batubara di periode 2003 – 2012 yang kemudian muncul berbagai dongeng indah …. berbalik menjadi dongeng menyedihkan… ketika harga batubara mulai jatuh pada tahun 2012 – 2014.  Apalagi ketika sudah ‘ditimpa tangga’ seperti di tahun 2015 ketika harga minyak jatuh dibawah US$50.  Bagaimana seramnya itu dongeng batubara yang ongkos produksi per ton-nya saja sudah sebesar US$50?

Contoh menarik dari dongeng berganti yang terjadi hari-hari ini… adalah dongeng dari UNTR.  UNTR ini memang banyak dongeng.  Dongeng yang paling terkenal… adalah dongeng ketika Lo Kheng Hong kaya raya dari UNTR.  Dia yang pertama kali beli UNTR di harga 1000an… turun ke 400an dimana kemudian dia mempertaruhkan ‘segalanya’ … dan akhirnya meraup madu ketika UNTR berada di harga 2000 – 6000an.  Akan tetapi… dongeng menarik dari UNTR lainnya adalah : metamorphose dari saham alat berat … menjadi saham kontraktor batubara.  Masa itu adalah sebuah lompatan terbesar bagi UNTR.

Saat ini… UNTR juga sedang berusaha ‘melompat’.  Dari perusahaan ‘terkait batubara’ … menjadi perusahaan yang ‘terkait konstruksi’.  Maklum… ketika ‘cerita SBY’ adalah cerita pertambangan (karena beliau bekas Menteri ESDM) … maka cerita Jokowi .. adalah ‘Cerita Konstruksi’… karena beliau getol melakukan pembangunan fisik.  Itu yang membuat UNTR membeli ACST… dan kemarin… mulai bulan November … penjualan alat beratnya juga sudah didomonasi oleh alat berat konstruksi.

Apakah lompatan ini berhasil? Well… saya sih sedang punya posisi agak banyak.  Jadi… saya berharap lompatan ini berhasil.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.