Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

#RevolusiMental Setengah Hati… #IHSG2016 Setengah Hati Juga…*

210

Selamat pagi…

Liburan.  Macet.  Sebagai korban kemacetan parah pada liburan Natal kemarin … saya sebenarnya prihatin dengan pengunduran diri Dirjen Perhubungan Darat yang merasa bertanggung jawab atas kemacetan yang terjadi.  Akan tetapi… kalau melihat keadaan di lapangan.. memang hampir seperti negara tanpa pemerintahan: angkutan berat terlihat masih berjalan, lubang-lubang besar yang masih menganga di Tol Pejagan-Kanci, Polisi sangat kurang, aparat tidak terlihat siaga. Tidak terlihat adanya langkah antisipasif. Tidak seperti ketika Lebaran lalu.  Wajar kalau kemudian Dirjen Perhubungan Darat kemudian malu hingga mengundurkan diri.

Langkah sadar diri yang gentleman ini bukan yang pertama kali dilakukan oleh pejabat sekelas Dirjen, setelah beberapa waktu yang lalu Dirjen Pajak mengundurkan diri.

Apakah budaya malu ini adalah perwujudan dari Revolusi Mental?

Well… tujuan dari Revolusi Mental adalah:
….
….
….

Ehm… tujuan dari revolusi mental adalah:


Eh.. loh.. kok saya nanya sama Mbah Google nggak dapat. Mungkin saya cari lain kali deh. Akan tetapi… tumbuhnya budaya malu ini.  Sejauh ini terlihat cukup menarik. Budaya ‘berani bertanggung jawab’ yang membanggakan ini.. terlihat mulai terlihat pada pejabat sekelas Dirjen, setelah sebelumnya Dirjen Pajak juga mengundurkan diri, sebagai bentuk pertanggungjawaban dari tidak tercapainya target pajak 2015.
Sayang… hanya sekelas pejabat sekelas Dirjen.

Di level yang lebih tinggi … kelucuan-kelucuan lain masih terus berlangsung.  Jika di level Dirjen mereka mundur karena merasa bersalah dan merasa malu. Di level yang lain, orang bisa mundur sekedar untuk menghindarkan pembacaan vonis bersalah. Benar-benar tidak tahu malu.  Eh… tapi jangan salah.  Presiden mereka mungkin bukan Jokowi. Dan… mereka tidak menghina secara frontal dan langsung.  Jadi sepertinya.. semuanya masih sah-sah saja.  Meski.. saya sebagai bangsa Indonesia… tetap saja merasa terhina kalau hukum saya diperlakukan seperti itu.

Disisi lain… saya kemarin sebenarnya sedang berbahagia.  BBM turun!!! Padahal saya kepingin jalan-jalan!!!!! Asyik banget toh?

We… lhadalah… kok turunnya mulai tanggal 5 Januari. Harga minyak turun sudah lebih dari 3 bulan.  Turun baru bulan depan. Mana ada pungutan 300 Rupiah per liter.  Gak jelas aturannya bagaimana.. tapi ada pungutan.  Terlepas dari sah atau tidaknya pungutan itu. Terlepas bahwa duitnya nanti (mungkin) akan dibuat sesuatu yang lebih berguna.. lebih besar maslahat bagi semua orang…  tapi.. adanya pungutan ini kembali memunculkan kebiasaan dari Pemerintah untuk memberikan surprise. Surprise yang membebani masyarakat. Saya kok jadi berpikir… nanti akan ada dana pungutan yang aneh-aneh lainnya.  Mungkin nanti … saya juga tidak perlu heran kalau ada Pungutan Dana Revolusi Mental. Nggak mungkin sih… tapi … kalaupun ada.. saya tidak akan kaget.

Heran memang. Kok nggak ada ‘hati’-nya gitu loh.  Presiden sudah bersusah payah berusaha ‘melayani’ masyatakat dengan membuat 1 paket kebijakan setiap 2-3 minggu.  Yang ini malah bikin pungutan yang payung hukumnya saja sepertinya masih tidak jelas.

Mungkin ini adalah pertandingan.  Maklum saja.. beberapa waktu yang lalu… Menteri yang lain malah (hampir) membubarkan usaha Jaring Pengamat Sosial Swasta yang pengusahanya digadang-gadang Jokowi sampai ke Amerika.  Di saat ekonomi susah, pengangguran meningkat… Pemerintah harusnya mulai menebar Jaring Pengaman Sosial untuk masyarakat yang baru saja terkena Pemutusan Hubungan Kerja.  Akan tetapi.. ternyata.. untuk beberapa kota besar, terutama untuk kawasan Jabodetabek.. ternyata ada pengusaha yang membuka lapangan kerja kreatif, dengan penyerapan tenaga kerja yang masif, malah disuruh membubarkan diri.  Dilarang katanya.  Untung Menteri ini akhirnya bisa ‘ngeles’ (menghindar) dengan selamat.   Mungkin nyawanya ada 7 sehingga masih bisa selamat.

Perbedaan semangat melayani antara Presiden dengan para pembantunya ini… menunjukkan bahwa kedepan… masalah ketidakpastian ini tetap

Buat pasar modal Indonesia, ketidakpastian ini bukan barang yang baru.  Di awal tahun 2015 kemarin.. pasar modal sudah dihantam masalah ketidakjelasan masalah penurunan harga semen.  Belum lagi ketidakjelasan masalah Kredir Usaha Rakyat (KUR) yang muncul setelah itu.  Belum lagi masalah Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Pemerintah (baca: Menkeu) yang konsisten ketinggian diatas realita. Masalah suku bunga BI Rate yang tidak kunjung turun.  Coba anda bayangkan: bulan Maret.. ketika The Fed (sepertinya) akan menaikkan Fed Rate di bulan September, Bank Indonesia (baca: Agus Martowardoyo) sudah tidak berani menurunkan suku  bunga.  Tahun depan… The Fed sepertinya bakal menaikkan suku bunga 4 kali.. dimana itu berarti The Fed akan menaikkan suku bunga setiap 3 bulan. Anda yakin Mas Agus masih berani menurunkan BI Rate? Saya sih ragu.

Keraguan ini yang membuat saya sedikit hopeless untuk prospek IHSG ditahun 2016 nanti.  Hopeless ini bukan berarti saya bearish.  Tapi… karena arah IHSG untuk 2016 itu ada dua kemungkinan besar: 5.400-5.500 ..  atau 6.300-6500.  Maka saya hanya pilih 5.400-5.500 saja. Saya prediksi rendah saja. Biar tidak terlalu sakit.

Maklum.. disisi lain… Bursa Efek Indonesia juga masih kurang mendukung.  Di satu sisi.. fraksi 5 harga yang katanya baru nanti.. sepertinya juga tidak jauh berbeda dengan fraksi saat ini. Bukan seperti fraksi sebelum 2014 yang disukai oleh investor retail.. tapi lebih seperti fraksi harga sekarang ditambah 1 fraksi harga.  Berharap dari Menabung Saham? Waduh… nabung Rp 100 ribu per bulan.. kena Terminal Fee sebesar Rp33 ribu per bulan. Trading return 33% per bulan? Hm… saya sih gak sanggup.  Berharap dari ‘pasar modal yang lebih wajar, teratur, dan efisien’ ? Hehehe… begitu dibilang kalau ‘tidak ada penggorengan dalam kasus SIAP’. Saya sih tidak lagi berharap banyak.

So… Revolusi Mental adalah :
…..
…..
…..

Pasti Rusak ini Mbah Googlenya.  Mungkin sedang koplo.  Mungkin juga sama seperti saya.. sedang kecapean nyetir kena macet kemarin.

Tapi .. saya yakin kok.. kalau Revolusi Mental ini tujuannya lebih jelas.. maka Revolusi Mental ini gak membebani rakyat kecil.  Nggak multitafsir seperti sekarang… orang jadi nggak gak bikin peraturan seenaknya. Gak bikin pungutan seenaknya.  Nggak bikin bingung.. biar arah IHSG lebih jelas.

IHSG masih menunggu Revolusi Mental-nya jelas.  Karena Revolusi Mental setengah hati.. IHSG 2016 jadi setengah hati juga.

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

*disclaimer ON

2 Comments
  1. Kurniawan says

    Mulailah revolusi mental dari diri sendiri dari hal terdekat. Gunakan BBM non subsidi, jadi tidak perlu ribut-ribut dengan BBM turun. Pertamax dan Pertalite sudah turun duluan.

  2. Mr.ron says

    Mentri gojek td kyk org plg hebat aja. Dirjend nya mundur krn boss nya jg sbg regulator ga bisa ngurus kemacetan. Ngurus li*n air aja ga bisa. Maskapai yg sudah berbahaya bagi penumpangnya.

    Saya pernah ketemu org yg cerita even pilot li*n ini bilang jgn pakai maskapai ini lg krn bahaya. Maintenance saja hanya di urus lulusan stm. Dia pernah bawa ke medan radar hilang bbrp menit sehingga ga bs mendarat.

    Pilot sendiri mau resign kena denda 1M.

    Bener2 negri autopilot.

Leave A Reply

Your email address will not be published.