Mengapa Seorang Trader Tetap Perlu Membeli Reksadana?* #pestareksadana2016

434

Selamat pagi…

Beberapa waktu yang lalu… seorang pemodal bertanya kepada saya:

Pemodal (M) : Pak Tommy … apakah Pak Tommy punya posisi nyangkut?

Saya (S) :  Iya.

M : Loh … kok bisa?  Kata Pak Tommy… seorang trader tidak boleh punya posisi nyangkut.  Harus disiplin.  Disiplin beli… disiplin cut loss.  Kok Pak Tommy punya posisi nyangkut?

S : Tidak semua posisi saya itu posisi trading pak… Saya juga punya posisi investasi.  Posisi investasi ini berbeda dengan posisi trading, karena kalau posisi investasi, saya ‘hampir’ tidak mengenal posisi jual rugi atau cut loss.  Selama saya masih yakin dengan prospek ekonomi Indonesia kedepan.. selama kedepan saya masih yakin bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif… saya akan tahan (hold) posisi investasi.  Lagian Pak… posisi investasi ini bukan di saham.  Tapi … di Reksadana Saham.   Posisi investasi di Reksadana Saham inilah yang masih nyangkut.  Nyangkut karena saya beli reksadana itu ketika IHSG masih di kisaran 4.800 – 4.900.  Karena IHSG saat ini di level 4.600an… ya jelas saya nyangkut lah… 😀

——————

Dari narasi diatas… bagi anda yang merupakan pembaca setia dari www.rencanatrading.com … pasti akan merasakan sedikit keanehan.  Merasakan ada beberapa keanehean.  Keanehan yang pertama adalah:

  • Loh.. Pak Tommy beli reksadana saham? Kok Pak Tommy percaya duitnya dikelola orang lain?

Saya punya konsep begini terhadap dana yang saya alokasikan ke pasar modal:

Kelolalah 100% dalam kekuasaanmu apa yang kamu mampu… atau kelolakan 100% pada orang lain.

Ini artinya: kalau saya sudah melakukan komitmen untuk trading saham secara langsung… maka saya akan berusaha untuk mengelola posisi trading tersebut dengan kemampuan terbaik yang sama miliki.  Akan tetapi… kalau kemudian saya memutuskan untuk membiarkan uang saya dikelola oleh orang lain, maka saya akan percaya 100% terhadap pengelolaan yang lakukan oleh orang lain tersebut.  Eh… tapi tentu saja kepercayaan tersebut ada dengan syarat:  Investasi sahamnya memiliki kinerja yang setara atau kalau bisa lebih baik daripada kinerja IHSG.  Dan… saya juga bebas mencair kan investasi saya sewaktu-waktu.    Dengan kriteria tersebut, saya biasanya membeli reksadana saham atau reksadana campuran.  Nanti deh kita bahas detailnya seperti apa.

  • Loh.. Pak Tommy bisa nyangkut ?

Untuk posisi investasi… jelas saja saya bisa nyangkut.  Pada dasarnya: Posisi investasi itu tidak mengenal timing.  Selama kedepan kita melihat bahwa prospek perekonomian atau kondisi perekonomian bisa lebih baik… selama kita melihat bahwa di masa depan harga akan bisa bergerak naik lebih tinggi daripada posisi saat ini.. ya sudah… kita ambil posisi BELI.  Harga turun untuk jangka pendek? Emang gue pikirin! Toh nanti juga akan naik lagi.  Lagian… kita juga hanya bisa tahu bottom dari market setelah bottom itu berlalu.  Jadi… jangan terlalu ‘saklek’ .. jangan telalu tegas untuk bilang bahwa : saya akan beli di bottom (titik terendah) dan jual di top (titik tertinggi) .. nanti malah bisa ketahuan kalau anda cuman tukang bohong…

  • Loh.. Pak Tommy bisa punya posisi Investasi? Saya kira Pak Tommy adalah seorang trader sejati … 100% posisi trading…

Saya bukan Tuhan… saya bukan Nabi… saya hanya seorang manusia biasa.  Karena manusia… maka saya memiliki berbagai keterbatasan.  Keterbatasaan saya diantaranya: :

  1. Saya memiliki keterbatasan dalam mengelola dana.  Saya tahu atas saya mengelola dana di level berapa.  Karena saya tahu saya memiliki batas ini.. maka dana sisanya saya biarkan dikelola orang lain… saya belikan reksadana.
  2. Market itu terkadang juga whipsaw… gak jelas apa maunya.  Seperti dua minggu terakhir… dimana indeks Dow Jones Industrial (DJI) bisa memberikan false signal 6 kali berturut-turut!!! Gile.. kalau saya disiplin dengan posisi 100% (signal beli = 100% beli… signal jual 100% jual.. vice versa) … saya bisa benar-benar stress itu karena ruginya akan luar biasa besar!!!  Karena saya tahu saya terkadang harus menghadapi market seperti itu.. maka saya memutuskan untuk membagi posisi saya di saham sebagian untuk posisi investasi.  Posisi investasi yang dikelola oleh orang lain.

Jadi… setelah membaca tulisan tersebut diatas … saya kira anda juga sudah paham alasan mengapa saya membeli reksadana.

  • Tidak semua posisi saya adalah posisi trading…. saya juga memiliki posisi investasi.  Untuk posisi investasi di saham.. saya serahkan pengelolaannya pada fund manager reksadana yang saya anggap lebih mengerti mengenai permasalahan investasi dibandingkan dengan saya.
  • Saya membeli reksadana karena saya tahu bahwa saya memiliki berbagai keterbatasan.  Keterbatasan pengelolaan dana, keterbatasan waktu, keterbatasan pengetahuan, keterbatasan kemampuan memprediksikan dan masih banyak lagi.
  • Saya membeli reksadana karena saya memiliki kebutuhan jangka panjang…. kebutuhan jangka panjang yang dikemudian dipenuhi oleh prediksi jangka panjang saya.

Eits… tapi .. saya juga tidak beli reksadana secara sembarangan!  Saya juga beli reksadananya pake strategi trading ‘beli ketika mau naik dan jual ketika mau turun’.  Meski… saya tidak mengenal posisi cut loss dalam reksadana.

Nanti deh… kita bahas dalam tulisan saya selanjutnya.  Tapi sementara… setidaknya… anda tahu mengapa alasan saya membeli reksadana.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.