Melompat-lompat di Tahun Monyet*

47

Melompat-lompat di Tahun Monyet

 

Selamat pagi…

Pertama-tama… saya ingi sampaikan bahwa saya bukanlah pakar Feng Shui. Pengetahuan saya tentang kebudayaan Tiongkok juga dikatakan minim, hanya sebatas ‘penggemar cerita Sam Kok’. Itu yang membuat saya sebenarnya tidak tertarik untuk membahas tentang Tahun Kera Emas yang perayaan kedatangan atau dimulainya dilakukan pada hari Senin kemarin. Akan tetapi, pergerakan angka indeks pada bursa global dan Bursa Efek Indonesia yang melompat-lompat selama bulan Januari kemarin, benar-benar mengingatkan saya akan perilaku monyet yang suka sekali melompat-lompat. Melompat ke atas, melompat ke bawah, melompat naik, melompat turun.

Dari bursa global, pergerakan yang melompat-lompat ini, sangat terasa pada pergerakan indeks Dow Jones Industrial (DJI). Indeks Dow Jones Industrial terlihat sering bergerak naik atau turun lebih dari 1 persen per hari, karena lonjakan naik turun dari harga minyak West Texas Intermediate (WTI). Harga minyak WTI yang saat ini sedang berada di sekitar level US$ 30 per barrel, rata-rata pergerakan hariannya bisa mencapai US$1,26 per hari atau lebih dari 4 persen untuk setiap harinya. Padahal, ditahun 2014 lalu, ketika harga minyak masih berada pada level US$90 per barrel, rata-rata pergerakan harian dari minyak WTI hanya sebesar US$0,96 per hari atau hanya sebesar 1,02 persen untuk setiap harinya. Harga minyak WTI yang murah, ternyata membuat volatilitas harga harian menjadi semakin tinggi. Indeks Dow Jones Industrial sehari melompat naik, sehari kemudian melompat turun, melompat naik lagi, melompat turun lagi. Melompat dan melompat.

Kondisi ‘melompat-lompat’ ini juga dirasakan pada IHSG meski dengan penyebab yang berbeda. IHSG sebenarnya memiliki korelasi yang rendah terhadap pergerakan indeks Dow Jones Industrial. Adalah wajar apabila IHSG tidak mengikuti pergerakan indeks Dow Jones Industrial karena hubungan ekonomi antara dua negara boleh dikatakan sangat kecil. Melompat-lompat pada IHSG bukan disebabkan sepenuhnya oleh melompat-lompat pada indeks Dow Jones Industrial, tapi lebih karena aksi melompat-lompat pada pada saham-saham utama sektor konsumer. IHSG saat ini kapitalisasinya mencapai Rp 5.094 trilyun. Dari kapitalisasi sebesar itu, Rp 932 trilyun atau 18,3 persen diantaranya, berasal dari tiga saham konsumer : PT. HM. Sampoerna (HMSP), PT. Unilever (UNVR), dan PT. Gudang Garam (GGRM). Tiga saham yang harga sahamnya terendah Rp 40.000 per lembar sahamnya. Tiga saham yang pelaku pasarnya jelas bukan investor kecil, bukan investor retail lokal. Tiga saham yang bid offer pada order booknya volumenya kecil-kecil (sering dibawah 100 lot untuk setiap harga) sehingga harga sahamnya bisa dengan mudah digerakkan ke atas atau ke bawah, baik pada pergerakan harga saham harian, maupun pada pergerakan sesi penutupan (closing session). Ketiga saham tersebut, terlihat ‘dengan seenaknya’ mengendalikan pergerakan IHSG. Saham HMSP terutama. Dengan freefloat yang masih sedikit lebih besar dari batas minimal 7,5 persen, kapitasisasi pasar HMSP pada penutupan hari Jumat kemarin sudah mencapai 9,96 persen dari total kapitalisasi IHSG. Dengan posisi bid offer yang sering kali hanya double digit atau bahkan hanya single digit, HMSP benar-benar ‘mengendalikan’ pergerakan dari setiap indeks dimana saham ini menjadi anggotanya: IHSG, LQ45, Kompas 100, dan beberapa indeks sektoral lainnya.

Pergerakan IHSG jadi terasa ‘janggal’. Pada beberapa hari lalu, setidaknya terdapat dua kali kesempatan, yaitu pada tanggal 29 Januari dan 1 Februari 2016, dimana IHSG yang ‘hampir’ ditutup dengan signal negatif, dibawah suport pertamanya, tapi pada akhirnya malah ditutup dengan signal positif, diatas resisten pertamanya, hanya karena kenaikan tajam saham HMSP di sesi penutupan.

IHSG serasa menjadi mainan bagi 3 saham utama sektor konsumsi, terutama HMSP.

Solusi Bagi Ketimpangan IHSG

IHSG adalah barometer dari pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia. Kalau pergerakan IHSG kemudian dirasakan janggal, karena kemudian dipaksa mengikuti pergerakan harga saham HMSP, UNVR, dan GGRM, apakah kemudian BEI bakal melakukan langkah untuk memperbaiki keadaan? Hm.. terus terang, saya sih ragu. Barometer yang timpang, itu tidak mengganggu perdagangan. Artinya: kalau BEI kemudian tidak melakukan langkah apa-apa terkait dengan hal ini, terus terang saya tidak heran. Tidak seperti Pemerintah yang tanggap dalam mengatasi semua permasalah ekonomi dengan membuat setidaknya satu pake kebijakan untuk setiap bulannya, lembaga self-regulated-organization (SRO) yang ada di bursa, sepertinya akan berlaku wajar. Dalam kondisi terbaiknya, bisa saja mereka melakukan pemotongan bobot penghitungan seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Itupun kalau para fund manager yang menggunakan IHSG atau LQ-45 sebagai benchmark, kemudian bereaksi keras terhadap hal ini. Kemungkinan lain yang bisa dilakukan hanyalah mengalihkan benchmark pergerakan pasar kepada indeks lain yang belum tercemar oleh pergerakan HMSP, seperti indeks IDX30 atau Bisnis-27. Akan tetapi, minimnya data historis dari kedua indeks tersebut, ditambah dengan tetap adanya kemungkinan HMSP dimasukkan ke dalam indeks tersebut, sepertinya membuat langkah kedua ini juga bukan merupakan alternatif.

Pilihan lainnya? Menggunakan indeks Syariah, seperti Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) maupun Jakarta Islamic Index (JII) sebagai benchmark. Indeks-indeks ini sudah pasti tidak akan tercemar dengan HMSP yang merupakan perusahaan non-syariah. Akan tetapi, nanti akan terasa lucu jika seorang fund manager menggunakan indeks syariah sebagai benchmark, padahal investasinya adalah investasi reguler yang didalam portfolionya ada saham perbankannya.

Pilihan terakhir? Menggunakan indeks ‘buatan asing’ seperti MSCI Index Indonesia. Hingga penghitungannya terakhir, indeks MSCI masih belum memperhitungkan bobot HMSP secara penuh. Tidak seperti IHSG yang bobot HMSP-nya mencapai hampir 10 persen, bobot HMSP pada MSCI hanya sekitar 3 persen – 4 persen. Pergerakan indeks MSCI bakal dirasakan lebih rasional sebagai barometer jika dibandingkan dengan pergerakan IHSG. Tapi masalahnya: menggunakan MSCI sebagai benchmark itu tidak gratis. Data harian dari posisi pergerakan MSCI Index Indonesia juga tidak mudah untuk didapat bagi masyarakat luas. Tidak mungkin dan tidak nasionalis untuk menggunakan MSCI Index Indonesia sebagai benchmark atau barometer pergerakan harga.

Korban terbesar: Futures Indeks LQ-45

Minggu lalu, Bursa Efek Indonesia melakukan relauncing atas produk lama mereka, Futures Indeks LQ-45. Produk derivative yang pada awalnya merupakan produk dari Bursa Efek Surabaya ini, kembali diperkenalkan kepada masyarakat setelah perdagangannya dihentikan pasca kejatuhan harga saham saat krisis 2008. Ketika itu, aturan perdagangan yang buruk, membuat peraturan perdagangan Future Indeks LQ45 menjadi kacau. Ditengah pergerakan indeks LQ45 yang bisa mencapai 10 hingga 15 poin per hari, Future Indeks LQ45 hanya bisa bergerak 6 poin sehari sesuai dengan aturan autoreject yang saat itu berlangsung. Walhasil, perdagangan future indeks LQ45 menjadi kacau. Pemodal yang sudah terlanjur melakukan posisi beli, tidak bisa melakukan likuidiasi atas posisi beli yang sudah dilakukannya. Boro-boro melakukan posisi sell. Futures Indeks LQ45 bisa autoreject beberapa hari sehingga transaksi hampir tidak pernah terjadi. Kegagalan perdagangan ini yang kemudian membuat perdagangan Futures Indeks LQ45 ketika itu dihentikan.

Kali ini, semua kegagalan masa lalu sudah dicarikan penangkalnya. Aturan autoreject yang terlalu sempit bagi produk Futures Indeks LQ45 sudah dihilangkan. Kegagalan perdagangan yang dulu pernah terjadi, sepertinya tidak akan terulang lagi. Permasalahan bagi produk Futures Indeks LQ45 saat ini adalah: kalau pergerakan indeks LQ45 kemudian menjadi lebih sulit untuk diprediksi gara-gara saham big caps berlikuiditas kecil seperti HMSP, apakah pelaku pasar masih akan tertarik dengan produk ini? Bayangkan : ketika sore hari, ketika pasar mau tutup, ketika sesi penutupan jam 15.50, indeks LQ45 sudah berada dibawah suport, speculator banyak melakukan posisi sell, ternyata kemudian indeks LQ45 ditutup diatas resisten dengan signal beli. Maukah mereka kemudian berubah posisi menjadi buy? Apakah pasarnya memungkinkan untuk berubah arah seperti itu?

Korban terbesar dari ‘besarnya kekuasaan’ HMSP atas IHSG, adalah Futures Indeks LQ45, yang tidak lain adalah produk dari BEI sendiri. Akankah BEI melakukan sesuatu terhadap ‘besarnya kekuasaan’ HMSP ini? Ataukah BEI kemudian akan membuat Futures Indeks LQ45 kembali mati suri? Ini adalah hal yang menarik untuk kita lihat dalam beberapa waktu mendatang.

Solusi akhir untuk Pemodal: Kembali Ke Trend Saham

Bagi seorang trader, mengikuti pergerakan IHSG sebenarnya tidak terlalu penting. IHSG memang mencerminkan pergerakan harga atau pergerakan pasar secara keseluruhan, tapi itu tidak mencerminkan pergerakan harga dari semua saham. Kalau anda adalah pemain saham big caps (BBRI, BMRI, BBCA, BBNI, ASII, TLKM, atau UNVR) pergerakan IHSG dulu mungkin adalah sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Akan tetapi, ketika pergerakan IHSG kacau termakan HMSP seperti saat ini, yang bisa dilakukan adalah meninggalkan IHSG sebagai faktor dalam pengambilan keputusan yang anda lakukan. Memang, arah IHSG tetap harus diperhitungkan untuk melihat pergerakan harga saham secara keseluruhan. Akan tetapi, pemodal tidak perlu lagi ‘menyamakan’ posisinya dengan posisi IHSG. Pemodal sebaiknya melihat masing-masing trend dari saham, atau setidaknya melihat trend dari indeks sektoral. Jika trend dari saham berubah dari turun menjadi naik, disitu adalah kesempatan untuk melakukan posisi beli. Demikian pula sebaliknya: kalau trend naik berubah menjadi trend turun untuk setiap sahamnya, pemodal bisa melakukan posisi jual. Pemodal sudah tidak lagi perlu untuk melihat IHSG sebagai barometer pergerakan harga saham.

Efek Bagi Analis dan Fund Manager : Terpaksa Minum Oplosan

Dari liburan Imlek ini, ada sebuah berita yang 26 Mahasiswa Jogjakarta Tewas Mengkonsumsi Minuman Oplosan. Gile bener. Pada berita itu disebutkan, bahwa Polisi menyita berbagai barang bukti, termasuk obat nyamuk cair yang biasa digunakan sebagai bahan oplosan. HMSP terhadap penghitungan IHSG, memang terasa seperti obat nyamuk cair ini: dibutuhkan sebagai bahan oplosan, tapi kalau dioplos, itu bisa mengakibatkan orang mati. Gilanya lagi: para penggemar ini mau tak mau tetap menenggak minuman oplosan tersebut. Mau mati? Gak takut mati? Lha itu kan resiko pekerjaan. Lha adanya hanya itu. Seperti para mahasiswa di Jogjakarta itu, analis terpaksa menggunakan IHSG sebagai gambaran untuk prediksi pasar, fund manager terpaksa menggunakan IHSG sebagai benchmark. Mengapa? Jawabannya sama dengan para mahasiswa itu: Karena tidak ada pilihan lain.

Dan hasilnya?

Lompat … lompat … lompat…

Tereret … jungkir balik…

Tereret … jungkir bali..

Tereret … jungkir balik…

Yah… namanya juga tahun monyet. Sepertinya tahun ini kita memang terpaksa jungkir balik lebih keras untuk sekedar ‘perform’ atau mendapatkan profit di Bursa Efek Indonesia.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

You might also like More from author

1 Comment

  1. Satrio Utomo Purnomo says

    Betul pak…. tapi masalahnya kan … pihak yang berwenang… Bursa dll.. suka pura2 gak care sama yang beginian. Cape… 🙁

Leave A Reply

Your email address will not be published.