Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Minyak turun, BBM kok tidak turun? (Edisi Lengkap)

193

Selamat pagi…

Harga minyak WTI di minggu kedua bulan Februari ini kembali lengser… turun hingga dibawah level US$30 per barrel.  Masalahnya masih tetap sama: oversupply, ekonomi dunia masih lemah, negara produsen tidak mengurangi pasokan.

Akan tetapi harga BBM dalam negeri tidak kunjung turun.  Nggak usah harga BBM Premium deh… BBM Pertamax saja juga masih tetap tinggi.  Padahal harga BBM di Malaysia, kabarnya sudah mencapai Rp 5.600 untuk bensin RON 95, sekelas Pertamax Plus.  Dengan Pertamina jualan Premium RON 88 di harga Rp 7000-an… bagaimana cuannya itu Pertamina? Jelas gurih banget.

Akan tetapi… ada banyak alasan dimana Pemerintah tidak bisa menurunkan harga BBM seenaknya.  Ada banyak alasan dimana Pemerintah kesulitan untuk menurunkan harga BBM.  Dengan alasan-alasan ini.. Pemerintah terpaksa mempertahankan harga BBM pada level saat ini.  Mau diturunkan juga nanggung.. toh nanti juga naik lagi.  Mendingan ditahan saja.  Toh Pemerintah juga untung.

Alasan tersebut diantaranya:

  • Harga minyak itu sendiri

Harga minyak memang murah.  Akan tetapi… volatilias pergerakan harganya semakin lebar.  Selama bulan Januari kemarin.. rata-rata pergerakan harian dari harga minyak WTI adalah sebesar US$1,26 atau lebih dari 4 persen per hari.  Dengan volatilias sebesar itu.. akan sangat riskan bagi Pemerintah untuk menaikkan atau menurunkan harga. Secara… budaya inflasi kita itu salah kaprah (lihat penjelasannya sebentar lagi). Kalau harga minyak volatile lantas Pemerintah disuruh ikutan … bisa menjulang tinggi itu angka inflasinya… bisa hancur perekonomian kita.

Coba bayangkan: Harga minyak hari ini di US$30 … seminggu lagi di US$35.  Mau naikin Premium 20% dalam seminggu? Gila aje… yang demo bisa dari Monas sampai Tanjung Priuk itu kalee…

  • Pertamina alias Pemerintah:

Barangnya tidak jelas.  BBM kita tidak jelas.  Emang RON 88 masih ada di pasar internasional? Perasaan sudah gak ada deh.  Hanya kita dan Jepang yang pake.  Dari situ saja sudah kelihatan kalau BBM yang ada saat ini.. sebenarnya adalah akal-akalan dari Pertamina saja.  Selama Pertamina belum menjual Pertamax secara luas, Rakyat tetap menjadi korban dari pembodohan yang terjadi secara luas.

Penetapan harga yang tidak transparan.  Harga minyak itu… formulasinya mungkin jelas.  Tapi tetap saja diukur pake MOPS.  MOPS itu harga minyak yang tidak semua orang bisa akses dengan gratis.    Jadi tetap saja gak bisa kehitung kan? Harusnya Pemerintah menggunakan harga yang lebih transparan, WTI kek.. Brent kek… nanti selisihnya ditanggung Pemerintah.  Yang penting semua orang bisa hitung.. agar semua orang bisa antisipasi.

Formulasi harga minyak masih menggunakan harga masa lalu.  Heran deh ini Pertamina.  Heran deh ini Pemerintah.  Apa susahnya sih prediksi harga jangka pendek? 3 bulan kedepan aja deh.  Apa susahnya? Hare gene.. yang bisa juga sudah banyak.  Analis teknikal dari Sabang sampai Merauke juga jumlahnya tidak sedikit.  Akan tetapi… mengapa hingga saat ini formulasi harga BBM tetap menggunakan data 1 bulan terakhir.. 3 bulan terakhir.. atau beberapa bulan terakhir.  Mengapa tidak ada faktor ‘prediksi harga BBM 3 bulan mendatang, 1 bulan mendatang, dan seterusnya?? Takut salah? Takut keliru? Keliru itu manusiawi.  Tapi… di jaman FB dan Twitter ini.. rakyat butuh harga BBM yang kekinian.  Rakyat butuh harga BBM yang kurang lebih sama dengan pergerakan harga saat ini.  Untuk memberikan harga BBM yang kekinian, faktor prediksi harga masa depan harus juga digunakan.  Jangan hanya pake harga masa lalu.   Orang akan banyak yang protes karena harga itu berasa basi!

Pemerintah yang belum jujur dalam masalah harga BBM.  Pemerintah itu.. kalau mau ambil untung dari distribusi BBM.. sebaiknya bilang.  Wahai rakyat… ini saya Jokowi mau ambil untung.  Penerimaan pajak kan jelek tuh… Pemerintah mau ambil untung dari BBM saja.. untuk pembangunan.  Gitu kan jelas!

Pertamina yang meski sudah membubarkan Petral, tapi masih mempertahankan perilaku Mafia.  Perilaku mafia yang itu loh: Diam tapi cuan.  Karena untung.. terus diam saja.. pura-pura gak tau.  Nanti giliran rugi.. teriak-teriak gak karuan minta kenaikan harga BBM dipercepat.   Perilaku mafia seperti ini.. sampai sekarang masih dipelihara oleh Pertamina.  Heran.. kapan deh ini selesainya.

  • Rakyat Indonesia

Rakyat Indonesia adalah terdakwa terakhir dari mengapa Pemerintah tidak juga menurunkan harga BBM.  Rakyat adalah terdakwa terbesar karena sebenarnya.. Rakyat adalah penguasa terbesar dari negara ini.  Kedaulatan di tangan rakyat kan? Jadi apapun yang terjadi pada Republik kita ini.. maka rakyat adalah yang memiliki kesalahan terbesar.

Daftar dosa dari Rakyat adalah sebagai berikut:

Budaya inflasi yang salah kaprah.  Heran… kalau sudah BBM naik.. orang bakal cepat menaikkan harga.  Tapi kalau BBM turun.. susaaaaaaaah banget turun harganya.  Belum lagi.. rakyat (dalam hal ini para perdagang) gampang banget naikin harga dalam besaran yang gak kira-kira : naik 10% .. naik 20% .. naik rutin sesuai inflasi.  Inflasi itu terjadi bukan karena demand pull … tapi karena stupidity driven.  Kalau begini kan susah… gimana Pemerintah mau menurunkan harga? Apa insentif bagi Pemerintah untuk menurunkan harga kalau resiko inflasinya kemudian malah menjadi besar? Pemerintah sulit untuk menurunkan harga BBM karena rakyat tidak merespon penurunan harga BBM dengan penurunan harga barang.

Budaya suku bunga yang ketinggian.  Saya ingat betul ketika saya dulu masih kecil.  Suku bunga deposito masih di level 12% per tahun.  Kadan malah bisa naik sampai 16 persen, atau bahkan 18 persen setahun.  Ketika jaman Soeharto dulu.. suku bunga memang tinggi… karena suku bunga global memang tinggi juga.  Gak tau ketika itu suku bunga pinjaman berapa.  Tapi perkiraan kasar saya.. gak akan lebih dari 25% deh.. Paling cuman 20% – 25%.  Akan tetapi.. sekarang… ketika suku bunga deposito sudah single digit… sudah dibawah 10%… suku bunga pinjaman tetap saja : 20% – 25% … apalagi kalau sudah yang namanya KUR, kredit usaha rakyat yang untuk rakyat kecil.  Hadeeeh… rasa-rasanya.. saingannya cuman dari rentenir saja deh.  Suku bunga hanya 2% – 3% dibawah level rentenir.  Memang sih.. lebih murah dari tarif rentenir.  Tapi… kok tetap saja tinggi amat yak?

Budaya margin yang terlalu serakah.

Ketika suku bunga tinggi.. margin juga harus tinggi.  Disini kemudian semua lingkaran setan itu berputar.  Sebagai produsen, pengusaha, sebenarnya merasa bahwa mengambil untung 10% – 15% saja sudah cukup.  Tapi.. barang yang dibeli dengan menggunakan hutang dan hutangnya memiliki bunga 36% per tahun.. maka margin dari penjualan barang harus minimal 46%.  Gile… gimana duit bisa berputar kalau marginnya segitu? Mana ada orang yang mau usaha? Mana ada studi kelayakan bisnis yang visible? Mau ngerampok? atau Nggarong?

Intinya: harga BBM tidak bisa murah karena mental kita semua.. mental rakyat Indonesia belum berevolusi, masih berada dalam paradigma yang lama.  Kita belum punya mental yang cukup untuk menerima margin yang lebih rendah, bekerja lebih keras, mengelola secara lebih jujur, lebih terbuka, bekerja untuk rakyat, bekerja untuk bangsa.  Bangsa kita masih tersandera dalam kapitalis yang individualistik.  Belum pada semangat kerakyatan dan kebangsaan yang dirintis oleh founding father dari negeri kita ini.

Perlu Dibentuk Lembaga Independen yang Mengurusi Harga BBM

Berikut ini adalah stake holder dari harga BBM:

Pemerintah itu berkepentingan terhadap anggaran.  Pemerintah itu maunya BBM tidak mengganggu anggaran.  Tapi Pemerintah juga berkepentingan agar perekonomian berjalan, rakyat memperoleh BBM pada harga yang rasional.

Pertamina itu maunya untung.  Pemerintah itu perusahaan yang mencari untung.  Pertamina itu Pedagang.  Pertamina itu ngurusin distribusi.  Hanya itu saja? Enggak juga….ada beban bunga masa lalu yang tidak murah, karena kesalahan pengelolaan masa lalu.  Itu sebabnya, Pertamina harus untungnya besar.  Disini permasalahan kemudian bermula, karena Pertamina kemudian memposisikan diri sebagai penjajah dari bangsa sendiri.  Karena tidak mau rugi, maka mereka kemudian menginjak rakyat melalu disparitas harga yang terlalu lebar.  Pemerintah sebaiknya sadar akan hal ini.

Rakyat jelas maunya BBM yang murah.  BBM murah agar rakyat punya sisa uang yang semakin banyak untuk konsumsi.  Konsumsi semakin banyak, berarti perekonomian bisa berputar lebih kencang lagi.  Meskipun demikian, rakyat juga butuh stabilias harga.  Rakyat tidak suka inflasi.  Rakyat juga kepingin masa depan yang mudah untuk diprediksi, agar semua kegiatan lebih terencana.  Jadi.. rakyat sebenarnya kepingin: harga BBM yang tidak terlalu mahal, transparan, dan mudah untuk dipahami.  Rakyat tidak mau harga BBM yang melonjak-lonjak, karena itu berarti inflasi, berarti ketidakpastian.

So.. bagaiman realitanya?

Yang ada saat ini adalah :

Pemerintah bersekongkol dengan Pertamina untuk menginjak Rakyat!!!

Gimana enggak bersekongkol? BBM nya saja tetap Premium yang harga internasionalnya tidak jelas.  Harga BBM subsidi tidak transparan.  Penetapannya juga gak jelas.  Pemerintah membiarkan Pertamina bersikap seenaknya.  Rakyat juga tidak bodoh lah.  Di era informasi ini, rakyat bisa dengan mudah mengetahui bahwa harga BBM di luar negeri, jauh lebih mahal dibandingkan harga BBM di dalam negeri.  Pemerintah bukannya mencari solusi, malah berusaha mendompleng dengan menambahkan beban tambahan pada harga BBM.  Gimana bukan ini usaha bersama dalam menginjak rakyat?

Jadi… saya kira.. perlu ada lembaga yang letaknya ditengah ketiga stake holder itu… yang kemudian bisa mengatur harga BBM dengan adil.  Toh.. duit BBM ini.. adalah duit besar.  Harkat hidup orang banyak.  Komponen penting dalam perekonomian.  Wajar jika ada sebuah lembaga yang kemudian mengatur :

  • Berapa sih keuntungan yang wajar dari Pertamina?
  • Apa sih yang bisa didapatkan Pemerintah dari BBM ini? Berapa duit keuntungan yang bisa diterima oleh Pemerintah? Berapa subsidi yang harus dibayar?
  • Berapa harga BBM yang lebih berkerakyatan? Berapa harga BBM yang lebih masuk akal?

(sst.. DPR kira-kira perlu dilibatkan enggak ya? Kalau dilibatkan.. nanti malah duit lagi.. duit lagi.. mendingan enggak kali ye? Tapi memang sebaiknya, lembaga seperti ini ada dalam pengawasan DPR .. ada dibawah DPR.  Itu kalau DPR bisa menyingkirkan stigma korup yang selama ini melekat…)

Indonesia itu masyarakatnya agamis. Agama itu dogmanya adalah dogma yang lebih berasa sosialis dibandingkan dengan kapitalis.  Kita harus lebih bisa sosialis.. dibandingkan kapitalis. Toh.. Pancasila juga sosialis. Mau tetap keukeuh kuat-kuatan untuk bilang bahwa kita kapitalis?

Wahai Bangsa Indonesia… mari kita maju bersama-sama.  Jauhkan diri kita dari hobby ‘ngerjain bangsa sendiri’.  Mulailah dari diri kita sendiri.

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

*disclaimer ON

trading investasi saham Indonesia pemula mahir pakar pasar modal bursa efek

4 Comments
  1. Andhy Fathoni says

    pak, pemerintah memang tidak bisa menjual dengan harga hari ini, karena minyak hari ini dibeli sekitar 6 bulan lalu. sebagai contoh, pemerintah baru saja beli minyak di harga 29 dolar/barel kemarin, tapi minyaknya baru datang bulan juli. jadi memang tidak bisa pakai harga kekinian.

    untuk KUR bukannya sekarang sudah disubsidi ya jadi 9% aja bunganya ?

    saya setuju kalau pemerintah tidak bisa asal naik turunin harga. harga bbm turun, harga barang ga turun, dan sebaliknya.

    1. Satrio Utomo Purnomo says

      Bung Andhy….

      Disitu permasalahannya kan? Manajemen yang gak mau risk taking begitu… membuat ‘kita beli harga masa lalu’. Ini sumber kekacauan ketika harga bergerak turun. Harusnya kan tidak begitu. Konsumen berhak atas harga yang rasional lah… Jadi.. Pertamina harusnya juga memasukkan ‘prediksi harga minyak mendatang’ pada faktor harga dia. Biar lebih kekinian harganya.

      Wassalam,
      Satrio

  2. Kurniawan says

    KUR bukannya sudah 9%, spanduknya besar-besar di setiap cabang BRI. Mosok bohong sih, update donk.

    1. Satrio Utomo Purnomo says

      Kemarin saya ngobrol sama temen-temen yang dari bank…. Harga spanduk memang sudah 9% … tapi realitanya masih jauh lebih tinggi…

Leave A Reply

Your email address will not be published.