Fraksi 2016 : Berharap Kembalinya Para Scalpers…*

0 33

Selamat pagi…

Pagi ini… kita akan berkenalan dengan Pak Bijak.  Pak Bijak ini adalah seorang ‘investor’ di pasar modal Indonesia.  Pak Bijak ini tentu saja bukan nama sebenarnya, karena Undang Undang Pasar Modal melarang orang sekuritas seperti saya untuk memberitahukan transaksi  seorang investor kepada pihak lain.  Tapi, percayalah: Pak Bijak ini adalah sebuah tokoh yang ada dalam dunia nyata pasar modal kita, dalam keseharian perdagangan di Bursa Efek Indonesia.  Kata ‘investor’ tadi saya gunakan dengan tanda kutip, karena hanya mereka sendiri yang merasa dirinya investor, menyebut dirinya investor.  Sama seperti  SRO (self regulated organization) seperti OJK dan BEI yang menyebut diri mereka investor.  Pemodal kalau boleh saya bilang.  Trader lebih tepatnya.  Pak Bijak, bersama dengan teman-teman yang sejenis dengannya, mereka ini adalah orang yang berusaha mencari keuntungan pendek dan cepat (trading) dengan memanfaatkan celah yang ada dalam pergerakan harga.

Pak Bijak ini bukanlah seorang pemodal yang shophisticated.  Pak Bijak ini bukan seperti Lo Kheng Hong yang memiliki pengetahuan analisis fundamental yang mumpuni.  Pak Bijak ini juga bukan seperti Benny Tjokro, Harry Tanoe, keluarga Riyadi, atau orang-orang lain yang memiliki kemampuan dalam level  ‘paripurna’ dalam menggerakkan harga saham di Bursa Efek Indonesia.



Meski bukan pemodal yang sophisticated, Pak Bijak ini bukanlah seorang pemula.  Bukan juga orang yang muda.  Pak Bijak ini adalah seseorang yang sudah cukup berumur.  Usianya sudah tidak muda lagi.  Sudah lebih dari 70 tahun.  Pengalaman di pasar modal sudah puluhan tahun.  Saya yang masuk ke pasar modal tahun tahun 1998 saja, sepertinya masih lebih sedikit jam terbangnya jika dibandingkan Pak Bijak ini. Pendidikannya juga tidak terlihat tinggi.  Penampilannya bersahaja.  Pak Bijak adalah orang yang berusaha melawan pikun, dengan cara menjadi seorang trader saham, mencari nafkah di Bursa Efek Indonesia.

Setiap hari, Pak Bijak ini memiliki rutinitas yang standar.  Pagi hari, Pak Bijak datang ke galeri salah satu sekuritas, pasang order beli dan jual dari portfolio yang dia miliki, kemudian menunggu.  Ketika perdagangan di bursa efek sudah berlangsung, Pak Bijak juga ikut melakukan perdagangan.  Kalau ada order beli atau order jual yang dipasang mengalami transaksi (done istilahnya), mereka kemudian cepat memasang order lagi yang lain.  Akan tetapi, jika perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia berlangsung sepi atau lamban, mereka terkadang harus menunggu hingga terkadang tidur di galeri saham hingga dengkurannya terdengar sampai ruang sebelah.  Sore hari, ketika perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia berakhir, Pak Bijak melakukan rekap atas transaksi yang lakuan, dan kemudian pulang.  Ini adalah rutinitas sehari-hari yang dijalani oleh Pak Bijak.

Jika hari baik, Pak Bijak keluar jalan-jalan, makan siang di tempat yang mewah.  Sebut saja: Four Season, Pacific Place, Hotel Sultan, Grand Hyatt, adalah beberapa destinasi kuliner yang mereka singgahi sebagai tempat untuk makan siang.  Oh iya.  Jangan lupa: Gedung Bursa Efek Indonesia.  Hebat kan?  Pak Bijak bisa makan siang di tempat yang bergengsi itu, karena Pak Bijak adalah investor pasar modal Indonesia, karena Pak Bijak adalah pemegang saham.  Pak Bijak itu hanya makan ditempat mahal itu kalau ada emiten yang mengundang ke tempat itu untuk mendatangi Public Expose, atau Rapat Umum Pemegang Saham.   Saya tidak tahu apakah diluar jadwal Public Expose atau RUPS Pak Bijak juga datang ke tempat itu untuk makan.  Sepertinya sih enggak.

Pak Bijak ini, tentu saja melakukan itu tidak sendirian.  Banyak orang lain yang juga menjalani hidup seperti Pak Bijak.  Dari pengamatan saya, terdapat sebuah grup yang terdiri dari sekitar 10 – 15 orang yang hampir selalu terlihat di berbagai event pasar modal.  Mereka yang kurang lebih umurnya sama, pengalaman sama, jam terbang yang selisihnya juga tidak seberapa.  Yang mereka kejar sepertinya juga bukan hanya sekedar makan siang.  Souvenir dari emiten itu banyak yang menarik, dan kadang tidak murah.  Mereka ini orang yang berusaha hidup dari pasar modal Indonesia.  Menjadi penggembira.



Pak Bijak adalah seorang Scalping Trader

Karena tidak sophisticated, Pak Bijak mencari nafkah di pasar modal dengan cara yang unik: Beliau melakukan posisi beli di harga bid, jual di harga offer.  Scalping trading kalau istilah canggihnya.  Scalp itu terjemahan  ke bahasa Indonesianya adalah kulit kepala.  Ketombe kalau kita meminjam istilah iklan shampoo.  Ketombe itu kecil, gak kelihatan, nyaris seperti debu.  Sesuai dengan nama tersebut, scalping trading ini adalah strategi untuk memperoleh profit di pasar modal, dengan cara melakukan pergerakan harga seminim mungkin.  Yang penting untung.  Yang penting cepat.  Yang penting (dipikirnya) aman.  Para scaping trader ini… setelah melakukan posisi beli, biasanya segera memasang posisi jual dengan selisih harga 1 atau 2 poin.  Kalau bisa malah 1 poin biar resikonya tidak tinggi.  Mereka hanya berusaha untuk mencari keuntungan dari spread atau selisih dari bid dan offer.  Keuntungan yang kecil, tapi kalau perlu mereka melakukannya dengan lot yang sangat besar, agar keuntungannya (terasa) besar.

Apakah cara ini dirasa cerdas? Apakah cara ini pintar? Apakah cara ini menguntungkan bagi seorang investor? Hehehe.  Yang jelas… saya juga orang yang merasa bahwa scalping trading itu sesuatu yang buang-buang waktu saja.  Buang waktu, tenaga, pikiran, sumber daya, dll.  Heran.  Untung sedikit banget gitu kok? Dimana happynya? Dimana kepuasannya? Dimana ‘kelihatan pintar’nya? Yang ada adalah perusahaan sekuritas yang happy.  Bahagia boo… hehehe.  Gimana gak happy? Beli di bid, jual di offer… apa gak kerja bakti tuh? Komisinya juga hampir pasti lebih besar daripada duit yang dibawa pulang oleh nasabah.  Kadang… saya malah kasihan dengan para scalpers ini, karena mereka itu kebanyakan adalah orang yang tidak disiplin untuk cut loss.  Portfolionya bisa sedemikian lebar, saham yang sangat banyak macamnya, dengan posisi potensial loss yang kalau dilihat secara total, jumlahnya tentu tidak sedikit.   Kebanyakan, orang-orang seperti Pak Bijak ini, memiliki potensial loss hingga sekitar 20 persen hingga 30 persen dari ekuitasnya.

Tapi…  saya mau bilang apa? Dari pengalaman saya… nasabah itu selalu benar.  Apa yang mereka mau.. seberapapun tidak rasionalnya… selama tidak bertentangan dengan aturan pasar modal yang ada… selama tidak membuat perusahaan sekuritas rugi… ya sudah… dibiarken saja.  Toh.. mereka merasa diri mereka untung.  Mereka merasa diri mereka benar.  Kalau sudah merasa untung dan merasa dirinya benar, seorang investor itu paling tidak bisa untuk diajak berdebat.  Kalau sudah merasa untung dan merasa dirinya benar, pemodal itu paling tidak bisa dibilangin.  Mau dibenerin gimana orang mereka benar? Toh perusahaan sekuritas berada sebagai pihak yang diuntungkan.  Toh Pasar Modal… Industri Pasar Modal… adalah pihak yang diuntungkan.  Mau bilang apa coba?

Scalper Trader : diusir oleh Fraksi 2014

Pak Bijak ini adalah seorang pemodal kebanyakan (average investor) yang banyak menghuni galeri-galeri dari perusahaan sekuritas.  Mereka ini, yang selain selalu menghabiskan jatah makanan kecil dan kopi yang ada di galeri, mereka juga menjadi teman bagi analis-analis seperti saya, yang memang ada untuk menghidupkan pemodal retail. Kisah sukses dari mereka, (saya gak tau dimana suksesnya, tapi mereka bilang itu sukses kok.. ya sudahlah.. diterima saja… toh nasabah selalu benar) ini yang kemudian membawa pemodal – pemodal retail yang lain, untuk bertransaksi di Bursa Efek Indonesia.  Mereka ini, seperti cendawan: kalau market sedang bullish, mereka akan tumbuh berkembang, meramaikan galeri dari perusahaan-perusahaan sekuritas.  Disisi lain, kalau market sedang bearish, mereka menghilang entah kemana.

Mereka ini tumbuh berkembang, seiring dengan fraksi pergerakan harga yang ‘ramah’ atau mendukung terhadap strategi trading yang mereka lakukan.  Karena mereka melakukan scalping, untung 1 poin langsung kabur, mereka sering kali hanya bisa melakukan trading, pada saham bisa memberikan keuntungan ketika harga bergerak 1 poin.  Mereka cenderung menghindari perdagangan pada saham yang gak bisa untung ketika harga bergerak 1 poin, karena pada saham-saham itu, mereka pandang memiliki resiko yang lebih besar.

Masalahnya adalah: fraksi harga yang dibelakukan oleh Bursa Efek Indonesia, selalu berubah seiring dengan berjalannya waktu.  Masa sebelum tahun 2014 adalah masa kebahagiaan dari para scalper traders ini.  Ketika itu, Bursa Efek Indonesia memiliki 5 fraksi pergerakan harga: Fraksi harga Rp 1 untuk harga saham yang kurang dari Rp 200, fraksi harga Rp 5 untuk saham harga Rp 200 hingga Rp 500, fraksi harga Rp 10 untuk kisaran harga Rp 500 – Rp 2000, fraksi harga Rp 25 untuk saham harga Rp 2000 – Rp 5.000, dan fraksi harga Rp 50 untuk harga saham diatas Rp 5.000.  Fraksi ini adalah fraksi yang paling memanjakan para scalper trading ini.  Pada hitungan simulasi yang kami lakukan dengan menggunakan fee beli sebesar 0,15 persen dan fee jual sebesar 0,25 persen, para scalper trader seperti Pak Bijak ini, bisa terus memperoleh keuntungan hingga harga saham mencapai Rp 12.500 untuk setiap lembar sahamnya.  Dengan kondisi seperti ini, scalper trader bisa melakukan scalping pada saham-saham blue chip papan atas.

160411 Fraksi Harga 2016

Masalah kemudian timbul ketika di tahun 2014 BEI menerapkan fraksi harga baru yang terdiri dari 3 harga.  Pada 3 fraksi ini, seorang scalper trader hanya bisa untung ketika melakukan scalping pada saham dengan kisaran harga Rp 50 – Rp 250, Rp 500 – Rp 1.250, dan Rp. 5000 – Rp 6.250.  Gimana gak pusing tuh? Kesempatan mencari untungnya lompat-lompat.  Udah begitu, saham yang bisa dipilih, sepertinya juga tidak akan banyak.  Di masa ini, para scalper trader menjadi sangat menderita.  Banyak dari mereka yang kemudian memilih untuk berhenti trading.

Fraksi 2016: Akankah Membuat Mereka Kembali?

Semenjak minggu kemarin, rumor sudah mulai kencang terdengar.  BEI bakal memberlakukan fraksi harga yang baru.  Fraksi harga tersebut adalah fraksi harga Rp 1 untuk kisaran harga Rp 50 – Rp 200, Fraksi harga Rp 2 untuk kisaran harga Rp 200 – Rp 500, Fraksi harga Rp 5 untuk saham Rp 500 – Rp 2000, Fraksi harga Rp 10 untuk saham dengan kisaran Rp 2000 – Rp 5000, dan fraksi harga Rp 25 untuk saham dengan harga lebih dari Rp 5000.  Dari simulasi yang kami lakukan dengan menggunakan fee beli 0,15 persen dan fee jual sebesar 0,25 persen, hasilnya adalah sebagai berikut:

  • Scalping trading memiliki return positif pada saham dengan kisaran harga Rp 50 – Rp 1.250. Artinya: bagi seorang scalping trader, mereka bisa fokus pada saham dibawah Rp 1.250.
  • Scalping trading juga memilki return positif untuk saham yang diperdagangkan pada harga Rp 2000 – Rp 2500, dan Rp 5000 – Rp 6250.

Bagaimana selanjutnya? Apakah fraksi harga yang baru ini bisa membuat para scalper trader tersebut kembali?

Hm… kalau anda bertanya kepada saya… saya tetap lebih suka kita kembali ke fraksi harga tahun 2007 karena itu membuat para scalper trader ini bisa melakukan transaksi pada saham dengan kisaran harga yang jauh lebih luas… tanpa diputus ditengah-tengah.

Akan tetapi… kita harus menghargai langkah yang telah dilakukan oleh BEI dan OJK.  Fraksi yang akan dilaksanakan mulai bulan depan ini, sudah jauh lebih baik daripada Fraksi Harga 2014.  Kita lihat saja apakah fraksi harga yang baru ini bisa kembali mengembalikan transaksi bursa ke dalam level kejayaannya, membuat para scalper trader itu kembali ke Bursa Efek Indonesia.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.