Ketika Dana Asing ‘Dilarang Masuk’ ke @IDX_BEI*

40

Pengantar: ini sebenarnya adalah tulisan saya untuk Wake Up Call Kontan 20 Maret 2016 lalu.  Sepertinya saya sudah pernah upload disini.  Tapi, karena saya tadi cari tidak ketemu, ya sudah… saya upload lagi.  Artikel ini sekedar memperjelas mengapa IHSG belakangan hanya bergerak flat, ketika bursa global sedang bullish.  Semoga bermanfaat.

__________________________

 

Selamat pagi…

Mungkin anda belum memperhatikan: IHSG sebenarnya sudah dua bulan terakhir memasuki periode bullish, memasuki trend naik yang cukup kuat.  Semenjak titik terendah IHSG pada tanggal 21 Januari 2016 di level 4.408,80, IHSG pada hari Jumat kemarin sudah sempat mencapai titik tertinggi di 4.908,26 sebelum akhirnya ditutup pada level 4.885,71 pada tanggal 18 Maret 2016 kemarin.  IHSG sudah naik (hampir) 500 poin, lebih dari 11 persen, dalam waktu dua bulan.  Kalau dilihat dari posisi close to close (membandingkan harga penutupan),  IHSG naik 10,68 persen.  Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan indeks Dow Jones Industrial yang naik 10,82 persen, Hang Seng yang naik 11,48 persen, dan Strait Times yang naik 14,77 persen.  Loh??? Kok bisa IHSG naik lebih rendah dibandingkan dengan indeks yang lain??? Padahal, aliran dana asing ke Indonesia sedang mengalir sedemikan derasnya.  Kalau menguping omongan dari teman-teman yang berada di pasar obligasi, aliran dana asing semenjak awal tahun, adalah yang tertinggi selama beberapa tahun terakhir.  Rupiah juga menguat 5,6 persen dalam periode yang sama.  Gubernur BI Bapak Agus Martowardojo kemarin juga mengkonfirmasi bahwa dana asing yang masuk ke Indonesia di tahun ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan aliran dana asing yang mengalir masuk ke Indonesia pada tahun lalu.  Mengapa kenaikan IHSG masih kalah jika dibandingkan indeks dari Bursa di kawasan regional Asia?

Dana Asing ‘Dilarang Masuk’ ke Bursa Efek Indonesia

Siapa bilang ada larangan bagi dana asing untuk masuk ke Bursa Efek Indonesia?  Siapa yang melarang pemodal asing masuk ke Bursa Efek Indonesia? Tidak ada yang melakukan itu. Tidak ada yang secara langsung atau secara eksplisit melakukan larangan.  Akan tetapi, dalam kenyataannya… dana asing memang ‘dilarang’ (dalam tanda kutip) untuk masuk ke Bursa Efek Indonesia.  Ini bisa dilihat dari besarnya aliran dana asing yang dan kinerja IHSG selama 53 hari perdagangan (tanggal 18 Maret kemarin adalah hari perdagangan ke 53 di Bursa Efek Indoensia) berikut ini:

160320 Aliran dana Asing dan Kinerja IHSG

Dari table diatas bisa kita lihat, ditahun 2016 ini, aliran dana asing ke Bursa Efek Indonesia melalui pasar reguler adalah paling kecil dalam 5 tahun terakhir.  Pada tahun 2012 dan 2015 saja, ketika kenaikan IHSG lebih kecil dari kenaikan IHSG ditahun 2016 ini, aliran dana asing ke Bursa Efek Indonesia tercatat jauh lebih besar.  Minimnya aliran dana asing melalui pasar reguler ini, disebabkan oleh beberapa faktor.

Yang pertama: IHSG Rusak, Asing Menahan Diri

IHSG itu adalah barometer dari kondisi Bursa Efek Indonesia.Ketika IHSG bergerak naik, berarti secara rata-rata, harga saham di Bursa Efek Indonesia bergerak naik.  Disisi lain, ketika IHSG bergerak turun, berarti secara rata-rata harga saham di Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan.  Permasalahannya: IHSG dihitung dengan menggunakan rata-rata tertimbang sesuai dengan kapitalisasinya.  Dengan rata-rata tertimbang berdasarkan kapitalisasi ini, berarti emiten dengaan kapitalisasi yang besar, bakal memiliki peran atau pengaruh yang lebih besar pada pergerakan IHSG, dibandingkan dengan emiten yang memiliki kapitalisasi pasar yang lebih kecil.HMSP bakal memiliki peran yang lebih besar dibandingkan dengan INDF, TLKM bakal memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pergerakan IHSG dibandingkan dengan EXCL.  Emiten kakap lebih berpengaruh dibandingkan emiten teri.

160320 Big Caps IHSG

Nah..sekarang begini: pelaku pasang asing itu, menggunakan IHSG sebagai benchmark dari investasinya.  Agar tetap mendapatkan order, agar tetap mendapatkan alokasi dana, agar tetap mendapatkan nasabah yang mau berinvestasi kepadanya, seorang fund manager harus mampu memiliki prestasi yang lebih baik, mampu mengalahkan pergerakan dari benchmarknya, yaitu IHSG.  Kalau IHSG naik 10 persen misalnya, seorang fund manager harus mampu mendapatkan return sebesar 11 persen, 15 persen, atau lebih dari itu.  Disisi lain, ketika IHSG turun 10 persen, kerugian yang dialami oleh investasi dari fund manager, harus bisa kurang dari 10 persen tersebut.

Fund manager harus bisa mengalahkan benchmark.Sedangkan benchmark (dalam hal ini IHSG) adalah sebuah rata-rata tertimbang dari saham-saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.  Sekarang, mari kita lihat kondisi dari 10 saham berkapitalisasi terbesar yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Pada penutupan hari Jumat, 18 Maret 2016 kemarin, IHSG yang berada pada level  4.885,71 miliki market kapitalisasi sebesar Rp 5.186,76 trilyun.  Dengan kapitalisasi sebesar itu, Rp 2.611,16 trilyun diantaranya, setara dengan 50,34 persen, berada pada 10 saham diatas.  Terbesar tentu saja dipegang oleh HMSP, yang baru sejak Desember kemarin secara penuh kembali menjadi anggota dari IHSG, kembali menjadi dasar penghitungan IHSG.  Tidak hanya itu: 4 dari 10 saham terbesar IHSG adalah saham-saham sektor konsumer, tercatat HMSP, UNVR, GGRM, dan ICBP.  Keempat saham tersebut, memiliki free float yang rendah.  Order book dari keempat saham tersebut, sering kali hanya puluhan atau ratusan lot.  Jarang sekali ada bid offer ribuan lot pada keempat saham tersebut.  Keempat saham tersebut, memiliki rata-rata Price to Earning Ratio (sering disebut P/E Ratio atau PER) sebesar 34,4 kali, jauh lebih tinggi dari PER rata-rata 10 saham tersebut yang hanya sebesar 22,16 kali, jauh lebih tinggi dari PER IHSG yang saat ini masih sebesar 16,9 kali.  IHSG saat ini dengan PER sebesar 16,9 kali, sebenarnya masih belum mahal karena rata-rata PER IHSG dalam 10 tahun terakhir, hanya sekitar 16,5 kali.  Akan tetapi, mengingat rata-rata PER dari saham sektor konsumer sudah mencapai 34,4 kali, semenjak pertengah Februari lalu, memang sudah banyak warning yang menyebutkan, bahwa IHSG SUDAH MAHAL!!! Itu yang membuat pemodal asing enggan untuk melakukan posisi beli di Bursa Efek Indonesia.

Yang kedua : Masalah Issue NIM

Okelah kalau saham-saham konsumer mahal….emang gak bisa masuk ke saham-saham yang lain gitu?  Yah..saham-saham yang lain ini.. memang ada.  Biasanya, pemodal asing mengalihkan sasarannya pada saham-saham sektor perbankan.  Masalahnya: dengan adanya issue Net Interest Margin yang endingnya ‘tidak terbuka’ beberapa waktu yang lalu, pemodal asing sepertinya juga malas untuk melakukan posisi pada saham-saham perbankan.  Sepertinya, mereka akan menunggu sekitar 1 – 2 kali laporan keuangan kuartalan, untuk telihat pengaruh dari peraturan tersebut.

Lantas… Pemodal Asing Belanja Apa Dong?

Yah..sejauh ini… semua itu yang membuat  pemodal asing selama beberapa hari terakhir, terlihat hanya berkonsentrasi untuk melakukan posisi beli pada saham-saham TLKM dan ASII yang merupakan saham big caps yang tersisa.  Saham-saham big caps yang tidak terkena dampak dari kedua masalah diatas.Itu yang membuat kedua saham tersebut melejit naik.  Pertanyaan sebenarnya adalah: akankah pemodal asing kemudian bakal mengalihkan buruannya pada saham-saham lapis kedua, yang saat ini dihuni oleh saham-saham sektor property, konstruksi, semen, dan komoditas, seiring dengan kenaikan harga minyak yang terjadi belakangan ini.

Ancaman Kedepan: Ketaikan Formula Harga BBM Subsidi

Mohon maaf kalau saya menggunakan kata-kata yang mungkin tidak patut.Saya itu orang Surabaya.Orang Surabaya itu sudah terbiasa menyisipkan kata-kata kasar dalam kosakata kesehariannya.Belakangan ini, saya melihat bahwa Basuki Cahaya Purnama atau Ahok, bakal melenggang tanpa tantangan dalam Pilkada DKI.Saya hanya sedikit melakukan ‘relaksasi’ atas kosa-kata yang nantinya bakal sering digunakan di Ibukota ini.

Formula harga BBM subsidi, dalam hal ini Premium dan Solar memang aneh.  Formula harga tersebut menggunakan harga MOPS yang angkanya sulit untuk dicari, harga masa lalu yang sangat panjang, dan beberapa variable yang hanya Pertamina dan Menteri ESDM yang tahu hitungannya.  Intinya: orang lain pasti salah terus kalau mencoba hitungan BBM itu.  Ketaikan atau keanehan penghitungan ini, sangat terasa ketika penurunan harga BBM di bulan Januari lalu.Sudah harganya gak jelas, timingnya sampai harus diundur, menunggu stok habis katanya.

Dengan formulasi yang aneh itu, bulan April nanti, harga BBM Premium dan Solar ini akan diturunkan.  Diturunkan dengan alasan harga minyak beberapa waktu yang lalu bergerak turun.Hehehe.Saya pusing kepala.Realita yang melintas dikepala saya: ini orang pada nurunin BBM.  Padahal..harga minyak WTI.. dalam 2 bulan terakhir.. sudah naik sekitar 39 persen. Gimana harga BBM di bulan Juli nanti ya?Bagaimana inflasi di kuartal ketiga dan keempat nanti ketika harga BBM naik?  Secara: dari pengalaman yang sudah-sudah..kalau BBM naik, inflasi biasanya tidak terkendali.. sedangkan kalau harga BBM turun, harga barang tidak turun juga.  Buktinya ada pada tariff taksi tuh. Taksi online yang sedang marak itu, kan disukai orang karena taksi yang ada, saat ini tarifnya sulit turun ketika BBM turun.  Hadeeeeh….

Ah..sudahlah.  Kita nikmati saja trend naik yang saat ini terjadi pada saham-saham lapis kedua.Saham lapis kedua?Saham lapis pertama?  Hehehe….

Heran memang… ketika Presiden Jokowi dan para menteri berjuang agar pemodal asing masuk ke Indonesia, dana asing malah ‘Dilarang’ untuk memasukinya.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

You might also like More from author

2 Comments

  1. avatar says

    dana asing “dilarang masuk” IDX, kesimpulannya yaa kudu sabar & sabar ajaa ya pak.. hee4x

Leave A Reply

Your email address will not be published.