Benchmark Baru Suku Bunga @Bank_Indonesia : Menurunkan Kecepatan Dengan Mengganti Speedometer*

25

Selamat pagi…

Sebenarnya… ini bukan kompetensi saya.  Analis perbankan diluar sono banyak.  Kalau anda kepingin bertanya tentang kebijakan Bank Indonesia (BI) terbaru, yang menggunakan Reverse repo 7 hari sebagai bechmark suku bunga mengganti kan BI Rate… saya kira ada baiknya anda bertanya ke para pakar perbankan itu saja.

Akan tetapi… karena banyak yang bertanya kepada saya… saya akan berusaha menjelaskan secara sederhana.. sesuai dengan pengertian dari otak saya yang tidak pintar ini.  IMHO.. begitu ceritanya.

Memahami perubahan benchmark tersebut… sebaiknya kita memahami perkembangan dunia persilatan belakangan ini.

  1.  Dulu… ada masanya kita (atau setidaknya saya) membully langkah Mas Agus Marto dalam berlambat-lambat dalam menurunkan BI Rate.  Mas Agus Marto yang ketakutan sendiri (kalau gak mau dibilang ‘terlalu berhati-hati’ dengan langkah The Fed), berlambat-lambat untuk menurunkan BI Rate.  Seingat saya… saya sampai sempat bilang Mas Agus sebagai ‘terlalu setia kepada SBY’ sehingga kurang mendukung kebijakan pelonggaran ekonomi Jokowi dengan semua paket kebijakannya.
  2. Akibat dari langkah Agus Marto itu… BI Rate menjadi ketinggian.  BI Rate jadi ‘tidak sesuai’ dengan kondisi sebenarnya.
  3. Nah sekarang… Bank Indonesia sepertinya merasa, bahwa langkah penurunan tingkat bunga kredit yang dilakukan oleh Pemerintah adalah langkah positif yang perlu didukung.  Penurunan NIM itu.. berarti ekonomi lebih efisien.  Masa sih BI gak mau dukung? Itu sebabnya… Bank Indonesia kemudian merasa perlu untuk ‘membetulkan’ langkah sebelumnya yang dirasakan tidak sesuai dengan kondisi yang ada saat ini.
  4. Membetulkan BI Rate yang ketinggian dengan menurunkan BI Rate terlalu cepat.. jelas tidak mungkin… karena beresiko membuat nilai tukar Rupiah terhadap US$ terguncang juga.  Coba kalau BI Rate diturunkan 100 basis.. dari 6,75 sekarang menjadi 5,75… US$nya mau naik ke berapa? mau 14.000 lagi? BI jelas tidak mau hal ini terjadi.
  5. Itu sebabnya… Bank Indonesia kemudian menggunakan variabel lain… yang dianggap lebih ‘mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya’… yaitu Reverse repo 7 hari yang bunga terakhirnya (katanya.. CMIIW) di level 5,5 persen itu.  Saya gak tau ini variabel apa.. jadi anda mendingan tanya Mbah Google atau analis perbankan saja.

Jadi… Ringkas ceritanya:

Bank Indonesia itu hanya ingin menurunkan kecepatan, dengan mengganti Speedometer.  

Bagaimana pengaruh langkah ini terhadap perekonomian? Bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja perbankan? Saya hanya bisa menjawab: saya tidak tahu.

Yang saya lihat hanya satu: langkah penggantian benchmark ini berarti Bank Indonesia sekarang sudah mendukung Pemerintah…  Mas Agus.. pada akhirnya.. sudah ‘Move On’.  Mas Agus sudah mengganti Presiden di hatinya dari SBY menjadi Jokowi.  Itu yang paling penting.

Bagaimana reaksi pasar?

Kemarin (15 April) sih ada sell off.. tekanan jual di saham-saham perbankan.  Hari ini (18 April).. tekanan jualnya berhenti.  Besok seperti apa.. saya tidak tahu. Yang jelas.. siang hari ini BMRI sudah running diatas resisten (R1 BMRI hari ini di 9.450)… gak tau nanti sore closingnya dimana.  Market bisa saja bereaksi positif karena memandang bahwa kedepan… suku bunga bakal semakin turun.  Agak aneh sih sebenarnya.. biasanya kalau ‘suku bunga mau turun’ begini… ujungnya adalah ‘NIM semakin parah’.  Tapi setidaknya… untuk hari ini market tidak bereaksi seperti itu.

So… bagian terpentingnya adalah: Indonesia sudah bersatu.  Mas Agus sudah kembali ke pangkuan Republik setelah beberapa bulan lalu… menjalani peran sebagai ‘karyawan’ dari The Fed.

Tinggal pertanyaan berikutnya: emang kita bisa maju? Hehehe… kita lihat angka pertumbuhan ekonomi 1Q2016 dan kinrja emiten 1Q2016 nanti deh.  Semoga saja… kita berada dijalan yang benar: melangkah maju.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.