Saatnya Kembali Ke Dunia Nyata…*

0 25

Selamat pagi…

Seorang aktifis pasar modal yang memandang pasar dari sisi analisis teknikal, bisa saja hidup di alam mimpi.  Maklum saja, karena variabel yang digunakan untuk memprediksi hanya harga dan volume, maka seorang analis teknikal bisa saja tidak memperhatikan variabel selain kedua variabel tersebut.   Yang penting prediksinya benar.  Yang penting bacaannya terhadap harga saham maupun IHSG, maupun bursa global, maupun harga minyak, maupun variabel lain yang pengaruhi pergerakan harga, semua memiliki presisi yang tinggi, semuanya benar.

Akan tetapi… Saya tidak mau seperti itu.  Saya tidak mau terlalu jauh dari realita.  Toh ujung-ujungnya, saya tetap harus berinteraksi dengan orang lain.  Minimal, sebagai seorang analis pasar modal yang masih bekerja pada sebuah perusahaan sekuritas, saya harus tetap bisa menjelaskan kepada orang yang ada di sekitar saya, kepada semua orang yang memiliki kepentingan kepada saya, atas pertanyaan ‘Mengapa’.  Mengapa harga naik… mengapa harga turun… mengapa harga tidak bergerak… dan lain sebagainya.  Karena, untuk sebagian orang, mereka masih memerlukan alasan atau rasionalitas dalam membeli sebuah saham.  Saya juga perlu menjaga, agar rekomendasi saya tidak terlalu jauh berlawanan dengan ‘arus utama’ (mainstream) para analis yang lain.  Misalnya gini deh: kita kan tahu bahwa PT. Telekomunikasi Indonesia adalah sebuah perusahaan yang bagus.  Kinerja bagus, laba bersih naik, trend harga naik, dll, dsb.  Harga saham TLKM pada penutupan hari Jumat kemarin ada di level Rp 3.550 untuk setiap lembar sahamnya.  Kalau kemudian… saya memberikan rekomendasi Buy jangka pendek dengan target (arah pergerakan) harga menuju level Rp 35.000 dalam waktu 1 tahun… apakah itu masuk akal? Atau… kalau saya memberikan rekomendasi Sell untuk saham yang sama dengan target (arah pergerakan) harga sebesar Rp 350 … apakah itu masuk akal? Tentu tentu saja tidak.  Bisa dipanggil OJK kalau rekomendasi saya terlalu aneh seperti itu.  Bisa dianggap ngompor-ngomporin untuk sesuatu yang tidak benar.



Untuk menjaga supaya saya tetap ‘berjalan diatas tanah’ ini… saya memiliki mekanisme yang mungkin juga sering dilakukan oleh banyak analis yang lain: saya memperhatikan data-data hasil riset yang dihasilkan dilakukan oleh para analis fundamental, yang dirangkum oleh beberapa kantor berita utama yang meliput pasar modal secara global, seperti Bloomberg, Reuters atau Financial Times.  Data-data utama seperti ekspektasi laba bersih per saham, penjualan, deviden, maupun valuasi, bisa didapatkan (setidaknya angka rata-ratanya) secara luas di internet.  Data-data ini, sering kali disebut sebagai ‘konsensus analis’.

Data konsensus analis seperti ini, terutama berguna ketika musim publikasi laporan keuangan (earning season) seperti minggu lalu.  Kita tinggal membandingkan: berapa pencapaian laba bersih emiten (terutama untuk earning per share/EPS), jika dibandingkan dengan rata-rata estimasi dari konsensus analis.  Jika pencapaian emiten ternyata jauh diatas rata-rata estimasi konsensus, biasanya harga saham bakal cenderung bergerak naik, karena analis bakal menaikkan valuasi dari emiten tersebut.   Disisi lain, jika pencapaian emiten ternyata dibawah rata-rata estimasi analis, biasanya setelah itu harga saham akan bergerak turun.  Harap maklum saja, karena kalau emiten gagal mencapai kinerja seperti yang diharapkan, analis fundamental biasanya akan menurunkan (downgrade) atas valuasi dari emiten tersebut, dimana kadang kalau juga diikuti oleh downgrade atas rekomendasi yang dilakukan.

Nah.. sekarang begini.  Kebetulan… bulan November 2015 lalu, saya memantau rata-rata valuasi dari 25 emiten, yang saya dapat dari data konsensus tersebut.  Biasa… untuk keperluan membuat Market Outlook tahunan.  Dan, di hari Sabtu kemarin, kebetulan juga saya melakukan hal yang sama untuk ke 25 emiten tersebut.  Hasilnya bisa dilihat pada dari tabel dibawah ini:

160502 Kinerja Emiten



Dari tabel diatas bisa kita lihat, bahwa selama periode November 2015 hingga April 2016, para analis cenderung meningkatkan valuasi dari perseroan.  Secara rata-rata, analis telah menaikkan valuasi mereka untuk 25 saham tersebut sebesar 3,3 persen.  Para analis terlihat bullish pada saham-saham yang terkait dengan ‘konsumsi masyarakat’.  Konsumsi masyarakat ini tidak hanya sekedar sektor konsumer (seperti UNVR, HMSP, GGRM, INDF, ICBP) tapi juga saham dari sektor lain yang terkait dengan uang yang tersedia untuk dikonsumsi, seperti telekomunikasi (TLKM), BBM non Subsidi (AKRA), dan pakan ternak (CPIN) yang merupakan produk turunan dari barang konsumsi.  Dilihat dari polanya, data pertumbuhan ekonomi kuartal keempat 2016 yang sebesar 5,04 persen itu memang memberikan kejutan atau surprise pada para analis ini.  Mereka kemudian menaikkan valuasi untuk ‘barang-barang yang akan dikonsumsi oleh masyarakat ketika kondisi perekonomian mulai membaik’.  Secara IHSG, yang dihitung dengan menggunakan rata-rata tertimbang, kenarikan tersebut terasa lebih tinggi.  Jika pada November 2015 konsensus IHSG yang dihitung dengan menggunakan data diatas memiliki perkiraan IHSG di level 4.931, maka untuk bulan April 2016, perkiraan IHSGnya sudah berada di level 5.215.  Secara IHSG, para analis terlihat ‘lebih bullish’ sebesar 5,75 persen.

Realitanya, ternyata tidak seindah perkiraan para analis tersebut.  Ketika pengumuman kinerja emiten kuartal pertama 2016 minggu lalu, kita bisa melihat bahwa dalam kenyataannya, kinerja emiten (dalam hal ini laba bersih per saham/EPS) malah banyak yang jauh dibawah ekspektasi konsensus.  Sektor properti terutama.  Sektor yang digadang-gadang sebagai ‘sektor yang mendapat sentimen positif dari repatriasi aset ketika diberlakukannya tax amnesti’ ini, ternyata kinerja 1Q2016 malah terlihat buruk.   Masih buruknya sektor properti ini juga dikonfirmasi dengan kinerja buruk saham sektor semen yang ‘pelanggan utamanya’ adalah sektor properti.  Secara rata-rata, dari 25 saham tersebut, kinerja EPS 1Q2016nya adalah sebesar 12,10 persen dibawah konsensus.  Sebuah angka yang tergolong sangat besar.

Pertanyaannya sekarang adalah: akankah kinerja emiten 1Q2016 yang buruk ini bakal membuat para analis melakukan downgrade atas target IHSG yang mereka miliki? Dengan kinerja yang mengecewakan, analis biasanya akan menurunkan valuasi dari emiten yang dilakukannya.  Dan, kalau penurunan valuasi ini dilakukan secara bersama-sama pada banyak saham, bisa jadi prediksi target IHSG dari perusahaan-perusahaan sekuritas bakal turut mengalami penurunan.  Sebuah hal yang tidak terhindarkan.  Pertanyaan lain yang juga kemudian muncul adalah: dengan kinerja emiten yang sedemikian buruk, benarkah pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 1Q2016 tetap bisa diatas 5 persen seperti apa kata Pak Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia? Wah.. kalau ini.. saya juga tidak tahu jawabannya.  Akan tetapi, buruknya kinerja emiten ini, memang membuat saya menanti pengumuman angka GDP 1Q2016 pada tanggal 5 Mei 2016 nanti, dengan hati yang berdebar-debar.  Jangan-jangan… nanti jelek?  Atau.. kalau jelek.. bagaimana ya?

Fraksi Harga Baru, Semangat Baru…

Pada hari ini, Bursa Efek Indonesia kembali menerapkan fraksi harga baru.  Pada hari ini, Bursa Efek Indonesia akhirnya kembali ke realita bahwa mereka tetap membutuhkan transaksi dari pemodal retail lokal dengan menerapkan fraksi harga baru yang terdiri dari 5 fraksi: 1, 2, 5, 10, dan 25.  Dalam bahasan beberapa minggu yang lalu, saya juga sudah pernah menyampaikan bahwa meski fraksi harga ini belum sebaik fraksi harga 2007, akan tetapi fraksi harga ini bakal memberikan kesempatan bagi para pemodal retail lokal untuk melakukan spekulasi pada saham-saham dengan rentang harga yang lebih lebar.  Dengan asumsi bahwa seorang pemodal dikenakan biaya transaksi sebesar 0,15 persen untuk posisi beli dan 0,25 persen untuk posisi jual, fraksi harga 2016 ini bisa memberikan return positif bagi para scalpers trader, trader yang hanya mengambil untung dari 1 poin pergerakan harga, pada kisaran harga Rp 50 – Rp 1.250, kisaran Rp 2.000 – Rp 2.500, dan kisaran Rp 5.000 – Rp 6.250.  Fraksi harga ini, bakal membuat pemodal retail lokal memiliki lebih banyak kesempatan untuk memperoleh keuntungan.  Harapan kita semua, pemodal retail lokal yang dulu sempat terusir ketika diberlakukannya fraksi harga 2014, bisa kembali.  Gak usah semuanya deh.  Minimal setengahnya.  Mereka diharapkan bisa kembali menggairahkan transaksi di Bursa Efek Indonesia.

Eh… tapi jangan senang dulu.  Saya melihat ada hal yang menarik disini.  Semenjak awal tahun, ketika BEI mulai melakukan sosialiasi tentang Fraksi Harga 2016, saham-saham BUMN yang harganya dibawah Rp 1.250 sudah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.  Kenaikan harga yang terjadi dalam dua bulan terakhir, bahkan sudah terlihat ‘mulai meninggalkan kondisi fundamental yang sesungguhnya’.  Lihat saja pergerakan harga dari saham ANTM, ELSA, GIAA, KAEF, INAF, TINS, yang sudah menjulang tinggi.  Lihat saja kondisi keuangannya untuk 1Q2016.  Saya tidak mau terlalu bersemangat.  Saya tidak mau berprasangka buruk.  Toh sebenarnya, ada issue yang menemani pergerakan harga itu, yaitu isu konsolidasi BUMN.  Akan tetapi, para scalper trader lokal ini bukanlah orang-orang yang sophisticated.  Mereka ini bukan orang yang ahli dalam hal analisis fundamental, bukan orang yang ahli dalam hal analisis teknikal.  Semoga mereka tidak terlalu bersemangat untuk bertransaksi dan tetap rasional dalam mengambil keputusan.

Sell in May and Go Away ???

Sejak beberapa tahun terakhir, pemodal terlihat terpada dengan fenomena Sell In May And Go Away.  Dengan seminggu kemarin asing net sell melewati angka Rp 1 trilyun di pasar reguler, dengan kondisi kinerja emiten yang sedemikian buruk, dengan konsolidasi market yang membuat pergerakan IHSG cenderung mendatar semenjak bulan September tahun lalu, saya memang sedikit cemas.  Akan tetapi, saya hanya teringat akan satu hal: titik terendah (bottom) dari pergerakan harga itu bukan ketika kondisi buruk berubah menjadi kondisi baik.  Bottom dari pergerakan harga itu muncul ketika orang bilang ‘things cannot be any worse’ (keadaan sudah tidak bisa lebih buruk lagi dari kondisi saat ini).   IHSG untuk trend jangka menengah dan trend jangka pendek, memang masih berada dalam trend mendatar atau bahkan cenderung turun.  Saya masih menunggu munculnya saat orang bilang ‘things cannot be any worse’ tersebut untuk memulai rally pada pada harga saham-saham maupun pada IHSG.

Semoga Pernyataan Presiden Jokowi tentang ‘data yang salah bikin bingung pembuat kebijakan’ yang dilontarkan beberapa waktu yang lalu itu, bukan merupakan ‘signal’ dari sesuatu yang aneh.

Hati saya berdebar… menanti diumumkannya data GDP 1Q2015 di hari Kamis nanti.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.