Saham Syariah Al Mumtaz : Panduan Investasi Saham Syariah Untuk Pemodal Pemula …*

207

Selamat pagi…

Anda mungkin mengenal saya sebagai seorang analis, seorang analis dari sebuah perusahaan sekuritas yang sering muncul di TV atau membuat tulisan di berbagai media masa.  Anda mungkin mengenal saya sebagai seorang motivator pasar modal yang sering memberikan training tentang analisis teknikal.  Anda mungkin mengenal saya sebagai seorang bloggers melalui tulisan-tulisan yang ada pada weblog ini.

Akan tetapi, satu yang sebenarnya harus juga anda ingat adalah : saya juga seorang pedagang.  Pedagang dalam artian Pedagang Perantara Transaksi Saham (atau sering disebut sebagai broker saham).  Jika anda ingin bertransaksi di Bursa Efek Indonesia, anda juga bisa menjadi klien saya, tentu saja jika anda bersedia untuk memenuhi beberapa persyaratan yang ada.

Intinya: selain sebagai analis, penulis, dan trader, saya juga seorang broker.  Nah… karena saya juga seorang broker… maka saya terikat dengan kewajiban saya sebagai seorang pedagang, seorang pedagang yang kebetulan juga beragama Islam.

Dalam Islam, menjadi pedagang, itu adalah sebuah kemuliaan.

Pedagang adalah profesi yang terhormat karena Rasulullah SAW adalah seorang pedagang.  Sahabat-sahabat Rasulullah juga banyak yang berprofesi sebagai pedagang.  Penyebaran Agama Islam di Indonesia, sebagaian besar juga melalui jalur perdagangan.

Dari Rafi’ bin Khadij ia berkata, ada yang bertanya kepada Nabi: ‘Wahai Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?’. Rasulullah menjawab: “Pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan tangannya dan juga setiap perdagangan yang mabrur (baik)” (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubra 5/263, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 607)

Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad, Al Bazzar, Ath Thobroni dan selainnya, dari Ibnu ‘Umar, Rofi’ bin Khudaij, Abu Burdah bin Niyar dan selainnya).

Saya bukan orang yang cukup ilmu untuk menjelaskan apakah profesi sebagai broker saham itu sama dengan profesi pedagang pada jaman dahulu kala.  Akan tetapi, sebagai pedagang, saya merasa terikat dengan aturan perdagangan sebagai berikut:

Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak berlebihan (dalam menaikkan harga), apabila berhutang tidak menunda-nunda pelunasan dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, Bab Hifzhu Al-Lisan IV/221).

Seorang pedagang harus bertransaksi sesuai dengan etika. Etika perdagangan dalam Islam setidaknya menyebutkan adanya 6 perilaku yang harus dilakukan oleh seorang pedagang Muslim:

  1. Jujur (shidig)
  2. Amanah (bertanggung jawab)
  3. Tidak menipu
  4. Menepati janji
  5. Murah hati
  6. Tidak melupakan akhirat

Mengapa seorang pedagang Muslim harus bertransaksi sesuai dengan etika?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS An Nisa’: 29)

“Sesungguhnya para pedagang itu adalah kaum yang fajir (suka berbuat maksiat), para sahabat heran dan bertanya, “Bukankah Allah telah menghalalkan praktek jual beli, wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Benar, namun para pedagang itu tatkala menjajakan barang dagangannya, mereka bercerita tentang dagangannya kemudian berdusta, mereka bersumpah palsu dan melakukan perbuatan-perbuatan keji.” (Musnad Imam Ahmad 31/110, dinukil dari Maktabah Asy Syamilah; Hakim berkata: “Sanadnya shahih”, dan beliau disepakati Adz Dzahabi, Al Albani berkata, “Sanad hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua”, lihat Silsilah Ash Shahihah 1/365; dinukil dari Maktabah Asy Syamilah)

“Sesungguhnya para pedagang (pengusaha) akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi, Kitab Al-Buyu’ Bab Ma Ja-a Fi At-Tujjar no.1131)

“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada” (HR. Tirmidzi no.1209, ia berkata: “Hadits hasan, aku tidak mengetahui selain lafadz ini”)

Jadi… ceritanya: menjadi pedagang itu harus jujur dan berbuat baik, berdagang sesuai dengan etika, agar nanti dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada.

Berdagang saham di Bursa Efek Indonesia

Sebagai seorang pedagang, saya akan jujur terhadap barang dagangan yang saya tawarkan, yaitu saham-saham yang ada di Bursa Efek Indonesia.  Saya akan jujur terhadap kondisi perdagangan di Bursa Efek Indonesia.

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia memang sudah dinilai sesuai syariah oleh Majelis Ulama Indonesia sesuai Fatwa DSN MUI no. 80 tahun 2011.  Seorang pemodal bisa melakukan transaksi perdagangan secara syariah, selama saham yang diperbelijualkan adalah saham-saham syariah, saham-saham yang ada dalam Daftar Efek Syariah yang secara berkala di terbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, yang kemudian juga menjadi anggota dari Index Saham Syariah Indonesia yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia.

Sebenarnya, semua sudah terlihat baik, semua sudah terlihat tidak ada masalah.  Akan tetapi, sebagai seorang pedagang, saya harus jujur kepada anda.

  • Tidak semua saham di Bursa Efek Indonesia memiliki perdagangan yang likuid.  Pada saham-saham yang tidak likuid, terkadang (atau malah sering kali) terindikasi dilakukannya market making atau penggorengan saham.
  • OJK dan Bursa Efek Indonesia tidak memiliki aturan yang tegas dan jelas mengenai Market Making.
  • Pasar adalah Pasar.  Di dalam pasar modal, pelakunya bukanlah semua heterogen beragama Islam dan menjunjung tinggi etika perdagangan secara syariah.  Di dalam pasar, pelakukanya adalah heterogen.  Pasar adalah Pasar, yang berlaku hukum kapitalisme : siapa kuat, dia yang akan menjadi pemenang.  Jangan bermimpi bahwa semua orang akan ‘memberikan kemudahan’ kepada kita hanya karena kita melakukan transaksi saham berdasarkan syariah.

 

Kerugian itu adalah resiko dari setiap perdagangan.  Akan tetapi, menurut saya, alangkah tidakbaiknya kita apabila kemudian kita mengalami kerugian hanya karena masalah kurangnya ilmu.

 

Bertransaksi atau melakukan perdagangan hanya fokus pada saham syariah saja tidaklah cukup.  Kita harus bertransaksi pada saham-saham syariah yang memiliki fundamental yang jelas, agar terhindar dari sepak terjang orang-orang jahat yang ada di pasar modal, untuk mengurangi resiko yang tidak perlu dari kepentingan pihak-pihak yang ingin mengambil uang anda secara batil, dengan menggunakan niat-niat jahat yang diperbolehkan oleh pasar modal Indonesia.

Tidak semua saham di Bursa Efek Indonesia digerakkan oleh pelaku pasar murni.  Anda mungkin harus membaca tulisan saya mengenai Berbagai Modal Pergerakan Harga Saham untuk memahami hal ini.

Karena tidak semua saham di Bursa Efek Indonesia digerakkan oleh pelaku pasar murni, maka sebaiknya kita hanya bertransaksi pada saham-saham yang digerakkan oleh pasar.  Memang tidak ada ukuran yang pasti mengenai saham mana yang digerakkan market maker (baca: bandar), saham mana yang digerakkan oleh pasar.  Akan tetapi, dari pengalaman saya lebih dari 15 tahun dalam mengamati, menganalisis, dan melakuan transaksi di Bursa Efek Indonesia, saya melihat bahwa:

Saham yang diamati (dianalisis) setidaknya oleh 5 orang analis fundamental, memiliki kemungkinan yang lebih kecil (kesulitan yang lebih tinggi) untuk bisa ‘dikendalikan’ oleh para Market Maker.

Tentu saja… ini bukan garansi bahwa saham-saham tersebut terbebas dari market maker.  Tidak ada jaminan bahwa saham-saham tersebut bebas dari ‘gorengan bandar’.  Tidak ada jaminan bahwa harga dari saham-saham tersebut akan terus bergerak naik dari waktu ke waktu (nggak ada harga saham yang selalu naik lah… harga saham kan selalu berfluktuasi, bergerak naik-turun sesuai berjalannya waktu).  Akan tetapi, harga daripada saham-saham tersebut biasanya lebih bergerak bebas, lebih sulit untuk digoreng, serta lebih mudah untuk diprediksikan dengan menggunakan kaidah-kaidah analisis fundamental maupun analisis teknikal.

Menggoreng saham atau melakukan market making adalah bentuk perdagangan yang diharamkan secara syariah.  Dalam market making ini, seorang atau sekelompok orang, melakukan pengaturan order beli dan/atau order jual sehingga harga bergerak seakan-akan terjadi transaksi oleh pelaku pasar.  Secara aturan pasar modal, market making (dalam konotasi melakukan ‘cornering’) memang dilarang.  Akan tetapi, peraturan juga memperbolehkan penjamin emisi untuk melakukan market making ketika proses IPO.  Permasalahannya, setelah jauh dari IPO, beberapa saham tetap ‘dicurigai’ mengalami market making dimana harga saham digerakkan oleh satu atau beberapa pihak yang membuat harga saham tersebut bergerak naik ataupun turun.  Dalam perdagangan saham secara syariah, kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh Market Maker ini bisa digolongkan ke dalam transaksi yang berbau taghrir (termasuk wash sale dan pre-arrange trade), ikhtikar (dalam artian melakukan cornering serta pooling of interest), serta Ghisysy (dalam artian melakukan alternate trade).  Anda bisa melihat detail aturannya dalam Fatwa DSN No. 80.  Dalam prakteknya, kami melihat bahwa selain tagrir, Bandar atau pelaku dari Market Making ini sering juga melakukan  Tadlis (dalam menyebar misleading information), Najsy (dalam artian melakukan Pump and Dump, Hype and Dump, dan Creating Fake Demand/Supply), Ghabn Fahisy (insider trading).

Saham Syariah Al Mumtadz

Kami menyebut saham pilihan kami ini sebagai Saham Syariah Al Mumtadz (saham syariah yang istimewa).  Saham Syariah Al Mumtadz ini adalah saham syariah yang disaring dari Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan menggunakan kriteria berupa ‘Jumlah Analis Fundamental yang menganalisis saham tersebut’.

Dari Daftar Efek Syariah OJK, kami kemudian membagi menjadi 3 bagian:

  • Daftar Efek Syariah Al Mumtadz Hijau, berisi saham syariah yang dianalisis oleh 5 orang analis atau lebih.
  • Daftar Efek Syariah Al Mumtadz Kuning, berisi saham syariah yang dianalisis oleh 2 – 4 orang analis.
  • Daftar Efek Syariah Al Mumtadz Merah, berisi saham syariah yang dianalisis oleh kurang dari 2 orang analis fundamental.

Jumlah analis fundamental yang menganalisis saham ini, kami ambil dari sumber Financial Times (www.ft.com) dimana website tersebut menyatakan bahwa mereka mengambil sumber dari kantor berita Reuters (www.reuters.com).

Berikut adalah Daftar Efek Syariah Al Mumtadz Hijau berdasarkan Daftar Efek Syariah.

Dengan dianalisis oleh lebih dari 5 orang analis, harga saham diharapkan bisa merespon pergerakan fundamental perseroan, merespon segala macam informasi dengan baik.  Sehingga volume perdagangan diharapkan bisa tetap ada setiap waktu, pergerakan harga lebih mudah untuk dianalisis atau dilakukan prediksinya.

160705 Daftar Efek Syariah Al Mumtadz Hijau

Saham yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah Al Mumtadz Kuning bisa dilihat pada tabel berikut ini.  Pada tabel tersebut berisikan saham-saham yang dianalisis oleh 2 – 4 orang analis.  Seperti kita ketahui bersama, akad-akad syariah sering kali menggunakan 2 orang laki-laki (atau 1 orang laki-laki plus 2 perempuan) sebagai saksi yang sah.  Dalam Saham Syariah Al Mumtadz Kuning ini, kami menggunakan batas minimal 2 orang analis (tidak bisa diketahui laki-laki atau perempuan karena tidak disebutkan dalam sumber data).  Saham ini, sebenarnya bisa anda masukkan ke dalam daftar investasi anda, jika anda sudah merasa memiliki ilmu yang cukup.  Jika anda masih merasa bahwa ilmu anda masih kurang atau belum mencukupi, sebaiknya anda tetap bertahan pada saham-saham yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah Al Mumtadz Hijau.

160705 Daftar Efek Syariah Al Mumtadz Kuning

Untuk saham yang dianalisis kurang dari 2 orang analis fundamental, daftarnya bisa dilihat pada tabel dibawah ini.  Pada sebagian saham, memang terdapat 1 orang analis yang mengamati.  Akan tetapi, karena jumlah tersebut terlalu kecil, kami merasa bahwa harga saham tersebut masih terlalu mudah untuk dilakukan market making. Investasi pada saham-saham ini, sebaiknya hanya dilakukan oleh mereka yang benar-benar ahli, terutama bagi mereka yang benar-benar sudah paham mengenai ‘cara berinvestasi berdasarkan analisis fundamental’.  Jika tidak, besar kemungkinan pemodal hanya tenggelam dalam permainan para market maker atau bandar.

160705 Daftar Efek Syariah Al Mumtadz Merah

Penutup

So… saham syariah apa yang anda transaksikan?  Saya pikir… itu semua tergantung dari diri kira masing-masing.  Toh apa isi portfolio kita, apa yang kita perbelijualkan, niat apa yang mendasari kita untuk melakukan transaksi, sering kali hanya diri kita dan Alloh SWT yang mengetahuinya.  Seperti saya misalnya…. saya sih sebenarnya saat ini masih dalam proses untuk melakukan transaksi dengan fokus hanya pada saham-saham syariah saja.  Ceritanya… Ramadhan kali ini, saya memang masih belajar untuk tidak melakukan transaksi pada saham-saham perbankan, setelah sejak lama saya benar-benar melakukan komitmen untuk tidak memperbelijualkan saham-saham emiten rokok.  Akan tetapi… bagai mana setelah itu… kita lihat saja seperti apa.

Saya sebenarnya masih menyesalkan sikap dari sebagian teman-teman saya, yang sudah secara resmi mengibarakan bendera bahwa dia  melakukan investasi saham secara syariah, tapi ternyata rekomendasinya masih terkontaminasi oleh saham-saham bandar.  Mungkin niatnya baik, tapi kok serasa seperti menyebarkan kesesatan.  Atau minimal : tidak berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan keburukan.

Tapi eh… siapa yang benar: saya, mereka, atau anda… kita juga tidak pernah tahu.  Hanya Alloh SWT yang Maha Benar.

Saya hanya menjalankan kewajiban saya untuk melakukan amar makruf nahi munkar.

Ingat:

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar.” (H.R. Muslim)

Dan… Umar bin Khattab r.a. pernah berkata:

Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.

Hal senada juga pernah disebutkan oleh Ali bin Abi Thallib r.a. :

Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.

Bekalilah diri kita dengan ilmu yang mencukupi, sebelum masuk ke belantara Pasar Modal Indonesia.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Bahan bacaan:

www.pengusahamuslim.com

www.rumaysho.com

www.muslim.or.id

www.OJK.go.id

www.idx.co.id

www.almanhaj.or.id

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.