Dirgahayu Republik Ngeles Indonesia…

0 10

Selamat pagi…

Bagi anda yang sudah lama berkecimpung di dunia persahaman, mengikuti perkembangan pasar modal Indonesia, mungkin pernah terlintas di kepala anda: Ini … yang namanya Satrio Utomo .. hampir setiap hari muncul namanya di berbagai media.  Dari dulu sampai sekarang… kok pekerjaannya analiiiisss melulu.  Cuman komentator.  Kok gak maju-maju… gak berubah-berubah.  Apa nggak bosen? Saya mungkin hanya bisa menjawab : Loh Pak… jadi analiiiis saja… untuk bertahan menjadi sekedar ‘analis’ yang selalu dingarkan oleh Media, sebenarnya juga tidak mudah.  Banyak memang… analis yang kemudian maju menaiki tangga karir, menjadi Direksi di perusahaan mereka-masing.  Banyak juga analis yang kemudian menjadi fund manager, menjadi direksi Dana Pensiun, atau lembaga investasi lainnya.  Akan tetapi, banyak juga analis yang kemudian kena berbagai kasus di pasar modal.  Banyak analis yang kemudian kehilanggan daya analisisnya, sehingga kemudian dilupakan oleh media.  Ada juga analis yang kemudian membantu penggoreng saham kemudian menghilang.  Bagi saya, untuk sekedar bertahan, dipercaya oleh rekan-rekan media dan para pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia sebagai seorang ‘analis’, adalah sebuah prestasi yang perlu saya syukuri.

Menjadi orang yang mampu bertahan sebagai seorang ‘analis’, sebenarnya bukan sebuah perkara yang mudah.  Selain memiliki kemampuan untuk memprediksi pergerakan harga, memprediksi pergerakan IHSG, dan juga menulis,seorang analis harus juga memiliki keahlian untuk ‘ngeles’.  Ngeles ini tentu saja bukan memberikan les pelajaran matematika atau IPA, bukan bimbingan belajar.  Ngeles ini juga bukan menghindar dari desingan peluru karena saat ini bukan masa-masa peperangan.  Akan tetapi, ngeles ini adalah memberikan suatu jawaban atau jalan keluar apabila kita berada didalam kondisi terjepit.  Contohnya bisa dilihat pada kejadian hipotesis berikut ini:

Wartawati (W) : Pak Tommy… ada berita mengenai PT. ABDC.  Mohon komentarnya…

Tommy (T) : Wah… saya nggak tau Mbak… saya nggak mengikuti cerita perusahaan itu.

W: Tolonglah Pak… Kami butuh komentar dari analis untuk hal ini.

T: Begini Mbak (sambil mengintip chart pergerakan harga dari PT ABCD yang ternyata sedang berada dalam trend naik dengan potensi kenaikan lebih dari 10%) …   Perusahaan ABCD ini berada pada Industri XYZ.  Industri XYZ ini kan industri yang terus berkembang mengikuti perkembangan ekonomi Indonesia. Itu sebabnya, kedepan, prospek dari PT ABCD ini bagus karena kedepan perekonomian Indonesia akan terus berkembang.

W: Oke Pak… terima kasih.

T: Sama-sama Mbak… (sambil menutup telpon).

Dalam cerita diatas, Si Mbak Wartawati tersebut sedang dikejar deadline tulisan.  Sedang berada dalam kondisi terjepit, karena kalau tidak mendapat komentar dari seorang analis, tulisan yang dibuatnya terancam gagal dimuat.  Si Analis (dalam hal ini saya), sebenarnya juga tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan karena tidak memiliki informasi yang dibutuhkan.  Akan tetapi, karena saya melihat bahwa secara teknikal harga saham memiliki potensi kenaikan yang signifikan, maka saya memberikan informasi lain, yang positif, yang intonasinya searah dengan potensi kenaikan teknikal yang ditunjukkan oleh saham itu, meski informasi itu sebenarnya mengenai hal lain yang mungkin sebenarnya juga ada hubungannya.  Gimana tidak? Ditanya tentang ‘perusahaan’, kok jawabannya tentang ‘industri’.  Itu kan belum tentu nyambung.  Akan tetapi, setidaknya: wartawati itu bisa menyelamatkan artikelnya untuk bisa dimuat di surat kabar keesokan harinya, pemodal juga diselamatkan karena kemudian memiliki alasan untuk membeli saham itu (setelah membaca berita tentu saja..hehehe), dan saya juga memperoleh manfaat karena setidaknya nama saya sudah dimuat di Koran hari itu, untuk menjaga supaya nama saya tetap dihati anda.

Pertanyaannya sekarang: apakah langkah ngeles seperi itu sebenarnya bisa dibenarkan?

Ngeles itu Budaya Indonesia

Ngeles itu adalah sebuah budaya yang sudah lama melekat pada Bangsa Indonesia.  Sebagai orang Jawa, saya juga sudah dididik untuk ‘menghindar untuk menjawab pertanyaan dengan memberikan jawaban atas pertanyaan yang lain’, agar bisa menyenangkan hati orang banyak.  Bung Karno saja mampu ngeles dari kesalahannya sebagai pengirim Romusha dan akhirnya menjadi orang nomor satu di Republik Indonesia.   Meski akhirnya, beliau sendiri juga tidak tahan.  Dari berbagai sumber, saya sempat membaca pengakuan dari seorang Soekarno kepada Cindy Adams dalam biografi yang berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat:

“Sesungguhnya akulah –Sukarno – yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer)  dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”

Ngeles itu memang tidak enak.  Soekarno juga merasakannya.  Sehingga dia sadar, harus mengakuinya, untuk mengakhirinya.

Contoh-contoh ngeles lainnya? Jelas masih banyak lah.   Dulu kita pernah melihat, ada pemimpin yang bilang bahwa dirinya tidak korupsi, tapi anak-anaknya kemudian menguasai ini dan itu.  Dulu ada pemimpin yang mendukung gerakan anti KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), tapi sementara mendirikan partai yang orang-orang kuncinya memiliki hubungan keluarga dengan dirinya.  Apakah ngeles itu akan berhenti? Sepertinya tidak.  Nikmat sepertinya bagi mereka.

Ngeles di Industri Kesehatan Republik Indonesia

Rokok itu berbahaya bagi kesehatan manusia.  Rokok itu membunuh manusia melalui berbagai penyakit yang ditimbulkannya.  Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.  Akan tetapi, pendapatan Pemerintah dari cukai rokok, semakin hari malah semakin meningkat.  Jumlah perokok juga semakin hari semakin meningkat, penghasilan dari perusahaan rokok, semakin hari juga semakin besar. Orang-orang terkaya di Indonesia, sebagian besar juga karena rokok, karena industri rokok, karena berjualan rokok. Jadi… terkait dalam masalah rokok ini, Pemerintah telihat seperti jago ngeles yang canggih.  Di satu sisi, Pemerintah membuat aturan yang ketat tentang rokok, termasuk periklanannya, distrbusinya, dan lain-lain.  Akan tetapi, Pemerintah juga mendapatkan pendapatan yang besar dari situ.  Lantas apa solusinya?

Itu sebabnya kemudian memunculkan wacana, bahwa Pemerintah akan menetapkan harga rokok sebesar Rp 50.000 untuk setiap bungkusnya (Rokok 50.000).  Bagus ini sebenarnya.  Bagi seorang yang berasal dari sebuah keluarga pengidap penyakit asma (kakek saya meninggal karena penyakit asma, ayah saya juga meninggal karena penyakit asma) yang juga mantan perokok (saya mulai merokok pada sekitar kelas 5 SD, dan berhenti pada tahun 2002, tidak lama setelah anak pertama lahir), jika kemudian kebijakan ini ditetapkan, maka saya melihat potensi bahwa jumlah perokok bakal jauh berkurang.  Masyarakat, terutama masyarakat level bawah, akan belajar untuk melakukan pembelanjaan selain untuk beli rokok.  Harap maklum, dulu ketika saya berhenti merokok, saya baru sadar bahwa sekitar 5% dari pendapatan saya, telah saya habiskan untuk membeli rokok.  Saya ‘menemukan’ uang dalam jumlah yang tidak sedikit ketika saya berhenti merokok.  Akan tetapi, langkah Rokok 50.000 akan mendapatkan tentangan dari berbagai pihak.  Pihak proletarian atau pro rakyat, akan meneriakkan nasib dari petani, buruh rokok, saluran distribusi dan pedagang rokok.  Mereka yang ‘Pro Rakyat’ akan menentang secara keras program Rokok 50.000 ini.  Eh.. tapi ini rakyat yang mana ya? Rakyat yang menjadi anggota dari 10 orang terkaya Indonesia itu? Rakyat petani rokok? Atau rakyat korban asap rokok? Berapa sih sebenarnya perbandingan antara jumlah korban perokok dengan jumlah mereka yang ada dalam industri rokok ini?

Pertanyaannya adalah : emang kalau Rokok 50.000 orang akan berhenti merokok total? Hehehe… paling juga enggak.  Rokok 50.000 tidak akan menghentikan orang untuk merokok, hanya akan mengurangi jumlah perokok secara signifikan.  Industri rokok mungkin akan berkurang, tapi saya bilang terlalu naïf apabila orang kemudian bilang bahwa Rokok 50.000 akan mematikan industri rokok.

Pertanyaan yang kedua adalah: emang kondisi ekonomi sekarang sedemikian bagus sehingga Pemerintah bisa mengeluarkan aturan sedrastis itu? Siapa yang akan menerima ledakan pengangguran yang timbul jika Industri Rokok kemudian susut terlalu cepat? Jaring Pengaman Sosial? Kartu Indonesia Sehat? Kartu Indonesia Pintar? Pemerintah sepertinya tidak akan membuat langkah yang demikian drastis.

Tax Amnesti : Akhir dari Republik Ngeles Indonesia ?

Saat ini.. orang boleh bilang: SAYA TIDAK KAYA, tapi tanah saya dimana-mana.  Orang bisa bilang : SAYA TIDAK KAYA, tapi ternyata menguasai berbagai aset yang diatasnamakan orang lain.  SAYA TIDAK KAYA, tapi ternyata ada nominee… nominee… dan nominee.  Ini sebenarnya juga salah satu bentuk ngeles yang ada di Republik Ngeles Indonesia.  Bentuk ngeles seperti ini, yang kemudian ingin diatasi Pemerintah dengan Tax Amnesti.  Melalui Tax Amnesti ini Pemerintah mencoba untuk berkata: akuilah kekayaanmu, akuilah bahwa dirimu kaya dengan membayar sejumlah uang.  Kami (Pemerintah) tidak akan menanyakan asal-usul dari kekayaanmu, selama kamu mau mengaku bahwa dirimu kaya.

Akankah berhasil? Akankah mereka yang selama ini merupakan Jago Ngeles mau mengakhiri kedigdayaannya?  Berhasil atau tidak berhasil, setidaknya itu akan menambah jumlah dari uang yang berputar dalam system perekonomian Indonesia.  Berhasil atau tidak berhasil, nanti baru kita ketahui saat program ini berakhir, di bulan Maret 2017.

Saya sih sudah bosan dengan Republik Ngeles Indonesia.

Dirgahayu Republik (Ngeles) Indonesia yang ke 71.  Mimpi saya kedepan, untuk Indonesia yang lebih bersih, lebih jujur, dan lebih bermartabat.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.