Memanfaatkan Harga Rp 50 dalam strategi berdagang saham…*

0 718

Selamat pagi…

Hingga saat ini… hingga tulisan ini dibuat… angka Rp 50 masih menjadi angka keramat pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia.  Angka ini menjadi angka keramas … eh… maksud saya keramat… karena angka Rp 50 ini adalah merupakan batas bawah pergerakan harga saham pada perdagangan di pasar reguler, di lantai Bursa Efek Indonesia.  Disebut sebagai batas bawah, karena untuk perdagangan di pasar reguler (saya kasih bold, tanda kutip, garis bawah, dan cetak miring deh… biar anda tahu bahwa saya terangat sangat paling mementingkan kata ‘untuk perdagangan di pasar reguler’ ini) …. harga tidak bisa bergerak dibawah Rp 50 ini.

Pertanyaannya: emang tidak bisa melakukan perdagangan di bawah harga Rp 50?



(untuk seterusnya, saham harga Rp 50 akan saya sebut sebagai ‘saham gocap’ untuk memudahkan penulisan)

Tentu saja bisa.  Perdagangan di bawah harga Rp 50… perdagangan saham dibawah harga gocap … bisa saja dilakukan … selama itu dilakukan pada Pasar Negosiasi.  (Waduh.. kalau anda bertanya pasar reguler atau pasar negosiasi itu apa… sementara anda tanya Mbah Google dulu deh.. saya bahasnya lain kali saja).

Di pasar negosiasi ini, perdagangan bisa dilakukan di harga berapa saja.  Mau Rp 1 miliar per lembar juga boleh.  Mau Rp 1 juga boleh.  Cuman… kalau di luar batas kewajaran … siap-siap saja dipanggil oleh Bursa Efek Indonesia (IDX) atau OJK karena dianggap ‘mengganggu jalannya perdagangan yang wajar dan efisien’.

Nah sekarang, terkait dengan Saham Gocap ini… saya mau bercerita mengenai strategi investasi yang belakangan marak dilakukan oleh sebagian ‘investor‘ Gocap.  Kata investor ini saya cetak tebal, garis bawah, tanda kutip, dst .. karena mereka sebenarnya adalah orang yang tidak tahu beda antara trading dengan investasi.  Nanti deh saya jelaskan dimana kesalahan berpikir yang mereka lakukan.  Tapi sekarang… kita fokus dulu dengan Strategi Investor Gocap terlebih dahulu.



Strategi Investor Gocap

Strategi transaksi dari Investor Gocap ini adalah sebagai berikut:

  1. Buka rekening saham dengan duit sedikit saja.  Kalau perlu, coba-coba pake duit Rp 100.000.
  2. Cari saham harga gocap
  3. Lihat bid offer di pasar nego
  4. Beli di pasar nego.
  5. Pasang jual tiap hari di harga 50.
  6. Kalau laku di harga gocap, ulang strategi ini secara terus menerus, sampai anda kaya raya.

Contoh dari transaksi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Ini adalah posisi order book (bid offer) di pasar negosiasi dari sebuah saham.

160904 Bid Offer Pasar Nego

Dari bid offer tersebut, kita bisa melihat bahwa seorang Investor Gocap, bisa beli saham tersebut di harga Rp 8.

Lantas… setelah posisi beli dilakukan, Investor Gocap ini, melakukan order jual.  Tapi.. order jualnya bukan di pasar nego juga, tapi di pasar reguler.  Berikut posisi bid offer dari saham tersebut di pasar reguler.

160904 Bid Offer Pasar Reguler

Pasang jual sahamnya di pasar reguler.  Kalau laku di harga Rp 50, berarti Investor Gocap yang beli di harga Rp 8 tadi, memperoleh keuntungan sebesar 525%!!!

Gile!!!!! Suku bunga tabungan saja, hanya 6% per bulan.  Ini 525% bisa dalam hitungan detik!!!!!! Mana ada bullshit yang lebih menguntungkan dari ide investasi ini???  Warren Buffet saja bisa terlihat tolol kalau melawan ide Investor Gocap ini! Apalagi kalau ‘Trading for A Living versi RencanaTrading‘ yang hanya bisa dapet 3% per bulan itu…. jelas hanya mereka yang ber IQ jongkok yang mau melakukannya!!!

Strategi Trading Saham Gocap ini, memiliki keuntungan sebagai berikut:

  • Pasti Untung, karena harga gocap kan sudah mentok ke bawah.  Harga gocap adalah harga terendah di pasar reguler.  Itu yang ada di pikiran Investor Gocap.  Padahal… mereka seakan mengingkari sendiri bahwa saham yang mereka beli itu, mereka beli dibawah gocap juga.
  • Pasti Untung, portfolio akan selalu hijau.  Gimana gak hijau (potensial gain)… harga saham di portfolio kan pake harga pasar terakhir.  Kalau kita beli di pasar nego (dibawah gocap), maka harga terakhirnya akan di harga Rp 50.  Portfolio Investor Gocap… pasti hijau.  Hanya sekuritas ‘kelewat bagus’ yang tidak memberikan porto hijau pada Investor Gocap ini.

Kesimpulan : Strategi Trading Saham Gocap ini… adalah ‘strategi yang pasti untung’ dan ‘bisa bikin kaya raya’.

Jadi… kita harus trading saham gocap gitu?

Hehehe…

Mengapa Strategi Trading Saham Gocap adalah Strategi Yang Salah…

Masalahnya kan begini : cerita di atas, adalah mimpi yang ada dari setiap Investor Gocap.

Realitanya :

  • Untuk bisa laku terjual di harga gocap pada pasar reguler, sering kali membutuhkan keberuntungan yang luar biasa.  Tidak bisa terjadi setiap hari.  Tidak bisa terjadi 1 menit sekali, 1 jam sekali, 1 minggu sekali, atau 1 bulan sekali.  Investor Gocap ini terkadang harus menunggu terlalu lama, untuk harga sahamnya bisa kembali ke atas gocap. Padahal…
  • Sebuah saham, harganya sampai gocap, itu sering kali karena kondisi fundamentalnya sudah jelek.  Jadi.. kata ‘investor’ untuk melukiskan pembeli dari saham gocap ini, sebenarnya sudah salah semenjak awal!  Investor itu adalah orang yang bertransaksi dengan melihat kondisi fundamental dari perseroan.  Seorang investor tidak membeli saham yang fundamentalnya buruk.  Kata Investor Gocap, adalah sebuah kata yang salah.  Yang benar adalah Spekulator Gocap.

Kata Investor Gocap, adalah sebuah kata yang salah.  Yang benar adalah Spekulator Gocap.

Spekulator Gocap adalan Spekulator Banci

Rugi … itu adalah resiko dari setiap pemodal ketika memutuskan untuk membeli saham.  Rugi adalah keadaan yang setiap saat harus siap untuk dihadapi, setelah seseorang melakukan posisi beli.

Pertanyaannya sekarang adalah : kerugian sebesar apa yang siap untuk dihadapi oleh seorang pemodal?

Pemodal… orang yang melakukan komitmen dana di pasar modal… biasanya terbagi menjadi 3 golongan: Investor, Trader, Spekulator.

Ketika seorang Pemodal menyebut dirinya sebagai seorang Investor, maka dia akan berusaha melindungi kekayaannya dengan melakukan analisis fundamental, guna untuk memproteksi kerugiannya.  Seorang investor tentu saja tidak kepingin rugi.  Rugi 10% atau 20%, pasti sudah ‘kebanyakan’ bagi seorang investor.  Kalau fundamentalnya bagus, mana bisa harga terkoreksi lebih dari 20% dalam kondisi normal? Jika dalam kondisi normal (tidak dalam kondisi krisis loh ya…) harga saham terkoreksi lebih dari 20%, pasti ada fakta fundamental baru yang belum diketahui oleh market.  Kalau ternyata kemudian fakta fundamental itu keluar dan membuat prospek jangka panjang dari perseroan itu berubah, maka seorang investor akan melikuidasi investasinya…. melepas posisi… melakukan posisi jual.  Itu kalau dia adalah seorang investor yang benar.

Seorang Trader itu… pada dasarnya… sebenarnya… adalah tipe pemodal yang gak mau rugi.  Bagaimana mau rugi banyak?  Seorang trader biasanya memiliki kebijakan cut loss yang ketat, yang menghalangi dia dari kerugian yang luar biasa besar.  Buat sebagaian trader, rugi 5% saja sudah terlalu besar.  Bagi saya, rugi 3% saja sudah luar biasa besar.  Itu kalau dia adalah seorang trader yang benar.

Spekulator? Jelas bedalah.  Spekulator adalah orang yang membeli saham dan siap dengan kerugian 100%.  Spekulator itu adalah mereka yang siap dengan keuntungan 1000% … tapi siap juga dengan kerugian sebesar 1000% juga.  Spekulator ini adalah pasukan kamikaze…  #cacing2naga2 … no profit no glory … dan lain sebagainya.  Pokoke untung lah… kalau perlu … nabok nyilih tangan : beli saham tapi gak pake modal sendiri (pake margin), begitu rugi, pasang badan saja, siap kalau sampai rumah dan istri/suami/anak disita oleh perusahaan sekuritas.

 Pemodal jenis Spekulator dan Trader … itu terbiasa mengambil keuntungan dari setiap celah yang ada di pasar modal.  Bedanya hanya tipis : trader menggunakan prediksi … spekulator menggunakan segala cara.

Masalahnya : aturan pasar modal kita… bukannya tanpa celah.  Trader dan Spekulator … memanfaatkan celah-celah yang ada itu… untuk mencari uang… memperoleh profit.

Sekarang… celah itu bernama : aturan batas bawah harga Rp 50.  Pada aturan ini, Bursa Efek Indonesia menetapkan batas bawah perdagangan di pasar reguler, pada harga saham sebesar Rp 50.  Apakah aturan ini sejalan dengan konsep dasar Pasar Modal yang Kapitalis? Tentu saja tidak.  Kalau murni kapitalis, harusnya harga AR terbawah adalah harga 0 (nol).  Artinya: bid offer terbawah adalah harga nol (Rp 0) di kiri, dan satu (Rp 1) di kanan.  Dalam kapitalisme.. dalam pasar modal… perusahaan itu boleh bangkrut.  Di pasar modal kita, sebuah perusahaan itu boleh menjadi Zombie: harga AR kanan di harga Rp 50.  Biar sudah hancur-hancuran, perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia, masih berharga Rp 50.  Nggak bermoral kan?

Yang ada… malah pemodal menjadi spekulator.  Mereka melakukan transaksi, tanpa menggunakan dasar analisis.  Hanya sekedar bermain angka.  Beli di Rp 5 … jual di Rp 7.  Bagus kan? untung di 40%? Spekulasi murni.  Sadarkah mereka apa yang mereka lakukan?

Lucunya… spekulator yang dihasilkan sebenarnya juga spekulator banci.  Spekulator yang hanya berani bermain di pasar nego.  Spekulator yang sering kali hanya bertransaksi dalam jumlah kecil, tapi kepingin mendapatkam fasilitas seperti pemodal gajah.  Spekulator banci ini yang akan ‘diluruskan’ dengan membuat batas bawah pergerakan harga menjadi lebih rendah dari Rp 50… kalau bisa malah jadi Rp 1.  Supaya perdagangan bisa dilakukan lebih semarak…dan tidak riweh (merepotkan).

Pak Tommy… kalau memang jelek? Mengapa tidak dari dulu aturan AR bawah Rp 50 ini ditiadakan??? Saya hanya bisa menjawab : eh.. itu BEI dan OJK … adalah organisasi yang berisi sekumpulan manusia.  Manusia yang masing-masing memiliki kepentingan.  Kepentingan yang terkadang… dikendalikan oleh sponsor mereka.  Kalau sudah masuk ke pasal : yang penting kan tidak melanggar hukum? anda mau apa? Tidak semua orang punya nurani lah.  Tidak semua orang takut pada Tuhannya.

Oh iya… sebagai informasi… ARB di harga Rp 50 ini… sebenarnya adalah produk dari krismon 1998.  Ketika itu, orang merasa bahwa perlu ditetapkan harga terbawah untuk perdagangan.  Produk ketika krisis.  Saat ini… kita sudah tidak krisis lagi lah.  Batas AR atas bawah saja sudah mau disamakan lagi.  Lagian… pendidikan pasar modal sekarang sudah jauh lebih bagus.  Masa kita mau bertahan di jaman batu?

So…  Kalau Bursa Efek Indonesia mau menetapkan harga autoreject bawah di harga Rp 1 … jelas saya mendukung.  Harga ARB (auto reject bawah) di harga Rp 50 ini, tidak sesuai dengan semangat pasar modal Indonesia.  Harga ARB Rp 50.. jelas tidak mendidik.  Harga ARB Rp 50 ini mendidik orang menjadi spekulator.  Harga ARB Rp 50 harus dihilangkan… harus diubah menjadi Rp 1, agar pemodal tidak menjadi spekulator.  Agar pemodal kita bisa menjadi investor atau trader yang lebih bertanggung jawab… lebih berkualitas.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.