Mencurangi Kekalahan, Mencurangi Kerugian…*

401

Selamat pagi..

Hidup itu adalah sebuah permainan dan senda gurau.  Dalam sebuah permainan, tentu saja ada menang dan ada kalah.  Beberapa permainan kemudian melibatkan adanya unsur uang.  Ketika permainan sudah melibatkan uang, maka yang terjadi bukan hanya menang dan kalah, tapi kemudian untung dan rugi.  Pihak yang menang, biasanya akan identik dengan pihak yang untung.  Pihak yang kalah akan identik dengan pihak yang rugi.

Karena menang itu untung, menang itu enak.  Karena kalah itu rugi, maka kalah itu tidak enak.  Tidak ada yang mau kalah karena kalah itu rugi.  Tidak ada yang mau rugi karena rugi itu tidak enak.  Rugi itu bisa berarti macam-macam.  Bisa berarti kehilangan uang, ini ketika pihak yang rugi diharuskan untuk membayar.  Bisa berarti kehilangan pekerjaan, jika pihak yang rugi kemudian dianggap berperforma buruk sehingga dia harus kehilangan pekerjaannya.

Mencurangi Kekalahan Melalui Autorejection Asimetris

Karena kalah identik dengan rugi, maka tidak ada yang mau kalah, tidak ada yang mau rugi.  Sedemikian besar rasa ‘tidak mau kalah’ ini, membuat orang kemudian membuat kondisi dimana ‘kalau saya kalah, maka kekalahannya hanya akan sedikit saja’ .  Di satu sisi, orang yang sama tetap berpendapat bahwa : ‘kalau menang harus tetap maksimal, sehingga kalau menang, keuntungannya dibuat sebesar mungkin’.

Itu yang terjadi ketika Bursa Efek Indonesia, atas persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menentapkan aturan mengenai Auto-rejection assimetris.

Begini:  ide awalnya adalah, bahwa  ‘perdagangan itu, harus berlangsung secara adil’.   Perdagangan harus berlangsung secara adil, karena jika terdapat kecurangan-kecurangan, maka bisa jadi minat orang untuk melakukan perdagangan menjadi berkurang.  Minat perdagangan berkurang, semakin berkurang, maka tidak ada perdagangan.  Tidak ada perdagangan berarti tidak ada perekonomian.  Tidak ada perekonomian berarti tidak ada orang yang makan.

Perdagangan harus berlangsung secara adil, berarti harga tidak bisa pergerak semau sendiri, harga tidak bisa bergerak dengan volatililtas yang terlalu lebar.  Volatilitas yang terlalu lebar itu memberikan resiko bagi pelaku pasar yang tidak memiliki informasi.   Karena sebagian besar orang yang bertransaksi sebenarnya tidak memiliki informasi, maka Bursa dan OJK, harus melindungi orang-orang ini dengan menetapkan volatilitas maksimal untuk pergerakan harga harian.  Gak lucu kan kalau harga saham pada suatu hari bisa naik 500 persen hingga  1000 persen, tapi pada saat yang bersamaan bisa turun sebesar 99 persen. BEI dan OJK harus menetapkan batas maksimal untuk volatilitas perdagangan harian.

Oh… maaf… sebelum kita melangkah lebih lanjut, sepertinya saya harus menjelaskan sedikit mengenai peran dari Bursa dan Otoritas Jasa Keuangan dalam ‘permainan’ yang disebut sebagai ‘Pasar Modal’.  Jika Pasar Modal kita anggap sebagai Permainan, maka sesuai dengan amanat UU Pasar Modal dan UU tentang Otoritas Jasa Keuangan,  maka tugas dari PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah selaku pelaksana perdagangan yang teratur, wajar, dan efisien.  Sedangkan OJK adalah pihak yang mengawasi agar perdagangan bisa berlangsung dengan teratur wajar, sekaligus untuk melindungi pemodal dan masyarakat.  Ibarat pertandingan sepak bola, BEI itu pelaksana pertandingan, sedangkan OJK adalah wasit, merangkap PSSInya (mohon koreksi saya jika saya salah mengenai hal ini).  Agar pertandingan bisa berlangsung dan enak untuk ditonton, BEI dan OJK harus bekerja sama.  Pemain juga harus bekerja sama.  Penonton juga harus bekerja sama.  Semua harus mentaati peraturan dan berperilaku sesuai dengan fungsinya, agar pertandingan enak untuk ditonton.

Karena perdagangan harus berlangsung secara adil, maka batas maksimal volatilitas perdagangan harian ini, haruslah setara.  Harga harus dibuat (seakan-akan) bisa memiliki probabilitas atau kans yang sama untuk bergerak naik, sama dengan probabilitas atau kans untuk pergerak turun.  Itu sebabnya, ketika BEI dan OJK menetapkan batas maksimal pergerakan harga dalam satu hari perdagangan, aturan yang disebut sebagai Batas Autorejection ini dibuat dalam besaran yang seimbang.  Harga bisa bergerak naik atau turun sebesar 20 persen hingga 35 persen.  Kalau bisa naik 20 persen, berarti bisa turun sebesar 20 persen juga.  Sama saja ketika batasnya sebesar 35 persen.

Kondisi ekonomi tidak selamanya normal.  Ada kalanya kondisi ekonomi menjadi buruk.  Ketika kondisi ekonomi menjadi buruk, harga akan bergerak turun.  Masalahnya sekarang: tidak semua orang menyukai harga yang bergerak turun, karena faktor yang sempat saya sebutkan di awal tulisan ini tadi: kalau harga turun, berarti ada yang rugi; kalau ada yang rugi, berarti ada yang kalah;  kalau ada yang rugi, berarti ada yang kehilangan pekerjaan; dan seterusnya, dan seterusnya.  Disitu kemudian, terjadi ‘pengaturan pertandingan’.  Pengaturan pertandingan ini, berupa peraturan Autorejection asimentris : Jika harga bergerak turun, maka penurunan hanya bisa sebesar 10 persen.  Akan tetapi, jika harga bergerak naik, maka kenaikan bisa sebesar 20 persen, atau bahkan 35 persen.

Baguskan? Sekarang, orang jadi ‘kalau rugi kecil, tapi kalau untung bisa lebih tinggi’.  Masalahnya: karena perdagangan itu harus adil, maka aturan perdagangan yang tidak adil seperti ini, bisa membuat pelaku pasar lari.  Kalau pelaku pasar lari, pasar modal sepi.  Kaau pasar modal sepi, ekonomi sepi.   Kalau ekonomi sepi, dst.. dst… dst.

Itu sebabnya, BEI dan (mungkin sebentar lagi) OJK, akan mengembalikan peraturan Autorejection yang sudah beberapa waktu ini menjadi asimetris (batas atas dan bawahnya berbeda), kembali menjadi simetris (batas bawah dan atasnya sama).

Autoreject bawah Rp 50 : Mencurangi Rugi Habis

Pasar modal itu adalah sebuah produk kapitalis.  Karena produk kapitalis, maka berlaku persaingan bebas.  Pemenang persaingan, akan memperoleh keuntungan, nilai saham yang naik tak terhingga. Pihak yang kalah dalam persaingan, akan mengalami kerugian kerugian, dimana kerugian ini bisa saja berujung pada kebangkrutan.  Perusahaan yang bangkrut, nilai sahamnya akan menjadi nol, atau mendekat pada level harga itu.

Indonesia sempat dilanda beberapa krisis ekonomi.  Krisis Moneter 1997/1998, Krisis 2008, dan banyak krisis yang lain yang skalanya lebih kecil.  Ketika krisis terjadi, harga saham berjatuhan.  Sebagian karena kinerja buruk yang membuat pemodal melepas sahamnya.  Sebagian karena pemegang sahamnya memang tahu bahwa perusahaannya adalah perusahaan kertas (yang sebenarnya sama sekali tidak ada harganya sama sekali) sejak awal sehingga mereka dengan sengaja menghancurkan harga sahamnya sendiri. Ketika ini terjadi, harga saham mentok ke  bawah, mencapai titik terendah.

Masalahnya begini: ketika krisis terjadi, BEI dan OJK kemudian menciptakan alat untuk melindungi pemodal retail (dan otomatis juga melindungi emiten) dari kerugian habis ini, dengan menciptakan Autoreject bawah, harga terendah perdagangan yang bisa dilakukan di pasar reguler, dimana saat ini, harga AR bawah ini di level harga Rp 50. Jika harga ini tercapai, maka pemodal hanya bisa pasrah, melakukan  posisi jual, berharap sahamnya bisa laku terjual di level harga itu.  Atau… pemodal melakukan jual beli saham di harga lebih kecil dari Rp 50, yang dilakukan di pasar negosiasi.

Awalnya, harga AR bawah Rp 50 ini kemudian menciptakan perusahaan Zombie.  Perusahaan Zombie ini adalah perusahaan yang hidup segan, mati tak mau.  Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, spekulator retail kemudian menciptakan permainan baru: beli di pasar negosiasi, jual di pasar reguler.  Contohnya begini: pemodal beli saham di pasar nego, di harga Rp 10 misalnya, dan kemudian melakukan pemasangan jual di pasar reguler, pada harga AR bawah Rp 50 itu tadi.  Kalau laku, maka berarti pemodal meraup keuntungan sebesar 400% dari modal awalnya.  Hebat bukan?

Pertanyaannya: emang ini mendidik? Apakah pemodal yang membeli kertas (karena perusahaan itu sebenarnya sudah hampir tidak ada nilainya atau malah minus nilainya) dan berharap harga laku di harga Rp 50 oleh faktor keberuntungan ini kemudian bisa digolongkan sebagai investasi? Tentu saja TIDAK.  BEI dan OJK harus mau melakukan ‘ pendidikan pasar modal yang benar’, dengan mengubah batas bawah AR menjadi Rp 1.  Penny stock, itu istilah bulenya.

Penny stocks ini akan membuat pemodal semakin sadar akan resiko melakukan perdagangan di pasar modal.  Dengan menurunkan batas bawah menjadi Rp 1, BEI dan OJK akan mendorong pemodal untuk mencari pendidikan yang benar akan berinvestasi atau trading.  Tidak kemudian hanya berspekulasi atas sesuatu yang tidak jelas.

Mencurangi Kekalahan melalui Pengaturan Permainan

Prestasi sepak bola Indonesia memang hancur-hancuran.  Salah satu yang dikatakan sebagai penyebabnya, adalah pengaturan skor sepak bola.  Sulit untuk bisa membuktikan hal ini.  Akan tetapi, saya yang dulu adalah penggemar dari Niac Mitra dan Persebaya, sudah berhenti mengikuti perkembangan sepak bola di tanah air sejak ‘pertandingan sepak bola memiliki kemungkinan besar dimenangkan oleh tuan rumah dengan gol penalti’.  Ketika sebagian besar kemenangan diperoleh oleh ‘tuan rumah’ dengan ‘gol penalti’.  Pertandingan menjadi tidak menarik lagi, penonton pergi.

Bukan orang Indonesia kalau tidak ‘berusaha memenangkan pertandingan dengan mengatur hasil akhir’.  Orang Indonesia itu sedemikian sukanya atas kemenangan, sehingga ‘mengatur hasil akhir’, sering kali di anggap sebagai hal yang wajar atau bahkan wajib untuk dilakukan.  Apakah ada ‘pengaturan hasil akhir’ ini di Pasar Modal? Oh.. itu pasti tidak ada.  Saya yakin tidak ada.  Toh sampai sekarang tidak ada pihak yang terbukti bersalah melakukan ‘pengaturan skor’ seperti ini.

Meski, hati kecil saya sering kali tergelitik: itu… saham-saham BUMN … Price to Earning Ratio (PER) sudah pada beterbangan naik tinggi hingga dua tiga kali diatas PER IHSG, bahkan sudah ada satu dua yang memiliki Price to Earning Ratio lebih tinggi jika dibandingkan harga sahamnya.  Apakah pada saham seperti itu tidak ada ‘pengaturan pertandingan’?

BUMN itu adalah last resort dari kepercayaan investor di Pasar Modal Indonesia.  Ketika Menteri BUMN kemudian memasukkan orang-orang ‘yang tidak ada hubungan dengan perseroan ataupun kinerjanya’ ke dalam jajaran komisaris… apakah kemudian ‘pengaturan hasil pertandingan’ harus kita terima sebagai hal yang wajar?

Haruskah Kemenangan Mengalahkan Segaalanya?

Dalam hidup, kalah menang itu, sebenarnya hal yang biasa.  Karena kalah itu tidak enak, maka semua orang akan berusaha untuk menang.  Akan tetapi, pertanyaan selanjutnya adalah : kemenangan seperti apakah yang kemudian kita cari? Apakah kemenangan mutlak? Apakah Selalu menang? Apakah kemenangan yang mempermalukan pihak yang kalah? Ataukah cukup dengan ‘lebih sering menang’ jika dibandingkan kalah? Atau kalah menang tidak penting yang penting hasil akhirnya adalah untung?

Belakangan, ada pihak di pasar modal ditengarai sebagai pihak yang ‘selalu kepingin menang’.  Karena keinginan untuk menangnya sedemikian besar, maka pihak ini kemudian tidak memperdulikan nasib dari pihak yang lain.  Harga saham diangkat naik sedemikian tinggi, bahkan hingga Price To Earning Ratio dari saham tersebut melebihi dari harga sahamnya.

Saya hanya bisa mengelus dada.

Saya hanya ingin mengingatkan anda para Investor di Pasar Modal Indonesia:  Di Pasar Modal Indonesia, tidak ada yang bisa melindungi anda kecuali diri kita sendiri.  Kalau dulu, di UU Pasar Modal No 8 tahun 1995 masih ada Bapepam yang berfungsi untuk ‘melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat’ (meski pada prakteknya tetap saja lebih berat pada pemodalnya, bukan pada masyarakatnya), tapi pada UU No 21 tahun 2011 tentang OJK, yang ada hanyalah pernyataan mengenai ‘perlindungan konsumen’, dimana beberapa saat yang lalu muncul penafsiran bahwa Konsumen dari Pasar Modal itu adalah Emiten.

Lantas… Pemodal itu apa? Korban dari Pasar Modal?

Happy trading… Semoga barokah!!!

Satrio Utomo

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.