Mimpi Ketemu Bu Risma…*

0 36

Selamat pagi…

Hare gene …. katanya … pemimpin itu harus bisa marah-marah.  Membenahi masalah yang ada, itu tidak cukup hanya berteori, membuat wacana, rencana, program, tapi juga harus bisa mengeksekusi.  Berani turun langsung ke bawah, eksekusi program, mengawasi langsung pelaksanaan sehingga bisa mengatasi.

Maklum… pemimpin yang cuman bisa bikin program dan tapi gak bisa eksekusi, itu bukan pemimpin.  Sebagai contoh: Fauzy Bowo yang bikin program Jakarta Emergency Dregding Initiative (JEDI), itu bukan pemimpin. Jokowi yang melaksanakan, itu juga bukan pemimpin.  Jokowi kan sudah bukan Gubernur DKI… jadi gak ngaruh.  Jokowi bukan pemimpin.  Pemimpin itu adalah Basuki Tjahaya Purnama selaku pelaksana program.  Berada di puncak pimpinan ketika hasil kali di Jakarta menjadi bersih. Kalau perlu, yang bilang Ahok bukan inisiator, itu harus dibully.  Terserah orang mau bilang apa…  pokoke: Ahok adalah Pemimpin.

Tapi … saya disini gak mau bahas Ahok.  Nanti dikira kampanye.  Saya mau bahas marah-marah yang lain… marah-marahnya Ibu Risma, Walikota Surabaya yang pernah beredar beberapa waktu yang lalu.  Sudah nonton edisi lengkapnya belum?

Bisa dilihat di Youtube pada link berikut ini.



Marah-marah dari seorang pemimpin ini, menjadi sangat penting.  Sosok dari pemimpin bisa marah-marah ini… beberapa waktu yang lalu sempat beredar, dalam bentuk reportase KompasTV atas kegiatan Ibu Risma, yang saat itu sempat digadang-gadang sebagai calon kuat Gubernur DKI.   Meski, usaha penyingkiran Risma sebagai Walikota Surabaya ini, akhirnya berhasil digagalkan oleh Basuki Tjahaja Purnama dengan menyetujui maju sebagai calon dari PDIP dalam Pilkada DKI. Ahok adalah pahlawan.  Saya sampai nonton video Risma tersebut bolak-balik di Youtube.  Sampai terekam benar di kepala saya.

Saya kemudian melamun. Memandang lepas pemandangan Kota Bandung dari arah Punclut.  Tenang, mendung, berkabut.  Kepenatan saya setelah hari Jumat menghadiri acara Ulang Tahun Kontan, Sabtu kemarin mengikuti Pelatihan Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM), berkendara malam sampai Lembang jam 2 malam, semua seakan sirna disiram oleh hujan rintik di sore hari ini.

Tiba-tiba… datang Ibu Risma menepuk bahu saya.
Ibu Risma (Risma) : Coba Mas Tommy pikirkan: pasar modal kita… itu sudah lama nggak maju-maju. Jumlah pemodalnya sulit melewati angka 1 juta penduduk. Sampai jungkir balik juga BEI baru bisa dapet 500.000 hingga minggu kemarin.
Satrio Utomo (SU): Loh? Bu Risma.. kok bisa disini? Ngapain juga kok sekarang ngurusin pasar modal?
Risma: Saya itu pejabat OJK. Komisioner. Pak Muliaman itu teman saya. Pak Tommy harus dengar apa kata saya.

Lalu… suasana Punclut tadi hilang.. diganti suasana di salah satu pojok di Bursa Efek Indonesia. Gak tau.. ini banyak banget orang yang mau buka rekening saham, mungkin karena program tax amnesti. Ibu Risma kembali menepuk pundak saya.

Risma: Pak Tommy… ini opening account.. kira-kira prosesnya berapa lama



SU: Kalau cepet.. bisa 5-7 hari Bu.. kalau nasabahnya seenaknya.. bisa 2-3 minggu. Formulir Opening Account kan harus bolak-balik dari nasabah ke sekuritas sampai lengkap. Kalau nasabah ngisinya lewat formulir online, itu bisa beberapa kali kirim bolak balik sehingga butuh setidaknya seminggu.  Lantas form dikirim ke Bank untuk buka Rekening Dana Nasabah. Itu butuh minimal 3 hari kerja. Setelah itu proses ke KSEI untuk pembukaan rekening efek.  Paling cepet butuh waktu 2 minggu.
Risma: Haaaah? Bagaimana bisa selama itu? Kalau lama gitu.. kan pemodalnya bisa batal buka rekening.  Dalam dua minggu, harga saham juga bisa kemana-mana? Coba Mas Tommy bayangkan: itu ada orang mau invest di saham.. terus datang ke Mas Tommy.. buka akun.. harga masih rendah.  Ketika akun sudah jadi.. harga sudah tinggi.  Dia beli, terus nyangkut. Rugi kan? Iya kalau dia diam saja.  Kalau terus kemudian menuntut Mas Tommy.. menuntut perusahaan sekuritas. Apa nggak tutup semua itu perusahaan sekuritasnya?
SU: nggak tau Bu. Yang lama kan di Banknya.  Kalau Banknya yang lama karena setiap orang diperlakukan sebagai nasabah baru. Apa terus itu jadi salah saya?

Risma: Pak Tommy.. haduh.. orang nyangkut itu gak enak… gak bahagia.  Dosa pak Tommy… kalau bikin orang tidak bahagia itu.  Terutama kalau yang nyangkut adalah pemodal pemula yang duitnya mepet. Maunya duit berkembang, tapi yang didapat malah stress.  Mas Tommy gak takut Dosa?

Risma: Belum lagi.. kalau tenaga marketing dari sekuritas itu.. ternyata adalah tenaga marketing lepas atau remaiser yang tidak mendapat gaji tetap dari perusahaan sekuritas.  Kalau nasabah ternyata gagal didapat, investor gagal bertransaksi.  Mau dikasih makan apa keluarganya, anak istrinya, yang menunggu dirumah itu? Tolong PIKIRKAN ITU!!!

Risma: Orang-orang seperti Pak Tommy ini ada agar pasar modal kita menjadi lebih maju, investor berdatangan, Pemerintah tidak kesulitan kalau mau cari Dana Pembangunan. Lha kok ini.. dijaman internet seperti ini.. buka akun saja butuh 2-3 minggu?  Ini Birokrat banget!!! Untuk apa itu data elektronik? Untuk apa itu internet? Untuk apa system yang dibangun ratusan miliar.. trilyunan.. kalau mau jadi investor masih lama seperti ini?

Risma: Pak Tommy jangan menciptakan orang-orang yang nyangkut, yang benci pasar modal.   Jadi tolong, jangan merasa dirinya paling bisa, paling hebat, paling pinter.  Akhirnya orang lain yang rugi karena Pak Tommy sok pinter, sok kuasa. Kalau masalahnya di Bank, kan lembaga saya juga yang ngatur Bank.  Kalau masalahnya di KSEI… lha itu kan SRO juga.  Mosok gak bisa dibenerin? Sudah berapa lama ini terjadi?
SU: sudah bertahun tahun Bu…

Risma: Haaaah?  Konyol ini! KONYOL POL!!! Masa di jaman online begini mau jadi investor aja butuh 2-3 minggu? Saya gak mau tahu.. pokoknya Pak Tommy harus perbaiki. Kalau tidak… nanti Pak Tommy saya kirim ke Timor Timur.. atau ke Kutub Utara sekalian!!! Saya ndak mau hal seperti ini berlanjut lagi.

Tiba-tiba.. ada suara istri saya: mas.. mas… bangun dong.. itu Mas Harris dari Kontan telpon. Katanya mau tulisannya ditunggu. Sudah deadline ini.  Kamu bikin tulisan Wake Up Call kok malah tidur. Anaknya harus dianter balik ke Nurul Fikri ini, balik ke boarding school kalau nggak mau dihukum. Ayo Mas… Bangun!!

Weleh… ternyata hanya mimpi toh… Hadeh… untung bukan realita. Bisa hancur hidup saya kalau dimarahi pejabat OJK seperti itu.  Eh.. tapi… Ibu Risma kan bukan pejabat OJK kan ya?

Happy Trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.