#ke2janyata : Indonesia yang Marah! … eh.. Ramah!

0 4

Selamat pagi…

Indonesia itu negeri yang indah.  Negeri seribu pulau. Tuhan seakan menghamparkan ribuan pulau di sekitar garis katulistiwa, di dalam suasana iklim tropis.  Tidak seperti Philipina dan Hong Kong yang langganan kena taifun, Tuhan juga melindungi Indonesia dari angin yang jahat ini.  Meski, tetap saja Tuhan meletakkan Indonesia ditengah sabuk api aktif, yang rawan gempa dan rawan letusan gunung berapi.

Indonesia juga terkenal memiliki penduduk yang ramah.  Senyum Indonesia… sudah lama menjadi pelengkap dari keindahan dan kekayaan alam yang dimilikinya.  Menjadi daya tarik bagi siapa saja, baik turis, investor, bahkan berbagai bangsa yang menjajah Indonesia selama beratus tahun yang lalu.  Smiling General … bahkan menjadi penguasa selama lebih dari 32 tahun.

Lalu… Reformasi 1998 terjadi.  Eh… kejuhan ya?  Lalu… Pilkada 2014 berlangsung.  Pada Pilkada 2014 kemarin, kekuatan yang bertarung adalah kekuatan ‘lama’ …. melawan kekuatan ‘baru’.  Saya gak mau berbicara mengenai ‘kekuatan lama’ ini karena kalau anda orang lama di pasar modal, pasti sudah tahu.  ‘Kekuatan baru’ ini… adalah kekuatan yang mendukung pembangunan infrastruktur, melakukan pembangunan ekonomi yang berbasis kerakyatan, memangkas subsidi, dan lain sebagainya.  Karena ekonomi baru ini dinilai lebih rasional, maka pasar modal mendukung ekonomi baru ini.  Kalau kekuatan baru terlihat sedang diatas angin… harga saham dan IHSG bergerak naik, kalau kekuatan lama terlihat sedang diatas angin… harga saham dan IHSG bergerak turun.    Kekuatan baru ini kemudian memenangkan pertarungan.  Ketika itu, pada saat Jokowi dilantik menjadi Presiden, ditanggal 20 Oktober 2016, IHSG ditutup pada level 5.040,53.  Setelah itu… apakah kemudian IHSG bergerak naik???

Kemarin… ditanggal 20 Oktober 2016 … 2 tahun setelah Jokowi diangkat menjadi Presiden.. IHSG akhirnya mengakhiri pergerakan pada level 5.403,69.  Sekilas memang bisa dilihat, bahwa dalam 2 tahun masa pemerintahan Jokowi, IHSG bisa bergerak naik sebesar 363,16 poin.  Itu setara dengan kenaikan sebesar 7,2 persen.  Bagus?

Kalau sekedar dilihat kenaikannya saja, yang sebesar 7,2 persen, semua memang terlihat bagus.  Akan tetapi… kalau melihat volatiltasnya bahwa IHSG sempat mencapai titik terendah di level 4.033,59 … sempat terkoreksi 19.97 persen… sebelum kembali bergerak naik, rasa-rasanya masih banyak kekurangan yang seharusnya bisa diperbaiki.  Ada beberapa hal yang menjadi sorotan kami selama 2 tahun terakhir ini.

Pertama: Komunikasi Kebijakan Yang Buruk

Arus informasi, itu saat ini bisa mengalir sedemikian cepatnya.  Perkebangan internet, perkembangan sosial media, perkembangan masyarakat yang melek informasi dunia maya sudah berlangsung sedemikian hebatnya.  Tidak seperti dulu ketika TVRI hanya menjadi satu-satunya saluran informasi tercepat dan terpercaya di seluruh bentang Indonesia, saat ini orang di seluruh Indonesia memiliki kecepatan yang sama dalam mengakses informasi, selama dia memiliki akses internet tentu saja.  Sebuah berita gak penting yang nongol di media sosial, bisa memiliki impact yang besar secara nasional, tentu saja ketika berita itu di blow up dengan benar.  Terlebih lagi dengan tingkat pendidikan masyarakat yang tidak merata.  Berita apapun, kalau di ‘spin’ atau ‘diolah’ sedikit saja, pengaruhnya bisa sedemikian besar.  Masalahnya: Pemerintaan Jokowi masih belum juga mau sadar bahwa cara komunikasi yang baik, atau ‘tepatnya’ informasi yang diberikan, sudah menjadi hal yang penting.   Buktinya : masih sering harga saham harus jatuh, turun sedemikian dalam, cuman karena ada Pejabat Negara, Menteri, atau bahkan Jokowi sendiri, yang mengeluarkan pernyataan tanpa mau mereka-reka, bagaimana reaksi masyarakat (pasar) terhadap informasi tersebut.  Seperti terakhir kemarin: harga nickel dunia yang sampai sempat jatuh, ketika PJS (pejabat sementara) Menteri ESDM memberikan pernyataan yang tidak jelas mengenai ekspor komoditas petambangan dalam bentuk konsentrat.  Apa ndak masyarakatnya bisa gila kalau terus menerus diteror seperti itu?

Kedua : Masalah Perencanaan dan Pengelolaan Anggaran yang Buruk

Eh… sorry… tapi sepertinya masalah ini sudah tidak relevan lagi.  Masalah ini sebenarnya sudah bisa dianggap selesai, ketika Ibu Sri Mulyani kemarin diangkat menjadi Menteri Keuangan.  Problem memang masih ada: untuk mengembalikan anggaran (baca APBN) ke level yang lebih realistis, ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.  Terlebih lagi, masih banyak pengamat ekonomi (dan kadang juga wartawan), yang ‘gagal move on’.  Mereka ini dengan santainya bilang : oh… itu Pemerintah pencapaianya jelek… target bakal gagal dipenuhi … bla-bla-blla … bla-bla-bla. Loh… kok kaya gak mikir : itu target yang setting bukan Ibu Sri Mulyani… dan targetnya juga sudah jelas tidak realistis.  Kok Ibu Sri Mulyani yang disuruh kejar? Gendeng apa?

Ketiga : Masalah Indonesia yang Marah-Marah

Saya itu bukan ahli ekonomi.  Akan tetapi, saya sering merasa bahwa IHSG itu bisa naik kencang kalau ekonomi kita sedang menuju ke arah yang lebih baik.  IHSG bisa naik lebih kencang kalau rakyat merasa bahwa kondisi keamanan terlihat kondusif.  Kalau negara aman … ekonomi melenggang.  Negara aman, rakyat menjadi lebih nyaman dalam melakukan kegiatan ekonomi.  Pertumbuhan ekonomi berlangsung stabil, ditengah kondisi politik yang kondusif.  Bisa enak gitu loh.

Masalahnya: setelah Pilpres 2014 kemarin berlalu, caci-maki, umpatan, penyebar kebencian, masih terus berlangsung.  Di satu sisi, mereka yang ‘gagal move on’ … gagal menerima kekalahan dari calonnya dalam Pilpres 2014 kemarin … terlihat masih terus berusaha untuk bertarung, mencoba hidup di alam impian yang mereka buat.  Disisi lain, teori ‘bahwa korban akan menjadi pemenang’ yang berhasil digunakan oleh seorang Susilo Bambang Yudhoyono untuk memenangkan Pemilihan Presiden 2004, masih terus dipakai oleh sebagian pihak.  Mereka ini, berusaha untuk misuhi dirinya sendiri, kemudian melakukan pembelaan: Oh… saya terinjak.. oh… saya teraniaya …  mari dukung perjuangan saya karena saya teraniaya.  Eh padahal… mereka sendiri yang memancing-mancing… membuat pertarungan dimedan dimana mereka biasanya terinjak… tapi ketika diinjak… mereka yang teriak paling keras.  Cuman… ini juga masih terus diperkeruh dengan aksi dari sebagian orang yang ‘bersumbu pendek’.  Gampang pamer kekuatan… menghimpun aksi masa besar besaran.  Mau sampai kapan kita terus gaduh dan marah-marah seperti ini?  Sampai Indonesia terpecah belah oleh perang saudara?

Pemerintah perlu tegas  dalam menghadapi hal ini.

Outlook Pasar Modal 2017 : Masih sulit untuk Optimis

Kita sudah memasuki akhir dari bulan Oktober.  Sebentar lagi sudah bulan November.  Dibulan November ini, orang pasar modal biasanya sudah mulai ngomong tentang outlook tahun depan… dalam hal ini Outlook Pasar Modal untuk tahun 2017.

Outlook IHSG 2017 secara teknikal? Jelas bagus.  Target teknikal saya untuk IHSG tahun depan, sudah mulai diatas level psikologis 6.000.

Masalahnya: saya masih belum bisa menemukan alasan yang masuk akal bagi IHSG untuk bisa mencapai level tersebut.  Outlook IHSG secara fundamental, masih tetap belum jelas.  Mau dari faktor kinerja emiten? Publikasi kinerja 3Q2016 masih baru saja dimulai.  Dengan hanya BBNI dan BJBR yang melaporkan kinerja (dengan hasil yang biasa-biasa saja), sulit bagi saya untuk bisa melihat gambaran dari kinerja emiten untuk 3Q2016.  Dari variabel ekonomi? Variabel ekonomi 2 bulan terakhir terlihat cenderung memburuk.  Semua orang ngomongnya optimis.  Tapi… beberapa variabel ekonomi seperti indeks kepercayaan konsumen, terlihat terus bergerak turun.  Yang bisa bikin saya optimis hanya karena ‘Faktor Sri Mulyani’.  Akan tetapi … apakah ‘Faktor Sri Mulyani’ saja semua terus menjadi cukup?  Terlebih lagi… karena ada ‘pemain songong’ yang terus membuat harga saham-saham BUMN lapis kedua, bergerak liar dengan PER yang tidak masuk akal.  Mau masuk jebakan Batman?

So…  menatap tahun depan .. saya masih galau.  Naik sih iya… tapi gak jelas.  Mana ‘Indonesia Marah-Marah’ ini… sepertinya masih akan berlangsung hingga awal tahun depan, ketika kontes Pilkada 2017 sedang diselenggarakan.  Saya jadi merindukan Indonesia yang marah ramah.  Indonesia yang tersenyum dengan marah ramah.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.