Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Ketika ‘Strategi Defensif’ menjadi pilihan…

136

Sore itu, seorang Account Officer Trainee dari sebuah sekuritas yang tidak terlalu besar di Surabaya, tengah kebingungan di sebuah warung kaki lima.  Setelah melakukan cut loss atas posisi nasabahnya pada saham INKP, TKIM, BMRA, dan DGSA dengan kerugian sekitar Rp 2,5 miliar, ternyata ia tidak memiliki uang untuk membayar sepiring nasi soto, teh manis, dan rokok eceran, seharga Rp 5000 yang telah dibelinya.  (bukan karena tidak ada uang sih sebenarnya, tapi karena memang dompetnya tertinggal di kantor).  Tapi kondisinya memang sangat kontradiktif.  Setelah mengeluarkan uang (yang dalam pengawasannya) dengan kerugian Rp 2,5 miliar, tapi tidak punya uang Rp5000 untuk membayar sebuah pengeluaran kecil.  Kerugian itu, jika dibandingkan dengan gaji pertama sebesar  Rp 200.000 (dua ratus ribu) perbulan yang sempat diterimanya dua tahun sebelumnya, ketika diterima sebagai Account Officer Trainee, benar-benar tidak sebanding.  Tidak terbayang rasanya bagaimana sulitnya jika harus mencari keuntungan pengganti bagi uang sebanyak itu yang telah hilang ditelan ganasnya pasar.

Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan dari broker saham tersebut pada saat itu.  Bingung, marah, kalah, dan putus asa, mungkin hanyalah sebagian kecil perasaan yang bisa diungkapkan.

Tidak!!!  Kejadian seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi! Kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali! Kurang ilmu, kurang pengalaman, kurang awas, kurang waspada, ceroboh, dan tidak berpengalaman. Kejadian seperti itu, seharusnya tidak boleh terulang.  Atau setidaknya, tidak boleh terjadi dengan begitu mudahnya.

Dengan tekad seperti itu, saya, kemudian belajar, belajar, dan belajar.  Belajar untuk memprediksi pada awalnya, mencari kesempurnaan dalam memprediksi.  Tapi setelah sadar bahwa trading memerlukan lebih dari sekedar prediksi yang prima, saya kemudian ‘banting setir’.  Mencari bagaimana cara untuk melakukan trading yang relatif sederhana dan aman adalah tujuan berikutnya.  Sederhana dalam artian alat analisisnya juga bukan alat analisis yang membuat orang pusing tujuh keliling.  Aman dalam artian ide tradingnya tidak hanya memikirkan strategi ofensif (stock-pick dan timing), tapi juga stretegi defensif (bagaimana menentukan strategi ketika harga ternyata bergerak turun, atau setidaknya ketika harga bergerak tidak seperti yang diprediksikan).

Saya bukanlah seorang trader yang berhasil melipatgandakan uang dalam waktu singkat.  Saya juga bukan seorang fund manager besar dengan rebate yang melimpah.  Saya bukanlah seorang selebritis pasar modal yang untuk kenal dengan saya saja, anda harus mengeluarkan sejumlah uang.  Sebagai seorang trader, prestasi saya cenderung biasa-biasa saja.  Saya masih cenderung tidak disiplin untuk melakukan buyback ketika harga bergerak turun.  Itu membuat saya sering terperangkap (malah nggak punya barang) ketika harga bergerak naik.  Saya hanya seseorang yang terus berusaha sekeras mungkin agar investasi dan trading yang saya (atau mungkin juga ‘kita’) lakukan bisa berlangsung dengan amanAman karena:

  • Trading hanya dilakukan pada saham-saham yang murni penggeraknya adalah pasar.  Pasar murni.  Bukan pasar artifisial yang diciptakan oleh sekelompok orang.
  • Trading yang searah dengan IHSG.  Tidak pada saham-saham yang pergerakannya bikin kita masuk angin.  IHSG naik, harga saham turun, IHSG turun, harga saham naik.  Terus berulang-ulang.. akhirnya diam.  Mati (harga tidak bergerak dan volumenya kering).
  • Trading pada saham-saham yang fundamentalnya jelas.  Yang kalau misalnya kita bosan.. kita tinggal taruh.  Dengan harapan jika pada suatu hari market kembali kondusif, saham-saham tersebut adalah saham-saham yang paling cepat rebound.
  • Trading dengan terencana, dimana setiap posisi beli didampingi oleh dua posisi jual.  Jual ketika untung, dan jual ketika rugi.  Kalau untung jelas, kalau rugi terbatas.
  • Trading dengan happy.  Ketika trend naik, ada posisi, posisi beli simpan, nahan posisi selama mungkin; tapi ketika trend harga berubah menjadi turun, posisi berubah menjadi posisi trading, posisi minim atau bahkan 100% cash.  Trading dengan stress yang lebih kecil.

Trading saham itu, memang tidak hanya mengejar keuntungan, kerugiannya juga harus terkendali.  Prediksi pergerakan harga itu tidak seharusnya canggih, sulit dicerna, susah dilakukan, dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja.  Trading itu juga tidak seharusnya hanya sekedar beli jual, sekedar untung-untungan, dan tanpa landasan yang kuat dan jelas.  Orang yang ingin berspekulasi dengan membeli saham, harus memiliki strategi yang jelas agar keuntungan yang diperoleh ketika market bullish, tidak hilang begitu saja ketika market bearish.  Keuntungan yang didapat, adalah karena trader tersebut bisa trading dengan benar.  Bukan karena pasar secara keseluruhan memang sedang bullish.  Bukan karena trader tersebut sedang beruntung.

Untuk itulah sebenarnya saya kemudian memulai weblog ini.  Untuk mengkampanyekan trading yang dibuat berdasarkan rencana trading (trading plan) yang jelas.  Seperti apa trading plan yang jelas itu? Hehehe… saya juga mau terus terang nih.. weblog ini sebenarnya ada karena saya proses penulisan buku yang tengah saya lakukan mengenai trading plan tengah agak ‘mandeg’ (berhenti).  Saya sih berharap agar buku tersebut bisa selesai.  Tapi mengenai hal itu, InsyaAllah deh.. kita lihat aja nanti.

So… sebulan setelah munculnya weblog ini.  Setelah 10.000 click yang anda lakukan… Saya rasa sudah saatnya saya menjelaskan ‘posisi’ saya yang sebenarnya.  Tujuan dari Weblog ini, nantinya memang akan membantu saya, anda, atau siapapun juga yang ingin melakukan trading dengan lebih bertanggung jawab.  Tidak sekedar hanya mengejar untung, tapi hidup lebih tenang ketika market bearish.  Market update (dalam bentuk tulisan-tulisan pada weblog ini).. InsyaAlloh masih akan berlanjut karena beberapa teman saya masih membutuhkan update saya melalui saluran ini.   Apakah saya akan memberikan Workshop/Training? hehehe.. sudah banyak yang menanyakan, tapi pikiran saya belum sampai kesitu.  Fokus pikiran saya memang saat ini masih ke buku saya.  Saya ingin menyelesaikannya secepat mungkin.

Ketika trading tidak sekedar beli dan jual.  Ketika kemenangan tidak selamanya ditentukan dari strategi ofensif.  Ketika strategi defensif menjadi perhitungan anda dalam melakukan trading, maka www.rencanatrading.com akan berusaha menjadi teman yang baik bagi anda dalam melakukan entry dan exit dalam perdagangan saham yang anda lakukan di Bursa Saham Indonesia.  Baik ketika Bull Market, maupun (terutama) dalam Bear Market.

Terakhir.. jangan lupa:

Happy trading… Semoga untung!!!

Perencana Trading

6 Comments
  1. Andres Lee says

    Dear Perencana Trading,

    Terima kasih atas postingannya yg sangat membantu dalam melakukan trading. Terus posting pak….

    Mengenai Buku yang akan bapak terbitkan, saya ada solusi atau usul dalam bnetuk digital paper.. Mungkin bapak tertarik utk melihatnya diwebsite kami.. Terima kasih…

  2. cynthia says

    wuaaahhh…ulasan dan analogi ttg bagaimana seorang sales membaca marketnya cantik sekali ……. iya tuch, dengan segala tools, pengetahuan dan kecanggihan media yg ada, sifat manusiawi dari setiap individunya masih tetap akan menjadi basic dan kontrol dalam melakukan setiap kegiatan yg berkaitan dg transaksi. Disiplin, tidak greedy serta kontrol emosi -ketika sedang didepan screen- yang terkendali dan dilakukan secara konsisten bisa jadi bagian kehidupan sales, or fund manager or investor…..happy hunting guys, have a lovely monday

  3. sugi says

    wah, itu pengalaman pribadi pak??
    pengalaman memang berharga ya…
    keep posting pak, saya siap belajar disini..

  4. Priono Poerwanto says

    Saya juga siap u belajar dr buku yang akan diterbitkan. So, saya tunggu jangan lama2….

    1. Perencana Trading says

      terima kasih atas suportnya Bung..

  5. […] anda sudah membaca tulisan saya sebelumnya anda mungkin sudah mengkira-kira jawabannya. Saya memang mendapat pengalaman buruk pada masa-masa […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.