Saham, IHSG, Reksadana, Indonesia, Trading, Investasi, Training, Strategy

Mendadak Investor…*

119

Mendengar judul tulisan ini.. anda tentu sudah terbayang film ‘Mendadak Dangdut’ yang dibintangi Titi Kamal.  Film ini berkisah tentang petualangan penyanyi alternative rock bernama Petris (Titi Kamal) yang karena suatu kejadian, tiba-tiba berganti karir menjadi penyanyi dangdut.

Kalau di kalangan pemodal saham.. kata-kata ‘mendadak’ ini sebenarnya juga beken.  Tapi bukan ‘mendadak dangdut’… tapi ‘mendadak Investor’.  Apakah sebenarnya ‘mendadak investor’ ini?

Mendadak Investor atau investor dadakan adalah seorang pemodal saham, yang rencana awalnya dalam membeli saham adalah untuk melakukan trading, tapi pada akhirnya .. karena posisinya nyangkut (bahasa kerennya underwater), maka dia memutuskan untuk mengubah posisi tradingnya tadi.. menjadi posisi investasi. Ah.. saham kan investasi jangka panjang.. nanti kan kembali ke modal lagi.. begitu pikirnya.

Jika anda melakukan ini… berikut adalah sedikit pertanyaan yang harus anda jawab:

1.  Apakah saham yang anda beli.. berasal dari emiten yang memiliki fundamental yang jelas?

2.  Apakah saham yang anda beli.. emitennya benar-benar berbisnis dibidang itu? Dalam artian: laba perusahaan, berasal dari operasional perusahaan, bukan dari keuntungan tak terduga, seperti misalnya: keuntungan dari jual asset, jual anak perusahaan, keuntungan kurs, dll.

3.  Apakah saham yang anda beli… berasal dari emiten yang memiliki bisnis yang tetap? Tidak berubah-ubah dengan membeli (atau bahkan memperjual belikan) perusahaan yang diluar core business dari perusahaan?

4.  Apakah saham yang anda beli… emitennya memiliki pengelolaan cash flow yang bagus sehingga tidak pernah melakukan right issue setidaknya dalam 3 – 5 tahun terakhir?

5.  Apakah saham yang anda beli… berasal dari grup perusahaan.. yang memiliki niatan yang baik terhadap para ‘pemegang saham retail’-nya?

Jika anda adalah seorang mendadak investor, dan jika satu saja dari pertanyaan itu jawabannya ‘tidak’.  Maka.. anda harus segera bersiap untuk menjalani hukuman ketika nanti market bergerak bearish.

Meskipun demikian, haree geenee (di tahun 2010 ini), menjadi seorang mendadak investor hukumannya tidaklah berat.  Maklum, pengalaman dari banyaknya trader yang 100% habis ketika market crash 2008, membuat transaksi dengan menggunakan margin, tidak begitu digemari.  Kebanyakan trader masih menggunakan 100% modal sendiri.  Sehingga kalau market ternyata crash, tidak ada trader yang kemudian gulung tikar, sampai harus disita asset-asset tetapnya (rumah, mobil, tanah, dsb).

Akan tetapi, hukuman bagi para investor dadakan ini, tetap saja berat.  Jika ‘volume perdagangan’ ternyata meninggalkan saham tersebut karena tujuan mereka untuk mengeruk dana pasar modal dari saham tersebut sudah berhasil,  apakah harga saham itu kemudian bisa kembali bergerak naik?  Anda lihat deh.. untuk saat ini, sudah banyak harga saham yang kembali (bahkan sudah diatas) level tertinggi di Januari 2008.  Akan tetapi.. banyak juga kan yang masih belum kembali, meski hanya 50% dari harga semula?

Saya adalah trader.  Tujuan saya dalam melakukan beli-jual saham adalah memperoleh keuntungan.  Jadi.. saya ya disiplin.  Beli ketika harga mau bergerak naik.. jual ketika harga akan bergerak turun.. dan ini.. berarti saya cenderung holding cash.. jika harga terlihat akan bergerak turun.  Dan saya hanya melakukan posisi simpan, jika harga cenderung akan bergerak naik.

Semoga saja anda juga begitu.

Happy trading… semoga untung!!!

Perencana Trading

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Leave A Reply

Your email address will not be published.